
Semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Rasa mual Rania sudah berkurang jadi dia bisa lebih sering ikut sarapan bersama.
"Ran Nanti kamu ingin ku belikan apa?"
"Aku belum ingin apa-apa sekarang. Nanti aku beritahu jika ingin sesuatu."
"Baiklah ... Aku berangkat sekarang." Barra meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju garasi.
Tak berapa lama Barra kembali lagi. "Ran ... dimana mobilmu?"
"Memangnya tidak ada? Bukankah kemarin ibu membawanya?" Rania menoleh ke arah mertuanya yang masih berada di ruang makan.
"Dimana mobil Rania Bu? Sepertinya tadi malam ibu pulang sudah tidak membawa mobil."
"Mmm ... itu ... Ada ... Kemarin aku meninggalkannya di bengkel. Mobil itu perlu di servis," jawab ibunya gelagapan.
"Sepertinya tidak ada yang salah dengan mobilku."
"Sudah lama kan kamu tidak menservis mobilmu? Jadi ibu membawanya ke bengkel."
"Ya sudah kalau begitu," jawab Barra. "Aku berangkat dulu."
* * *
"Ran ... Aku bawakan es krim durian kesukaan kamu," Barra berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia baru pulang kerja tapi wajahnya tampak berseri membawa kantung plastik kecil berisi es krim.
Rania yang mendengar teriakan Barra segera keluar dari kamar. Walaupun perutnya sudah penuh karena sudah makan dan minum susu hamil, dia tidak bisa menolak es krim durian kesukaannya.
"Mana?"Wajah Rania tidak kalah berseri dibandingkan wajah Barra.
Barra segera menyerahkan es krim itu ke tangan Rania.
"Mau aku suapi?"
"Tidak, nanti kamu minta!"
"Kan aku yang beli, masa ngga boleh minta?!"
"No ... no ... no ... Ini milikku sendiri!" Rania mendekap erat es krim di tangannya. Dia sudah seperti anak kecil yang akan direbut mainannya.
Dalam hatinya Barra senang melihat Rania sudah kembali menunjukkan ekspresi padanya setelah akhir-akhir ini hanya dingin dan diam.
"Iya, besok aku beli sendiri. Aku mau mandi habis itu kamu temani aku makan malam ya ..."
Rania hanya mengangguk karena mulutnya sudah terisi es krim.
"Awas belepotan itu nanti ..." ucap Barra mengerjai Rania sambil berjalan menuju kamar mandi.
_Di meja makan_
"Hari ini ada keluhan?" Rania menggeleng.
"Anakku tidak rewel?" Menggeleng lagi.
"Tidak ingin sesuatu?" Rania menggeleng untuk yang ketiga kalinya.
__ADS_1
Kadang muncul rasa bersalah setiap kali Barra menyebutkan kata "anakku" kepada bayi yang masih di dalam kandungannya.Tapi dia mencoba menepisnya. Ini balasan atas hinaan Barra dan mertuanya selama ini yang selalu menyebutnya perempuan mandul.
"Apa masih sering pusing?"
"Sedikit. Barra ... Aku ingin pergi keluar besok. Aku bosan di rumah terus tidak melakukan apa-apa."
"Kamu mau pergi kemana nanti aku antar."
"Tidak hanya usah. Aku bisa ditemani Mbak Imah."
"Kamu sudah berjanji padaku." Barra mengingatkan.
Rania menghembuskan nafas. "Iya ... Baiklah kamu yang antar."
"Memangnya kamu mau pergi kemana?"
"Ngga tau ... yang penting keluar rumah. Itu saja."
"Kalau gitu kita keliling komplek saja."
Rania mendengus mendengar gurauan Barra. "Kalau cuma keliling komplek, mending aku sama Mbak Imah aja!"
Barra tertawa. "Iya ... iya ... aku akan mengantarmu kemanapun kamu inginkan." Barra senang hubungannya dan Rania sudah mulai membaik.
"Tapi tunggu aku libur ya, sehari lagi."
"Oke ... "
* * *
Seperti pagi-pagi biasanya, setelah kepergian Barra, Rania segera kembali ke kamarnya hanya untuk menghindar dari mertuanya. Sebenarnya dia sendiri sudah bosan setiap hari mengurung diri di kamar tanpa melakukan apa-apa.
