
"Aku hamil!! Dan aku tidak mandul! Apa perlu aku perjelas lagi? Aku tidak Mandul!!" Rania menatap lurus ke arah mertuanya saat mengatakannya.
Mulut mertuanya menganga tidak percaya.
"Aku tidak mandul ibu! Jadi berhentilah menyebutku perempuan mandul!!!" lanjut Rania tenang tapi penuh penegasan.
"Benarkah?" Raut wajahnya Barra berubah seketika. Dia berjalan menghampiri Rania dan ingin memeluknya. Tapi Rania menghindari pelukan Barra.
"Kamu benar-benar hamil Ran?"
"Kamu baca sendiri kan hasilnya? Aku positif hamil!"
"Itu artinya aku akan segera punya cucu?" tanya mertua Rania masih belum percaya.
"Tidak Bu ... Aku akan pergi dari rumah ini sebelum anak ini lahir. Bukankah ibu sendiri yang bilang kalau Barra akan segera menceraikan aku?!"
"Tunggu Ran ... jangan seperti itu. Kita bisa bicarakan ini dulu."
"Rania ... kamu tidak bisa membawa cucuku pergi begitu saja."
"Tentu saja aku bisa, aku akan membawa anakku pergi bersamaku, bahkan sebelum kalian sempat melihatnya!"
"Tidak Rania, dia anakku juga. Kamu tidak boleh begitu."
"Huaahhmm .... " Rania pura-pura menguap dan meregangkan tubuhnya. "Segera urus surat-suratnya. Aku tidak sabar untuk segera meninggalkan rumah ini." Rania berjalan meninggalkan dua orang yang telah menyiksa batinnya selama ini.
Senyum tersungging di bibirnya saat melangkah menapaki tangga menuju kamarnya. Entah karena hormon kehamilannya atau berkat pencerahan dari Dewi dia menjadi berani seperti sekarang ini.
Barra buru-buru menyusul Rania. Dia mengikuti Rania di belakangnya.
"Hati-hati dengan langkahmu Rania, kamu sedang hamil sekarang." Barra terlihat sangat khawatir. Tapi Rania hanya tersenyum sinis mendengar kata-katanya.
Sampai di kamar Rania langsung merebahkan dirinya di kasur.
"Aku mau istirahat, aku capek." Rania mengusir Barra secara halus sebelum Barra sempat bicara.
"Ran ... Sayang ... Bisa kita bicara sebentar?" Barra mendekati Rania di tempat tidur.
__ADS_1
"Sudah ku bilang aku ingin tidur."
"Baiklah ... mungkin kita bisa bicara besok setelah kamu merasa lebih baik."
Barra keluar dari kamar. Tidak lupa dia menutup pintu agar Rania bisa beristirahat dengan tenang.
Rania mengelus perutnya setelah kepergian Barra.
"Maafkan Mama ya sayang ... Mama sudah memperalat kamu untuk mendapatkan keinginan Mama. Mama tidak peduli kamu anak siapa, yang jelas kamu adalah anak Mama. Dan Mama akan berusaha mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak Mama, untuk hidup kita berdua nanti."
* * *
Rania malas sekali bangun. Sejak tadi dia hanya berguling-guling saja di tempat tidur. Dia tidak ingin melakukan pekerjaan rumah tangga seperti yang biasa dia lakukan. Entah ini bawaan bayi atau karena dia memang sudah tidak ingin menjadi pelayan untuk suami dan mertuanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Barra datang dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Rania.
"Kamu sudah bangun?" tanya Barra dengan mata yang sangat berbinar. Terlihat jelas sekali kalau dia sedang bahagia. Rania juga tahu semalam Barra tidur bersamanya setelah beberapa hari mereka pisah kamar.
"Aku bawakan sarapan buat kamu. Dimakan ya? Mau aku suapi?"
Rania menatap Barra heran. Kenapa hari ini dia tidak pergi bekerja padahal ini bukan hari libur.
Dulu dia akan senang sekali jika Barra memperlakukannya seperti ini. Tapi sekarang, setelah sikapnya akhir-akhir ini, perlakuan manis Barra ini seperti tidak ada artinya. Hati Rania sudah terlanjur membeku dan membatu.
