
"Apa kabar Hanna?" tanya Rania. Tapi Hanna diam saja.
"Sayang apa dia teman mu? Kenapa kamu diam saja?" tanya Mama nya. Hanna masih diam.
"Ini ..." Rania mengulurkan kotak berisi satu set perhiasan mewah khusus untuk bayi. Ibu-ibu yang tadi mengacuhkan Rania terpana melihat kado yang dia bawa. Begitu pula Hanna.
"Tunangan ku memintaku menyerahkan kado itu langsung kepada mu."
"Terima kasih ... Ini cantik sekali," ucap Herra Affandi, -istri Harun Affandi- sambil meraih kotak perhiasan dari tangan Rania. "Nona ini adalah ...?"
"Saya Rania."
Herra mengernyitkan alisnya dan menoleh ke arah Hanna. "Apa Rania ...?" Herra tidak melanjutkan kalimatnya.
"Saya kemari bersama tunangan saya, Malik."
"Malik Hammani?" Herra memastikan.
Rania mengangguk. "Iya saya tunangan Malik Hammani."
"Maksudmu kamu kesini bersama Malik Hammani?!" tanya Hanna yang sejak tadi mengacuhkannya.
"Iya ... dia ada di bawah."
Ibu-ibu yang tadi mengacuhkan Rania langsung berubah sikapnya setelah mendengar Rania adalah tunangan Malik.
"Oh ... nona ini kenapa tidak bilang dari tadi? Mari bergabung bersama kami ... Silahkan duduk," ucap salah satu dari mereka.
"Terima kasih, Tapi aku ingin melihat putri cantik Hanna terlebih dahulu." Rania duduk di samping Hanna yang sedang menggendong bayinya.
"Oh ... dia lucu sekali," ucap Rania gemas.
"Sepertinya dia tidak mirip Papa nya, mungkin lebih mirip Mama nya," bisik Rania di telinga Hanna. Wajah Hanna memerah. Dia tahu Rania sedang menyindirnya.
Tak berapa lama seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan berisi satu cangkir minuman, diikuti Herra di belakangnya. Wanita paruh baya itu mendekatinya dan menyodorkan cangkir itu kepadanya.
Rania menerima cangkir itu.
"Terima kasih Widia," ucapnya. Rasanya ingin tertawa tapi takut dosa. Rania tidak langsung meminum minuman yang ada di cangkir itu. Muncul ide nakal di kepalanya.
"Maaf, tapi aku tidak minum teh manis, aku minum air putih saja. Aku sedang diet kalori untuk menjaga berat badanku sampai hari pernikahan nanti," ujar Rania sombong. Dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak bisa mengerjai Widia.
Sejak kapan aku diet?! Hmmm... Jadi benar yang dikatakan Imah.
__ADS_1
"Bu Widia, tolong minuman nona Rania diganti air putih saja," pinta Herra. Wajah Widia terlihat kesal sekali.
Sementara itu ibu-ibu yang lain tampak menjadi salah tingkah sejak mengetahui siapa Rania.
"Nak Hanna, kami permisi dulu, sudah cukup lama kami di sini," ucap salah satu dari mereka.
"Loh ... kok buru-buru sih jeng? Baru juga sebentar ngobrolnya," jawab Herra.
"Iya jeng, sudah malam. Besok kapan-kapan disambung lagi," sahut yang lain. Kemudian Ibu-ibu itu satu-persatu meninggalkan kamar menyisakan Rania dan Hanna bersama bayinya.
Belum sempat mereka bicara Widia sudah masuk ke kamar lagi membawa segelas air putih. Tanpa bicara sedikitpun, Widia langsung meletakkan gelas itu di meja. Dia berniat langsung akan pergi setelah meletakkan gelas itu.
"Apa kabar Widia?" sapa Rania sebelum Widia sempat melangkah. Widia tidak menjawab hanya menoleh sebentar dan tetap meninggalkan kamar itu dengan wajah yang menahan emosi.
"Kamu pasti senang melihat bagaimana aku memperlakukan dia," ucap Hanna ketika dia tidak sengaja melihat senyum tipis tersungging di bibir Rania.
"Ya ... Sepertinya aku harus berterima kasih padamu."
"Wanita tua itu sudah menghabiskan banyak uangku." Hanna kesal.