"Ngga Mbak Imah. Nanti aku panggil kalau aku butuh sesuatu. Mbak Imah sekarang bantuin kerjaannya Bi Yani aja di bawah."
"Baik Bu."
Rania duduk di sofa di dalam kamarnya. Dia menyalakan televisi dan menonton film kesukaannya di saluran tv berlangganan di rumahnya hingga akhirnya ketiduran.
Entah berapa lama Rania tertidur. Dia terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Masuk ... "
"Bu ... di bawah ada yang nyari Bu Widia." Mbak Imah muncul dari balik pintu.
"Apa ibu tidak ada?"
"Tidak Bu ... Beliau pergi setelah sarapan tadi."
"Kamu sudah bilang pada orang itu kalau ibu tidak ada?" tanya Rania bermalas-malasan. Sebenarnya dia malas berurusan dengan mertuanya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mertuanya itu.
"Sudah Bu ... Tapi orang itu memaksa. Dia mau menunggu sampai Bu Widia pulang."
"Jam berapa sekarang?"
"Sudah jam sebelas siang Bu ... "
__ADS_1
Rania berdiri. "Baiklah ... Aku akan turun."
Mbak Imah berjalan mengikuti majikannya itu di belakangnya. Sampai di bawah Rania segera menemui orang yang sedang mencari mertuanya.
"Ada yang bisa saya bantu Pak? Mertua saya sedang tidak ada di rumah," jelas Rania.
"Apa ibu tidak berbohong?" tanya orang itu tanpa basa basi.
"Bapak bisa mencarinya di seluruh sudut rumah ini. Saya persilahkan kalau anda tidak percaya," balas Rania tegas.
"Ya sudah, maafkan saya sudah tidak sopan kepada Ibu."
"Jadi ada masalah apa sampai anda ngotot sekali mencari mertua saya?"
"Ini masalah hutang piutang. Jadi mertua Ibu ... maaf dengan siapa saya bicara?"
"Saya Rania, menantunya."
"Begini Bu, saya kesini untuk mengantarkan surat peringatan kepada Bu Widia terkait pinjaman yang sampai saat ini belum dibayar oleh beliau."
Laki-laki itu mengeluarkan surat dan memberikannya kepada Rania.
"Ini Bu, tolong nanti disampaikan kepada Ibu Widia. Sebenarnya sudah jatuh tempo sejak tiga bulan yang lalu. Bu Widia sudah berjanji akan melunasinya bulan ini. Tapi akhir-akhir ini justru Ibu Widia sulit dihubungi."
"Berapa hutang mertua saya Pak kalau boleh tahu?"
"Tidak banyak, mungkin sekitar tiga ratus juta kurang lebihnya." Laki-laki itu mengeluarkan map dari dalam tasnya dan membukanya di depan Rania.
"Ini rincian pinjamannya juga surat perjanjiannya." Kemudian laki-laki itu menjelaskan panjang lebar mengenai pinjaman yang diambil mertuanya.
"Ya sudah Bu Rania, saya permisi dulu. Terima kasih atas kerjasamanya."
Rania tersenyum dan mengangguk. Setelah kepergian laki-laki itu Rania segera menghubungi Barra dan memberi tahunya.
"Halo ..."
"Ada apa Ran? Kamu baik-baik saja kan? Ingin sesuatu?"
Reaksi Barra selalu berlebihan setiap kali Rania menelfon dirinya.
"Tidak ... Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberi tahu sesuatu."
"Memberi tahu apa? Ada sesuatu yang penting?"
"Tadi ada orang datang mencari Ibu. Dia bilang ibu punya hutang tiga ratus juta dan sudah jatuh tempo tiga bulan."
"Benarkah? Kamu yakin bukan penipuan? Untuk apa ibu pinjam uang? Aku sudah memberinya cukup banyak tiap bulan."
"Kamu tidak tahu saja dia juga masih meminta uang dariku," batin Rania.
"Sepertinya bukan. Orang itu menunjukkan surat resmi dan juga surat perjanjian pinjam meminjam. Ada tanda tangan ibu di atas materai juga di sana."
"Oh ... ya sudah. Nanti biar aku urus. Ada yang lain lagi? Kamu tidak ingin sesuatu?"
"Mmm ... Aku ingin sate kambing." Rania ragu-ragu mengatakannya. "Kamu mau membelikannya?"
__ADS_1
"Tentu saja. Nanti aku bawakan."
"Ya sudah. Sampai jumpa."