Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Statusku?


__ADS_3

Akhirnya Rania terlepas dari pembicaraan kaku dan formal dengan Affandi. Sekarang dia duduk di dalam mobilnya sambil memandangi secarik kertas. Bukan kertas hasil analisa itu, melainkan kertas cek yang bertuliskan nominal yang sangat fantastis.


Affandi memberi dia cek sebagai ganti rugi atas apa yang sudah Hanna lakukan padanya. Dia juga meminta Rania untuk tidak menyebarkan hal ini ke media. Rania menyetujuinya tapi dengan mengajukan beberapa syarat.


Dan kalau boleh jujur, Rania menganggap Affandi adalah orang yang mudah di ajak bicara dan berpikiran terbuka. Sangat berbeda dengan yang diberitakan media massa.


Mungkin dulu, ketika dia masih menjadi istri Barra, dia akan menolak cek itu. Dia terlalu naif untuk menyadari bahwa segalanya perlu uang. Bahkan pengorbanan dan pengabdiannya selama ini kepada suami dan mertuanya tidak ada artinya ketika mereka membutuhkan uang. Mereka begitu mudah mencampakkannya tanpa mengingat apa yang sudah dia korbankan.


Dulu ... bagi Rania, rumah tangga adalah segalanya, dan suami adalah prioritas nya. Tapi setelah dia kehilangan semuanya maka tujuan hidupnya pun berubah.


Setelah dia sadar jika cinta tidak membawakan apa-apa untuknya selain kekecewaan, sekarang hal nomor satu yang dia pikirkan adalah uang.


"Kalian bermain kotor, aku juga bermain kotor," gumam Rania sambil terus memandangi cek itu.


Dengan cek itu dia bisa memulai hidup baru, membeli rumah, mobil dan semua yang dia perlukan. Tapi sampai saat ini dia hanya ingin menyimpannya saja karena dia sudah mendapatkan semuanya dari Malik.


"Ran ... " suara Malik mengagetkan Rania. Dengan segera dia menyembunyikan cek itu di dalam tasnya.


"Malik ...? Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Aku menyusul mu. Aku khawatir setelah membaca pesanmu."


"Aku tidak apa-apa. Ini aku sudah mau pulang."


"Tidak boleh!" Malik menghela nafas.


"Kamu harus menemani aku makan. Aku sudah terlanjur sampai di sini. Dan aku juga ingin bicara denganmu." Malik membuka pintu mobil dan membuat Rania keluar lagi dari mobilnya.


Rania hanya menurut saja. Dia mengikuti Malik dan kembali masuk kedalam restoran. Tanpa sengaja dia dan Malik berpapasan dengan Affandi.


"Tuan Malik," sapa Affandi ramah. Dia terlihat bingung melihat Rania berdiri di samping Malik.


"Nona Rania?" sapa Affandi kemudian. "Apa anda bersama tuan Malik?"


Rania belum sempat menjawab.


"Sayang ... Kamu tadi bilang akan bertemu tuan Affandi, apa tuan Affandi ini yang kamu maksud?" tanya Malik sok mesra.


"Mmm ... iya, ada sesuatu yang harus kami bicarakan," jawab Rania heran karena ternyata Malik juga mengenal Affandi.


"Apa kekasihku merepotkan Anda Tuan?"


"Tidak ... tidak, kami hanya membicarakan kesepakatan kecil saja. Tidak ada masalah apa-apa." Affandi terlihat salah tingkah.


Rania tidak tahu bagaimana hubungan Malik dan Affandi tapi yang jelas Affandi terlihat sangat menghormati Malik.


"Katakan saja kalau gadis nakalku ini membuat masalah dengan anda." Malik tersenyum melirik Rania. Sementara Rania merubah wajahnya dari anggun dan berkelas menjadi cemberut dan ditekuk-tekuk.


"Tidak ... tidak, Nona Rania mana mungkin berbuat seperti itu."


"Kalau begitu kami permisi." Malik menarik tangan Rania meninggalkan Affandi dan beberapa bodyguardnya.


"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?" tanya Malik setelah mereka duduk.


"Jangan sebut aku gadis nakal!"

__ADS_1


Malik tertawa. "Kenapa memangnya?"


"Pertama, Aku tidak nakal! Kedua aku bukan seorang gadis!!" omel Rania tidak terima.


"Tapi kamu masih terlihat seperti gadis," elak Malik.


"Aku bukan seorang gadis. Aku bahkan sudah hampir menjadi janda!!"


Malik kembali tertawa, bahkan lebih keras.


