Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Hidup Baru


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan pada mereka?" tanya Rania selepas kepergian Widia dan Hanna.


"Entahlah ... "


"Benar apa yang dikatakan Widia, kita tidak usah memperpanjang urusan dengan Barra."


"Kenapa? Kamu tidak tega padanya?" selidik Malik.


"Tidak! Aku hanya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Sudah cukup, aku sudah tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka. Aku ingin menikmati hidupku bersamamu tanpa ada bayangan masa laluku di antara kita."


"Jadi menurutmu aku harus melepaskan mereka?"


"Terserah kamu ... hanya saja, aku ingin cukup sampai di sini saja kita berurusan dengan mereka. Kamu mengerti maksudku kan?"


Malik mengangguk.


"Biarkan saja Barra seperti itu, tidak perlu menuntut dia lagi. Toh dia sudah mendapat balasan darimu. Kasihan juga Widia jika Barra harus mendekam di penjara lagi. Kamu lihat sendiri, sepertinya dia sedang sakit."


"Kamu yakin hanya kasihan pada Widia, bukan kasihan pada laki-laki itu?"


"Apa kamu cemburu tuan Hammani?"


"Mana mungkin aku cemburu dengan laki-laki yang jauh di bawahku! Paling tidak dia harus kaya raya seperti ku baru aku cemburu!"


"Wuih ... sombong ... Aku tahu kamu cemburu."


Malik membuang wajahnya kesal karena Rania terus saja memancingnya.


"Apa itu berarti aku harus mencari sultan lain agar kamu cemburu."


"Hei...!!! Jangan coba-coba Nyonya Hammani!!"


* * *


Kembali ke ruangan Barra dirawat...


Barra mendengar pintu dibuka. Dia menoleh untuk melihat siapa yang datang. Widia yang melihat Barra sudah sadar tampak sangat senang.


"Barra ... Kamu sudah sadar nak?" Widia mendekat dibantu oleh Hanna.

__ADS_1


"Air ... aku ingin minum," ucap Barra hampir tak terdengar.


Hanna bergegas mengambilkan gelas berisi air putih di atas meja dan membantu Barra minum. Setelah selesai minum Hanna meletakkan kembali gelas itu di atas meja.


Bukannya mengucap terimakasih kepada Hanna karena telah membantunya, Barra justru menatap Hanna dengan tatapan penuh kebencian.


"Kau ...!! Dasar perempuan penipu!!!" Langsung saja Barra memaki Hanna walaupun masih dalam kondisi lemah.


"Jaga bicaramu Barra!" Widia mengingatkan. "Dia yang menjagaku selama kamu tidak sadar! Jangan bersikap kasar padanya!"


Barra membuang mukanya. Dia tidak sudi melihat wanita yang telah menghancurkan hidupnya.


"Sudahlah, lebih baik aku pulang untuk melihat keadaan Alicia!" Hanna kesal melihat sikap Barra dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Jangan bersikap seperti itu lagi padanya. Sekarang dia lah yang bisa membantu kita," ucap Widia setelah kepergian Hanna.


"Membantu apa?! Orang tuanya sudah tidak punya apa-apa, bahkan papa nya di penjara sekarang. Apa yang bisa dia lakukan untuk kita?"


"Memangnya siapa yang merawat ibu selama kamu sakit kalau bukan dia? Ibu sangat bergantung padanya."


"Cuma hal sepele!"


"Jangan kamu beranggapan seseorang berguna atau tidak hanya jika dia punya harta. Tidak seperti itu Barra! Lagipula dia adalah istrimu."


"Ibu dari mana?" tanya Barra mengalihkan pembicaraan.


"Aku dan Hanna baru saja menemui Tuan Malik dan Rania."


"Apa??? Untuk apa ibu menemui mereka???" Bahkan dalam kondisinya yang lemah Barra masih bisa meninggikan suaranya.


"Ibu meminta maaf pada mereka."


"Apa Ibu sudah tidak waras?!! Kenapa ibu minta maaf? Lihat yang laki-laki terkutuk itu lakukan padaku! Aku begini karena mereka!!! Bisa-bisanya ibu meminta maaf pada mereka!!! Merekalah yang seharusnya minta maaf padaku dan juga ibu!!!" Barra terlihat sangat gusar tapi dia tahan mengingat kondisinya.


