Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Keputusan


__ADS_3

Rania kembali ke kamarnya meninggalkan tiga orang yang sudah menyakiti hatinya. Rania tidak peduli apa yang mereka bicarakan selanjutnya yang jelas dia ingin menyembunyikan emosinya saat ini.


Rania duduk di tempat tidur. Memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Setelah beberapa saat barulah Barra menyusulnya ke kamar. Rupanya dia tidak jadi berangkat bekerja.


"Ran ... Maafkan aku ,,, " mendekati Rania yang sedang duduk di tepian tempat tidur. Rania tidak menjawab. "Kamu tidak apa-apa?"


Rania masih membisu. Dia juga tidak mau menatap Barra.


"Ran ... Apa kamu baik-baik saja?" Barulah Rania menoleh.


"Memangnya kamu ingin aku bagaimana? Menangis memohon padamu agar memilih aku? Atau bersujud di kakimu agar kamu tidak menceraikan aku? Huh ... tidak akan!"


"Bukan begitu Ran ... Kamu diam saja, Aku takut kamu ..."


"Takut aku kenapa? Depresi? Shock? Gila karena kamu lebih memilih wanita lain dari pada aku?" Rania mengambil nafas dalam, menetralkan emosinya.


"Cintaku padamu sudah tidak seperti dulu Barra. Kamu ingat? Malam itu aku pernah memohon padamu agar tidak menceraikan aku sebelumnya di depan ibumu. Dan aku tidak akan melakukannya lagi, apalagi di depan wanita itu. Aku masih punya harga diri! Aku tidak akan menangis di depan wanita lain demi laki-laki seperti kamu!"


"Ran ... Aku terpaksa melakukannya."


"Keputusan ada di tanganmu Barra. Kalau kamu memang ingin bersamaku mungkin kamu akan mempertimbangkan cara lain untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan ibumu."


"Seandainya tadi wanita itu tidak datang kesini untuk memberitahu aku soal kehamilannya, kira-kira berapa lama kamu akan terus membohongiku? Kamu sudah tahu ini sebelumnya kan tapi kamu masih bisa bersikap manis di depanku?"


Barra semakin merasa bersalah.


"Aku mencintaimu Rania."

__ADS_1


"Kamu pikir aku masih percaya?!"


Saat ini ingin sekali Rania mengatakan kepadanya kalau anak yang dikandung Hanna bukankah anaknya, tapi itu bagaikan boomerang baginya karena dia juga hamil dengan laki-laki lain.


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi. Keputusan sudah kamu ambil. Dan sekali lagi, kamu lebih memilih mengikuti kata-kata ibumu. Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya, dia memang ibumu, yang melahirkan kamu. Aku bisa apa?!"


"Rasanya baru kemarin aku mendengarmu mengatakan rela berkorban demi aku dan anak kita. Ironis sekali, belum ada sebulan kamu mengatakannya, sekarang kamu akan menceraikan aku karena takut kehilangan semua hartamu. Rasanya ingin sekali aku tertawa mengingat kata-kata mu itu."


Rania terus bicara panjang lebar seperti sedang mengeluarkan semua uneg-uneg nya.


Barra hanya bisa diam. Tidak ada kata-kata Rania yang dia bantah karena dia menyadari kesalahannya.


"Kamu khawatir bagaimana masa depanmu nanti jika kamu memilihku? Tapi apa kamu tidak khawatir bagaimana dengan masa depanku dan anakku jika kamu memilih dia? Huhh .... berkorban? Apa itu berkorban? Kamu bahkan tidak tahu arti kata-kata itu."


"Ran ... Ku mohon mengerti posisiku."


Kata-kata Rania membuat Barra semakin merasa bersalah. Itu memang fakta, dia memilih Hanna karena uang yang dimiliki keluarga Hanna bisa menyelamatkan hidupnya dan hidup ibunya.


