
Barra menatap langit-langit usang kamar penginapan yang dia tempati sekarang. Dia pikirkan lagi bagaimana hidupnya bisa melenceng jauh dari harapannya. Hidup yang tadinya tentram dan bahagia meski belum sempurna, berubah menjadi hancur berantakan karena ketidakdewasaannya.
Benar yang dikatakan Rania dulu, ini hidupnya, rumah tangganya, seharusnya dia tidak membiarkan orang lain ikut campur di dalamnya, termasuk ibunya.
Barra melamun memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tidak mungkin dia datang ke rumah Malik dan Rania untuk meminta maaf. Malik pasti tidak akan memaafkannya. Tapi dia juga tidak bisa berlama-lama sembunyi seperti ini.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Barra.
Untuk sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia tidak berani menghidupkan ponselnya karena pasti semua orang sedang mencarinya. Dia ingin meminjam telepon penginapan untuk menghubungi ibunya, tapi dia urungkan. Mana mungkin dia keluar dari kamar hanya dengan melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya. Sementara tubuh bagian atasnya yang penuh luka lebam tidak tertutup apapun karena pakaiannya dia cuci tadi.
Barra hanya bisa pasrah. Bahkan untuk sekedar mencari makan saja dia tidak bisa sekarang.
* * *
Di kediaman Barra...
Hanna meraih handphone-nya yang sejak tadi berdering tanpa henti.
"Siapa sih? Nggak tau apa orang lagi sibuk ngurus bayi!" gerutu Hanna. "Mbak Imah, jaga anakku!" Hanna menyerahkan bayinya kepada Imah.
"Halo ..."
"Kamu tahu dimana suamimu?" tanya Affandi dari ujung telepon.
"Dia bilang ada tugas ke luar kota selama dua hari. Kenapa Papa mencarinya? Tadi pagi juga ada orang yang datang mencarinya. Apa ada masalah?"
"Beri tahu Papa kalau dia menghubungi kamu!"
"Pah ... ada apa sih sebenarnya?"
__ADS_1
Affandi tidak menjawab. Dia langsung menutup teleponnya. Hanna merasakan ada yang tidak beres. Dia bergegas turun mencari mertuanya dan menemukan mertuanya sedang membersihkan dapur, hal yang dulu tidak pernah dia lakukan.
"Ibu ... Apa ibu tahu kemana Barra pergi?" tanya Hanna.
"Aku tidak tahu, bukankah dia bilang dia akan keluar kota?"
"Apa dia menghubungi ibu?"
"Tidak. Bukankah kamu istrinya? Harusnya kamu lebih tahu!"
Hanna meninggalkan mertuanya dengan wajah kesal. Dia yakin ada yang tidak beres. Dia kembali ke kamarnya untuk untuk mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Imah, aku pergi sebentar, jaga anakku!" ucap Hanna sambil berlari.
Tak butuh waktu lama Hanna sudah sampai di perusahan Papa nya. Tidak seperti Malik yang tidak ada yang mengenalinya, Hanna di sambut penuh hormat di perusahaan ini. Hampir semua karyawan menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Hanna karena yang mereka tahu Hanna adalah anak dari pimpinan perusahaan ini.
Dengan angkuh Hanna berjalan melewati karyawan-karyawan yang sedang menatapnya itu. Harus diakui, Hanna memang cantik dan tubuhnya juga padat berisi. Namun sikapnya membuat semua orang malas untuk mengaguminya. Mungkin di sosial media dia mempunyai pengikut yang lumayan banyak jumlahnya, tapi itu hanyalah sosial media. Apa yang terlihat belum tentu sesuai kenyataan. Dia tampak ramah menyapa pengikutnya, tapi di kehidupan nyata dia bahkan tidak mau tersenyum kepada orang lain yang menurutnya lebih rendah dari dirinya.
"Pah ... Ada apa sebenarnya?" tanya Hanna begitu berada di dalam ruangan Affandi tanpa basa basi. Affandi yang tengah menelfon seseorang tidak menjawab pertanyaan Hanna. Dia hanya mengacungkan telunjuknya memberi isyarat agar Hanna diam.
Setelah Affandi selesai dengan telfonnya barulah dia mendekati Hanna.
"Katakan, apa yang kamu ketahui tentang suamimu? Dimana dia berada? Kapan terkahir kali kamu menghubungi nya?"
"Ada apa sih Pah? Jelaskan dulu padaku!"
