
Mata Widia dan Hanna terbelalak tidak percaya melihat mobil yang terparkir di halaman rumah mereka.
"Apa kalian lihat? Ternyata aku mendapatkan ganti yang lebih baik dari Barra, tahu gitu aku pisah dari dia sejak dulu." Rania kembali mengenakan kaca mata hitamnya.
"Paling juga kamu menjadi simpanan Om-om agar mendapatkan mobil itu!" ketus Widia.
Rania tertawa. "Apa kamu tidak malu berkata seperti itu kepadaku Widia? Bukankah kamu sampai terjerumus hutang milyaran karena "memelihara" simpanan?"
"Diam kamu!!!"
"Dan bodohnya kamu Hanna, kamu mau saja melunasi hutang-hutangnya. Apa kamu tahu uang-uang itu hanya dia gunakan untuk check in dan berjudi dengan "kesayangannya"?! Followers mu bisa langsung meninggalkan kamu jika mereka tahu ini!" Rania mencoba memprovokasi mereka berdua.
"Jangan dengarkan dia Hanna."
Baik Hanna maupun Widia, wajah keduanya sama-sama merah padam menahan amarah saat ini.
"Oh ... Satu hal lagi ... Kalau kalian tidak mampu, tidak usah kembalikan mobilku tidak apa-apa. Aku ikhlaskan untuk kalian, mungkin kalian memang membutuhkan uang," sindir Rania.
"Heh!!! Aku bahkan bisa menggantinya sekarang juga!!" teriak Hanna tidak terima.
Sambil terkekeh Rania mengenakan kacamata hitamnya kembali.
"Sampai jumpa, Aku masih harus shopping. Pacarku tidak tanggung-tanggung ngasih uang belanja buatku. Aku sampai bingung mau menghabiskannya," ejek Rania lagi.
Rania meninggalkan tempat itu dengan perasaan gembira. Dia berhasil membuat Hanna dan mertuanya senam jantung akibat kedatangannya.
Semua bualan yang dia katakan kepada Hanna dan Widia ternyata sukses membuat mereka gerah. Mobil itu hanya Rania pinjam dari Malik, dan uang belanja yang dia katakan juga tidak ada. Malik memang ingin memberinya uang belanja, tapi Rania selalu menolaknya. Mungkin hanya saldo e-wallet saja yang tidak bisa Rania tolak.
"Tidak apa-apa sedikit berbohong untuk mengerjai mereka," gumam Rania sambil tersenyum lepas di dalam mobil. Dia mengemudi sambil melihat pemandangan di kiri kanan jalan.
"Ternyata hidup itu indah, selama ini aku hanya salah mengambil sudut pandang saja."
Rania mengendarai mobil Malik berputar-putar. "Aku mau kemana ya?" Rania bingung sendiri. "Lebih baik menyusul Malik di rumah sakit. Tadi aku meninggalkan dia sarapan sendirian. Aku harus menebusnya," gumam Rania.
Di Rumah Sakit...
Malik masih berada di dalam ruangannya. Jam praktek nya sudah selesai dan kebetulan sekarang juga jam makan siang. Dia termenung memikirkan apa yang sedang Rania lakukan. Dia tadi berdandan sangat cantik dan dia khawatir kalau Rania akan menemui Barra.
Terdengar suara pintu diketuk. "Dok, ada satu pasien lagi. Apa dokter mau terima?" tanya asisten Malik.
Malik melihat jam tangannya dan kelihatan ragu.
"Cantik lho Dok, sayang kalau dilewatkan," imbuh perawat itu yang sepertinya sudah akrab dengan Malik.
__ADS_1
"Ya sudah, suruh masuk saja." Perawat itu mengangguk.
"Siang Dokter Malik ..." sapa pasien yang tadi disebut sang perawat. Malik segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Rania berdiri di hadapannya.
"Hmmm ... pasienku yang satu ini cantik sekali ..." sambut Malik. "Apa keluhan mu cantik?" Malik langsung berdiri. Tanpa basa basi dia mendekati Rania dan meraih pinggulnya.
"Kenapa wajahmu berseri-seri seperti ini? Kamu habis bertemu siapa hmmm?"
"Rahasia," jawaban Rania membuat Malik semakin penasaran. Rania mengalungkan tangannya di leher Malik. "Boleh aku memelukmu? Aku sedang bahagia sekarang?"