"Pertama ... kamu tetap gadisku sampai kapanpun! kedua ... mau gadis ataupun janda kamu tetap gadis nakalku, bahkan sampai kamu nenek-nenek, kamu tetap gadisku selamanya!"


Rania tersipu.


"Jadi bagaimana gadis nakal?" goda Malik.


"Setidaknya jangan panggil begitu didepan orang. Malu tau?!" Rania semakin tersipu.


"Terserah aku! Dasar gadis nakal!!" goda Malik lagi.


"Malik!!!" Rania melotot. "Hentikan ...!! Kalau ada orang yang dengar mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang aku!" Wajah Rania semakin cemberut.


Senang sekali bisa melihat mata bulatmu melotot lagi padaku seperti itu.


Tak berapa lama pelayan datang membawakan makanan. "Silahkan Tuan ... Nyonya ..."


"Terima kasih." Keduanya menjawab bersamaan.


"Ran ... Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kesepakatan apa yang kamu buat dengan Affandi?"


"Kalau kamu ingin membalas mereka, libatkan aku! Aku juga ingin mereka membayar perbuatan mereka kepadamu."


"Kenapa kamu tidak mau memberitahu aku? Apa kamu masih mencintainya?" tanya Barra.


Rania hanya diam.


"Jawab aku Rania! Apa kamu masih mencintainya?"


Rania tetap membisu. Dan kebisuannya membuat Malik salah paham.


"Ran ... jawab aku."


"Lupakan dia dan menikahlah denganku!" Rania masih diam dan membuat Malik semakin kesal.


Jangan-jangan benar dia masih mencintai laki-laki brengsek itu!


"Malik ... Boleh aku ingin minta bantuan lagi padamu?" Akhirnya Rania mengeluarkan suara.


Malik diam tidak menjawab pertanyaan Rania.


"Malik ... " panggil Rania lagi, tapi laki-laki itu tidak bergeming. Sepertinya dia marah kepadanya.


"Malik ... Kamu tidak menjawab ku," Rania memasang wajah polosnya.


"Katakan ... !" jawab Malik dingin. Dia kecewa karena Rania tidak menjawab pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Tolong urus perceraian ku. Semula sampai tuntas hingga aku tidak perlu berurusan lagi dengannya. Baru setelah itu ..." Rania memberi jeda pada kalimatnya.


"Setelah itu apa?" tanya Malik masih dingin.


"Setelah itu kita bisa menikah ... " lanjut Rania tersenyum.


Raut wajah Malik langsung berubah 180 derajat.


"Benarkah? Kamu mau menikah denganku?" Meraih tangan Rania. Wajahnya berseri.


Rania mengangguk. "Tapi ... "


"Ada tapinya?" Malik melongo.


"Karena kamu selalu menyebutku gadis nakal maka aku akan katakan kepadamu dari awal."


"Katakan apa?"


"Ada uang kamu ku sayang, tidak ada uang kamu aku tendang." Rania tertawa.


Malik tertawa lagi. "Kamu memang gadis nakal!" sambil mencubit pipi Rania.


Aku tidak ingin seperti yang sebelumnya, ditendang tanpa punya apa-apa. Rania


Kamu bahkan boleh meminta semua yang aku punya. Malik


Kalau begitu nanti aku ajak kamu ketemu mama. Dia pasti senang sekali melihat mu.


"Tante Maharani masih ingat aku?"


"Tentu saja, kamu adalah calon mantu favoritnya."


"Hei .... !!! memangnya ada berapa calon mantu yang dia punya?!!"


"Maksudku, dari beberapa mantan pacarku kamu yang paling di sukai Mama."


"Apa dokter anak yang berkali-kali mendatangiku dulu bukan favorit Tante Maharani?"


"Dokter anak yang mana?" tanya Malik polos.


"Tidak usah pura-pura tidak tahu begitu. Dokter anak, teman kuliahmu. Dia beberapa kali mendatangi aku dan menyuruhku menjauhi kamu, aku sudah seperti pelakor saja," cerita Rania menggebu-gebu.


"Benarkah? Aku benar-benar tidak tahu. Lalu apa jawabanmu waktu itu?"


"Aku lupa," jawab Rania dengan wajah memerah.


"Malik ..." panggil Rania dengan wajah yang sudah berubah sendu.


"Apa?? Ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Apa nanti Mama mu akan menyetujui hubungan kita?"


"Tidak usah kamu pikirkan kan itu."


"Tapi statusku?"

__ADS_1


"Sssttt ... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal itu."


__ADS_2