"Tadi pagi Malik mendatangi Papa. Dia bilang Barra sudah berbuat kurang ajar pada istrinya. Dan semalam dia juga berusaha berbuat ulah lagi saat pesta tengah berlangsung," terang Affandi.
"Tidak mungkin Pah, Barra sedang di luar kota sekarang. Dia sudah pamit padaku ada tugas keluar kota."
__ADS_1
"Dengar Hanna, Papa yakin Barra berbohong padamu. Tidak mungkin Malik datang kemari untuk mengada-ada. Dia bahkan sampai mengancam akan mengambil alih perusahaan dan membuang kita ke jalanan jika sampai Papa tidak menemukan Barra dan memenjarakannya."
Hanna terkulai lemas mendengar kata-kata Papa nya.
"Tidak mungkin Pah ... Aku tidak mau jatuh miskin."
"Hanna ... Bagaimana kamu bisa menikah dengan pria seperti itu? Kamu cantik, banyak yang menyukai kamu. Kenapa kamu mau saja dihamili laki-laki seperti itu?!" sesal
Hanna seperti tertampar oleh kata-kata Affandi. Seandainya saja Papanya tahu kenapa dia mau menikah dengan Barra pasti saat ini dia dimarahi habis-habisan.
Hanna kembali teringat malam dimana dia pesta di sebuah klub malam bersama teman-teman sesama artis sosial media. Hanna mabuk hingga tidak sadarkan diri dan pagi harinya mendapati dirinya terbangun di sebuah kamar hotel tanpa sehelai pakaian. Tidak ada yang bisa memberi tahunya siapa yang membawanya ke hotel.
Hanna tidak pernah menganggap butuh sebuah masalah sebelumnya, itu sudah biasa baginya. Sampai dia sadar dia sudah terlambat datang bulan dan membuatnya melakukan tes, hasilnya positif. Dia bingung tapi dia juga tidak berani menggugurkan kandungannya.
Pada saat yang hampir bersamaan, Widia, ibunya Barra terus mendesaknya untuk mau berkenalan dengan Barra. Dan ini adalah kesempatan baginya untuk mendapatkan seseorang yang bisa menjadi ayah untuk bayi yang dikandungnya. Ditambah lagi Widia menyebutkan kalau Barra sudah lama menikah tapi belum juga mempunyai keturunan. Dia akan berpura-pura jika anak yang dikandungnya adalah anak Barra. Mereka pasti senang mengetahuinya.
Hanya dua kali pertemuan, Hanna langsung bisa mengajak Barra menginap di hotel. Tentu saja Barra yang waktu itu sedang bermasalah dengan Rania tidak bisa menolak tubuh seksi Hanna. Dia tidak tahu Hanna sedang menjebaknya agar mau menikahinya dan bertanggung jawab atas bayi dalam perutnya.
"Kamu tahu kan Papa sangat menyayangi kamu. Papa berikan semua yang kamu inginkan. Bahkan Papa mengijinkan kamu menikah dengannya yang statusnya masih suami orang, asalkan kamu bahagia. Tapi sekarang, lihat yang suamimu lakukan."
Hanna terdiam. Bukannya dia memikirkan kata-kata Papa nya, tapi dia memikirkan nasibnya sendiri.
"Kita harus bagaimana Pah? Aku tidak mau hidup miskin. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan anakku tidak punya Papa. Dia sangat menyayangi anakku. Aku ingin anakku mempunyai Papa yang memanjakannya seperti Papa memanjakan aku." Hanna mulai terisak.
"Bantu Papa menemukannya. Jika kamu bilang dia sangat menyayangi anaknya, dia pasti akan menghubungi kamu untuk melihat anaknya. Kamu bisa memberi tahu Papa jika dia melakukannya. Atau kamu bisa mencari tahu dari ibu mertuamu. Barra pasti menghubungi Ibunya. Aku juga sudah mengerahkan orang-orang untuk mencarinya."
"Selanjutnya Papa serahkan kepadamu. Kalau kamu ingin keluarga kita tetap seperti ini, maka kamu harus membawanya ke kantor polisi. Tapi kalau kamu ingin kita menjadi miskin tapi anak kamu tetap mempunyai ayah, maka kamu boleh terus menyembunyikannya. Papa hanya ingin kamu bahagia, jadi keputusannya Papa serahkan padamu."
## #
__ADS_1
Sementara Rania & Malik skip dulu ya, mereka lagi honeymoon jangan diganggu.☺️🤫
Kita nikmati dulu awal penderitaan Barra. ???