Tanpa menjawab Malik langsung memeluk Rania. Rania yang sejak tadi tersenyum karena bahagia semakin tertawa lepas karena Malik menggesek-gesekkan hidungnya di leher Rania.
"Hentikan Malik, aku geli!" cegah Rania sambil tertawa.
"Katakan kamu dari mana pasien nakal?" Malik semakin mengeratkan pelukannya.
"Dok ..." tiba-tiba pintu terbuka. Sedang posisi Malik dan Rania masih berpelukan. " Maaf Dok ..." pintu langsung ditutup lagi. Entah kenapa justru perawat itu yang mukanya merah melihat adegan ini.
"Lepaskan tanganmu!" Rania berusaha melepaskan tangan Malik.
"Bukankah tadi kamu yang ingin memelukku?"
"Malu tahu!"
Baru saja lepas tangan Malik darinya Rania kembali memeluknya. Dia mengendus aroma tubuh Malik.
"Kamu kenapa sih?" tanya Malik heran.
"Waktu aku hamil dulu, aku senang sekali bisa mencium aroma tubuhmu. Tapi sekarang tidak lagi. Padahal baunya sama lho." Rania kembali mengendus tubuh Malik.
"Mungkin itu karena anakku ingin bersama ayahnya. Kalau orang awam bilang semacam ikatan batin begitu."
"Mungkin juga sih ... Aku ingin mengajakmu makan siang. sebagai ganti aku meninggalkan kamu sarapan sendirian tadi. Aku juga mau mengembalikan mobilmu." Rania menyerahkan kunci mobil yang tadi dia pinjam kepada Malik.
Tapi Malik menolaknya. "Kamu pakai saja mobilnya. Itu untuk kamu kalau kamu mau."
"Tidak. Aku hanya pinjam saja. Nanti kalau aku butuh aku pinjam lagi."
"Aku memaksa." Malik mengembalikan kunci mobil itu. "Itu untukmu kalau kamu suka."
"Terserah deh... Ayo kita makan." Rania sudah berbalik dan hendak membuka pintu, tapi Malik masih tetap pada posisinya sebelumnya.
"Kamu tidak mau makan bersamaku?"
__ADS_1
"Katakan dulu kamu habis dari mana?"
"Melakukan sesuatu yang penting ...," jawab Rania ragu.
Malik mendekat. Sekali lagi dia meraih pinggul Rania dan membuat tubuh mereka berdekatan sampai tidak menyisakan jarak.
"Apa artinya aku untukmu?" bisik Malik.
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin tahu, apa artinya aku dalam hidupmu? Aku ingin aku ingin kejelasan status ku."
"Malik jangan bicarakan itu sekarang. Ayo kita makan."
"Ran ... Aku butuh kepastian atas hubungan ini."
"Aku belum siap Malik." Kemudian Rania pergi meninggalkan Malik. Malik hanya menghembuskan nafasnya.
Aku harus lebih pelan-pelan. Mungkin memang dia belum siap untuk sebuah hubungan baru.
"Kita makan di mana?" tanya Malik setelah berhasil menyusul Rania.
"Terserah. Aku hanya ngajak kamu makan, tapi nanti tetap kamu yang bayar." Rania tertawa
Di sebuah restoran...
Rania dan Malik sudah duduk berhadapan. Mereka sedang menyantap dessert masing-masing.
"Hmmmm .... gelato ini enak sekali ... Aku belum pernah ke restoran ini. Aku harus kesini lagi nanti," ucap Rania menikmati semangkuk gelato stroberi di hadapannya.
"Mau coba punya ku? Ini tiramisu." Malik menawarkan.
"Boleh."
Kemudian Malik mengambilkan satu sendok miliknya dan menyuapkannya ke mulut Rania.
Pada saat yang bersamaan ada beberapa pria masuk ke restoran. Sepertinya mereka adalah para eksekutif muda yang juga hendak makan siang. Salah satu dari mereka tidak sengaja melihat adegan saat Malik menyuapi Rania dan pria itu terpaku melihat adegan tersebut.
"Gimana? Enak kan?"
"Hmm ... punyamu juga enak banget. Nggak nyangka ada sorbet seenak ini di sini."
"Kamu pesan lagi saja kalau mau."
__ADS_1
"Iya deh ... " Rania mengalihkan pandangannya dari gelato di depannya dan mengedarkan pandangan untuk mencari pelayan. Tidak sengaja matanya bertemu dengan pria yang sejak tadi membeku melihat kebersamaannya dengan Malik.
"Barra?" gumam Rania pelan.