Barra duduk tepat di samping Rania berbaring. "Apa aku benar-benar akan segera menjadi papa?"
"Tidak!" jawab Rania tegas.
"Apa maksudmu? Bukankah kamu sedang hamil?"
"Memang, tapi bukankah kita akan segera bercerai? Aku akan segera pergi dari sini begitu kita cerai. Jadi kamu tidak akan sempat di panggil papa!"
"Ran ... Kita bisa bicarakan itu dulu ... Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Tapi kumohon jangan pisahkan aku dengan anakku!"
"Minta maaf? Mudah sekali mulutmu mengatakan maaf. Apa perlu aku ingatkan berapa kali kamu berucap akan menceraikan aku? Atau ingatkah kamu juga ikut menyebutku perempuan mandul? Berapa kali kamu membentak aku di depan ibu?!"
"Maaf ... maafkan aku untuk itu. Aku terbawa emosi."
__ADS_1
"Tolong beritahu aku bagian mana yang harus aku maafkan? Saking seringnya kamu menyakiti aku, sampai aku bingung kesalahan mana yang harus aku maafkan lebih dulu." Rania tertawa sinis.
"Sekarang begitu tahu aku hamil sikapmu padaku langsung berubah drastis seperti ini? Bagaimana jika aku tidak hamil? Apa sikapmu padaku akan seperti ini? Atau kamu akan membuang ku dan menikah dengan perempuan lain yang sudah ibu siapkan untukmu?!
"Aku mengakui semua kesalahanku. Maafkan aku ... Aku tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Aku hanya menuruti kemauan ibu. Itu saja."
"Seandainya saja kamu punya sedikit pendirian. Pasti kamu akan berpikir dahulu sebelum bertindak."
"Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"
"Aku tetap ingin bercerai!"
"Tidak! Aku tidak akan menceraikan kamu! Apalagi sekarang kita akan punya anak!"
"Bagaimana jika setelah aku melahirkan ibu menyuruhmu menceraikan aku, apa kamu tetap akan melakukannya? Tidak ada jaminan untukku kalian tidak akan memisahkan aku dengan anakku!"
"Jangan berpikir terlalu jauh. Ini anak kita berdua." Barra ingin mengelus-elus perut Rania, tapi Rania dengan kasar menampik tangan Barra. "Ayo kita mulai dari awal lagi. Maafkan semua kesalahanku."
"Aku tidak bisa. Sudah berapa kamu kamu mengenalku? Kamu tahu aku bukan pemaaf. Kita tetap akan bercerai. Jika kamu tidak akan mengurus semuanya maka aku yang akan melakukannya."
"Ran ... kumohon padamu. Kita tidak akan bercerai. Demi anak kita!"
"Kemarin-kemarin kamu yang bersikeras akan menceraikan aku. Aku bahkan sudah memohon padamu. Apa kamu sudah lupa?" Rania menahan air matanya. Sangat sangit jika mengingat kejadian malam itu.
"Aku tetap akan minta cerai. Dan aku juga minta hak-hak ku dan anakku untuk modal hidup kami berdua nanti."
"Kita tidak akan bercerai, setidaknya tidak sampai anak kita lahir. Sudahlah tidak usah bicarakan itu lagi. Sekarang kamu makan dulu."
Sebenarnya Rania malas makan, tapi Barra tetap memaksanya. Tapi baru dua sendok masuk mulutnya, Rania sudah berlari ke kamar mandi dan memuntahkannya."
Barra dengan sigap mengikutinya ke kamar mandi dan membantunya. Dia benar-benar bersikap seperti suami siaga. Setelah itu Rania kembali ke tempat tidur dan berbaring. Dia merasa lemas sekali.
"Sekarang kamu tahu kan kenapa aku memuntahkan masakan ibu kemarin? Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya," ucap Rania dengan mata terpejam.
Barra seperti tertampar mendengar kata-kata Rania. Dia sadar kemarin dia sudah sangat kasar kepada Rania padahal itu bukan salahnya.
"Maafkan aku ... "
__ADS_1
"Bahkan ribuan kali kamu memohon maaf pun aku tidak akan bisa memaafkanmu, juga ibu."