Barra akhirnya keluar dari kamar karena tidak tahan terus mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rania. Mungkin setelah Rania lebih tenang dia akan kembali dan bicara dengannya.


Rania terdiam setelah kepergian Barra. Bukannya dia tidak sakit hati, tentu saja hatinya merasa kecewa dan terluka. Tapi dia juga menyadari posisinya yang juga hamil dengan laki-laki lain.


Dan saat ini bukanlah waktunya untuk menangis meratapi nasib, ini saatnya untuk berpikir langkahnya ke depan. Dia harus meninggalkan rumah ini, jadi dia harus mencari tempat tinggal dan mencari uang untuk melanjutkan hidupnya.


Rania berdiri. Dia mulai mengemasi barang-barangnya. Tapi tidak, dia tidak akan meninggalkan rumah ini sekarang. Dia hanya berjaga-jaga seandainya mereka mengusirnya sewaktu-waktu dia sudah siap walaupun tidak tahu mau pergi kemana.


* * *

__ADS_1


Di ruang makan...


Semua orang sudah berkumpul untuk makan siang, termasuk Hanna yang juga ada di sana. Sepertinya tadi pagi dia langsung pergi dengan mertua Rania setelah mereka selesai bicara.


"Barra ... Kapan kamu harus segera mengurus perceraian kamu dengannya. Tadi aku dan Tante Widia sudah memilih cincin dan gaun pernikahan."


"Panggil ibu saja Hanna, kan sebentar lagi kamu akan jadi mantu Ibu," ucap Mertua Rania ramah.


Bahkan selama lima tahun jadi menantunya, dia tidak pernah bersikap seramah itu kepada Rania, membuat Rania muak mendengarnya.


Barra tetap membisu.


"Oh iya ... kapan kamu akan melamar ku? Aku sudah memberi tahu Papa kalau kita akan menikah. Dan Papa bilang akan mengadakan resepsi yang mewah untuk pernikahan kita. Kamu tahu kan, kolega Papa banyak jadi papa tidak mau pernikahan yang biasa saja."


"Kamu tahu aku tidak punya uang untuk hal semacam itu!"


"Siapa bilang kamu yang akan membiayai semuanya, papaku sudah menyiapkan semuanya. Kamu tidak usah memikirkan. Papa juga akan segera mengurus hutang-hutang ibu. Jadi ... Kamu harus tahu sayang ... Papa sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk kamu dan ibu." Hanna tersenyum sambil melirik calon mertuanya.


Seakan tidak memikirkan perasaan Rania yang juga duduk satu meja dengannya, Hanna dengan santai membicarakan masalah pernikahan mereka di depannya.


"Sebaiknya kalian tunggu aku bercerai dari Barra dan keluar dari rumah ini dulu. Aku masih sah sebagai istri Barra sampai saat ini," ucap Rania tenang tanpa ada ekspresi apapun di wajahnya.


"Itu tidak akan lama lagi. Seharusnya kamu malu karena Barra jelas-jelas sudah memilih Hanna dari pada kamu. Kalau kamu sadar diri, harusnya kamu sudah keluar dari rumah ini tanpa diminta."


"Asal ibu tahu, aku tidak akan keluar dari rumah ini sebelum mobilku kembali. Seharusnya orang yang menjadikan mobilku sebagai pinjaman hutang juga malu karena tidak bisa mengembalikan mobil itu pada pemiliknya. Aku juga bisa menuntut orang itu ke pengadilan jika aku mau!" Sindiran telak Rania kepada mertuanya.


"Heii... kamu tidak usah sombong! Itu hanya sebuah mobil. Hanna pasti bisa mengembalikannya padamu!" balas ibunya tidak terima.

__ADS_1


"Kita tunggu saja. Yang jelas, selama mobilku belum kembali padaku, aku tidak akan pergi dari rumah ini! Jadi maaf, kalian harus bersabar lebih lama lagi!" Rania meletakkan sendok ya dan berdiri meninggalkan ruang makan.


__ADS_2