Rania tertawa. "Apa kamu menyesal?"
Hanna tidak menjawab.
Sepertinya Affandi menepati kesepakatannya.
"Sayang ... Kita pulang sekarang." Tiba-tiba Malik sudah muncul di depan pintu. Ada juga Affandi beserta istrinya dan juga Barra. Hanna langsung salah tingkah melihat Malik.
"Sekarang?"
"Iya sekarang ... Apa kamu masih ingin di sini?" tanya Malik.
"Sayang .... bayi ini lucu sekali... aku jadi ingin segera punya bayi," ucap Rania di buat semanja mungkin.
Ingin segera punya bayi? Memang bayi Rania dimana? Bukankah seharusnya sekarang dia hamil besar atau mungkin sudah melahirkan? Tapi kenapa tubuhnya tidak seperti wanita yang habis melahirkan? Barra.
* * *
Hari pernikahan semakin dekat. Rania mulai stress mengurus semuanya. Memang mereka tidak akan melangsungkan pesta besar-besaran, mungkin hanya keluarga inti dan teman dekat saja yang di undang, tapi tetap saja semuanya memerlukan persiapan.
Rania ingin melepaskan stresnya dengan makan gelato di restoran waktu itu Malik pernah mengajaknya. Tapi dia masih sibuk jadi dia akan menyusul setelah selesai dengan urusannya nanti.
Rania tiba di restoran terlebih dahulu. Seperti biasanya dia harus menunggu Malik selesai praktek baru bisa menyusulnya.
__ADS_1
Rania sedang menikmati gelato tiramisu yang tersaji di hadapannya ketika tiba-tiba seorang laki-laki duduk di depannya.
"Ran ... kita harus bicara."
Rania tersentak. Dia pikir Malik yang duduk di depannya tapi ternyata Barra.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" jawab Rania ketus.
"Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar anak kita?"
Rania ingin sekali melemparkan gelato yang sedang dia makan itu ke wajah Barra.
"Sekarang kamu menanyakan kabarku dan kabar anak kita? Kemana saja kamu?!!"
"Ran ... Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku juga keterlaluan sudah mengusir mu malam itu." Barra mencoba menjelaskan. Dia berusaha meraih tangan Rania tapi Rania menarik tangannya.
"Simpan saja permintaan maaf mu, tidak ada yang bisa aku maafkan."
"Ran ... Setidaknya beri tahu aku bagaimana kabar anak kita? Dia laki-laki atau perempuan?"
"Apa peduli mu?! Kenapa kamu tidak menanyakan itu sejak dulu. Kenapa baru sekarang kamu muncul dan menanyakannya?! Apa hatimu terbuat dari batu?!!" Rania geram.
"Iya ... aku tahu aku salah. Karena itu aku ingin minta maaf padamu. Aku ingin kedua anakku saling mengenal dan berhubungan baik."
Rania tertawa sarkas. "Kedua anakmu?!"
"Iya ... Aku memiliki dua anak. Memangnya kenapa?!"
"Sebahagia itukah kamu akhirnya memiliki anak?"
"Tentu saja aku sangat bahagia. Akhirnya aku punya anak. Sayang salah satu anakku tidak bersamaku."
"Apakah kamu tahu, aku kehilangan bayiku saat kamu mengusirku malam itu?"
Mulut Barra menganga tidak percaya. "Kamu pasti berbohong agar aku tidak meminta anakku!"
"Aku terlunta-lunta di jalanan dan kamu sama sekali tidak menanyakan kabarku juga bayi dalam perutku? Dan sekarang setelah berbulan-bulan kamu datang dan bertanya bagaimana kabar anakmu?! Dia sudah tidak ada Barra!! Kamu ini manusia macam apa Barra?!!"
"Tidak Rania ... Tidak mungkin!!" Barra tidak percaya.
"Tidak mungkin katamu?! Apa yang tidak mungkin? Dini hari aku berjalan berkilo-kilo sambil menggendong tas dan menyeret koper. Apa sekarang kamu baru sadar yang kamu lakukan terhadapku itu sangat keterlaluan?!"
Rania tidak kuasa menahannya emosinya. Akhirnya dia berlari meninggalkan Barra yang masih belum bisa percaya kata-katanya.
__ADS_1