Jika saat ini dia bisa menggerakkan tubuhnya, mungkin dia sudah membanting segala benda yang ada di sekitarnya.


"Barra... jangan terus menyalahkan orang lain. Kamu seperti ini karena ulahmu sendiri!"


"Apa sekarang ibu lebih membela mereka? Setelah aku tidak punya apa-apa ibu tidak mau membelaku?!"

__ADS_1


"Jangan salah paham. Memang begitulah kenyataannya, kamu yang memulai semuanya. Aku meminta tuan Malik agar tidak memperpanjang masalahmu dengannya. Kita hanya bisa berharap dia tidak kembali memasukkan kamu ke penjara!"


"Kenapa ibu takut? Dia yang melukai aku sampai seperti ini. Harusnya aku yang akan menuntutnya!"


Widia menghembuskan nafas panjang. Sulit sekali memahami jalan pikiran anaknya itu. Sejak tadi dia berusaha sabar menghadapi sikap Barra yang masih belum bisa mengerti posisinya. Dia memutar kursi rodanya hendak meninggalkan Barra.


"Ibu mau kemana?"


"Lebih baik ibu pergi! Mungkin jika kamu sendirian kamu bisa memikirkan kesalahanmu dan menyesalinya!"


"Bu... Jangan pergi. Aku membutuhkan ibu di sini ..." pinta Barra yang diacuhkan oleh Widia.


* * *


Sebulan telah berlalu. Barra sudah memulai kehidupan barunya. Sekarang Barra dan keluarganya termasuk ibu mertuanya Herra, tinggal di rumah kontrakan miliknya yang masih tersisa.


Barra yang tengah menikmati kopi tiba-tiba memukul meja dengan kesal karena mendengar Alicia menangis.


"Hei ... !!! Hentikan tangisannya!!! Berisik sekali!!!" teriak Barra dari ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga.


Hanna yang mendengar teriakkan Barra bergegas menenangkan Alicia, takut Barra akan mengamuk. Barra menjadi sangat temperamen setelah keluar dari rumah sakit. Kesalahan sedikit saja bisa membuat Barra marah dan membanting apa saja di sekitarnya. Tak jarang Hanna mendapat pukulan untuk melampiaskan kekesalannya.


Demikian juga perlakuan Barra kepada Alicia, tidak seperti dulu. Dia lebih sering menatap Alicia dengan tatapan penuh kebencian sama seperti dia menatap Hanna. Walaupun kadang dalam hatinya dia inginkan sekali menggendong dan menciumnya seperti dulu, tapi rasa bencinya mengalahkan rasa sayang yang dulu sangat berlimpah untuk Alicia.


"Kamu boleh bersikap kasar padaku tapi tidak kepada Alicia!" gertak Hanna. "Cup ... cup ... sayang ... " Hanna menggendong Alicia menjauh dari Barra.


Tak lama Widia berjalan dengan dibantu alat bantu jalan mendekati Barra. Rumah kontrakan ini tidak begitu luas. Hanya terdiri dari tiga kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur. Sementara ruang tamu dan ruang keluarga digabung jadi satu jadi teriakan Barra bisa terdengar di seluruh sudut rumah.


"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?" Widia membuka percakapan, sementara Barra tidak menghiraukannya.


"Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. Carilah pekerjaan. Uang kost-kostan tidak akan cukup untuk menghidupi kita semua," lanjut Widia.


"Kenapa tidak ibu suruh perempuan penipu itu dan ibunya bekerja?! Mereka hanya benalu saja di rumah ini!"


"Jangan bicara seperti itu Barra! Mereka sekarang keluarga mu. Dan bagaimanapun juga mereka pernah menyelamatkan ibu dari jeruji besi."


"Kalau begitu ibu saja yang cari kerja!" balas Barra dengan entengnya.


Kata-kata Barra seperti menampar wajah Widia. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa Barra berucap seperti itu kepadanya.

__ADS_1


"Ibu tidak tahu bagaimana dulu ibu membesarkan kamu hingga menjadi seperti ini! Yang jelas ibu menyesal telah salah mendidik kamu!!!"


Dengan susah payah Widia berjalan meninggalkan Barra. Gurat kekecewaan jelas sekali terlihat di wajahnya. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari anak kesayangannya itu.


__ADS_2