
Tangan Barra gemetar, wajahnya bahkan lebih pucat dari pada wajah Rania. Bagaimana bisa ibunya memiliki hutang yang tidak terkira jumlahnya. Mau di logika bagaimanapun juga tidak ada alasan yang tepat untuk membenarkannya.
Berkali-kali dia lihat kertas itu. Reaksinya hampir sama seperti reaksi Rania pertama kali melihat kertas itu tadi. Barra mengusap-usap wajahnya kasar.
"Ibu dimana?"
"Sudah pergi setelah kamu berangkat kerja tadi."
"Kemana lagi dia?! Ibu harus menjelaskan padaku semua ini!" Barra mengambil ponsel dari sakunya. Dia mencoba menelfon ibunya tapi sepertinya sia-sia. Nomor ibunya tidak dapat dihubungi, Barra semakin kesal dibuatnya.
"Barra ... " Suara Rania lirih. "Bagaimana nasib kita jika rumah ini benar-benar di sita? Orang-orang tadi sepertinya bukan orang-orang yang bisa diajak kompromi. Aku yakin mereka tidak akan memberikan keringanan untuk kita."
"Kamu tahu apa yang tadi mereka katakan padaku?"
Barra menoleh. "Mereka bilang apa?"
"Mereka bilang hutang ibu bisa lunas dalam beberapa tahun jika aku mau bekerja pada mereka. Mereka bilang aku akan menjadi primadona di sana. Mereka bukan orang baik-baik Barra."
Tangan Barra mengepal. "Kurang ajar!!! Sialan!!! Bagaimana ibu bisa berurusan dengan orang-orang semacam itu?!!" Barra menghirup nafas dalam-dalam untuk meredakan emosinya.
"Tenang saja Rania, aku pasti bisa membereskan masalah ini," jawab Barra meyakinkan walaupun hatinya sendiri ketar-ketir.
"Apa mobilku sudah kamu urus?"
"Maaf ... Ran ... Aku belum sempat. Kamu tahu sendiri akhir-akhir ini aku sibuk."
Rania semakin sedih. "Kamu sudah berjanji Barra, pokonya mobil itu harus kembali padaku."
"Iya Ran ... Aku janji, tapi kita pikirkan hutang ini dulu."
* * *
Hari sudah malam. Bara kelihatan gelisah. Demikian juga Rania. Mereka sampai membatalkan acara makan malam di luar mereka karena masalah ini. Baik Rania maupun Barra keduanya sama-sama tidak banyak bicara sejak makan malam tadi. Rania mengurung diri di kamar sementara Barra di ruang tamu menunggu ibunya pulang.
Barra masih mencoba menghubungi ibunya tapi tetap saja tidak tersambung. Kekesalannya sudah memuncak. Beruntung besok adalah hari libur sehingga dia bisa langsung mengurus semua masalah yang ditimbulkan oleh ibunya.
"Aku harus segera mengurus semua ini ... aku tidak punya uang sebanyak itu!! Belum lagi masalah Hanna ... Kenapa masalah harus muncul bersamaan seperti ini!!" geram Barra. Dipikirnya lagi semua hutang ibunya. Bagaimana bisa ibunya menghabiskan uang sebanyak itu, untuk apa?
Sentuhan halus di lengan Barra membuatnya terbangun dari lamunan.
__ADS_1
"Barra ... ayo kita tidur. Ini sudah malam."
Barra menoleh dengan tatapan bersalahnya yang tertangkap jelas di mata Rania. Selain merasa bersalah soal Hanna yang masih disembunyikannya, dia juga merasa bersalah soal ibunya.
"Jangan merasa bersalah kepadaku. Aku tidak apa-apa. Kita pasti bisa mengatasinya."
Barra meraih tangan Rania. Diciumnya lembut tangan itu. "Terima kasih sudah mau mendampingi aku." Kemudian Barra berdiri dan merangkul Rania. Mereka berjalan menuju kamar mereka. Tepat saat hendak menaiki tangga, terdengar suara bel berbunyi.
"Siapa lagi jam segini datang?" gumam Bara. Dia sudah berbalik hendak membukakan pintu tapi Rania menarik bajunya.
"Barra ... bagaimana kalau orang nagih hutang lagi?" Rania sudah trauma.
Barra mengehentikan langkahnya. "Lalu kita harus bagaimana?"
"Aku tidak tahu, aku hanya takut itu orang yang mau nagih hutang lagi."
"Apa kita biarkan saja?"
"Terserah kamu saja. Tapi aku takut."
Barra menjadi ragu untuk membuka pintu tersebut. Beberapa kali bel masih berbunyi. Dia dan Rania hanya saling pandang. Mereka mematung di depan anak tangga karena tidak tahu mau bagaimana. Barra sendiri belum siap jika ternyata itu adalah orang yang ingin menagih hutang. Setelah beberapa lama akhirnya bel sudah tidak berbunyi.
"Iya ... ayo kita naik ke kamar. Kamu juga harus istirahat. Kasihan bayi kita," Barra mengelus-elus perut Rania.
Di dalam kamar ...
Sudah jam sebelas malam, Rania sudah terlelap sementara Barra masih terjaga. Bagaimana dia bisa tidur jika rumahnya akan di sita dan ibunya tidak ada kabarnya. Barra turun lagi menuju ruang tamu. Sebisa mungkin malam ini dia harus bicara dengan ibunya sampai tuntas. Dia harus tahu kebenaran hutang yang jumlahnya fantastis itu benar adanya atau hanya modus penipuan.
Barra mondar mandir di ruang tamu sampai akhirnya dia lelah. Sudah jam dua lebih tapi ibunya tidak kunjung pulang. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Pagi harinya...
Baik Rania maupun Barra terbangun karena Bi Yani mengetuk pintu untuk memberitahu kalau sarapan sudah siap. Dengan malas-malasan Rania bangun. Sementara Barra langsung teringat hutang ibunya, membuat dia malas untuk menghadapi hari.
"Aku mandi duluan." Rania langsung bangun dari tempat tidur. Jika biasanya Barra merengek minta mandi bersama, hari ini dia tidak berminat sama sekali.
Setelah beberapa saat Rania sudah keluar dari kamar mandi. "Cepat bangun terus mandi. Biar pikiran kamu juga fresh."
Barra hanya menggeliat dan kembali meringkuk di balik selimutnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau, aku mau turun duluan. Perutku sudah lapar."
"Aku akan menyusul," balas Barra.
Rania sampai di meja makan sendirian. Aroma sedap masakan yang tersaji di meja makan membuat perutnya berteriak-teriak minta di isi. Rania segera duduk dan mengambil piring. Tanpa menunggu Barra dia mulai makan sendiri.
"Apa Ibu tidak ada kamarnya Mbak?" tanya Rania pada Mbak Imah yang berdiri tepat di belakang kursinya.
"Ada Bu, tadi pagi pas saya sama Bi Yani datang terus masuk ke dapur ada Bu Widia di sana. Tapi sepertinya beliau baru pulang, soalnya pakainya pakaian rapi, bukan baju tidur maksudnya."
"Benarkah?" Rania tidak percaya. Bi Yani dan Mbak Imah biasanya datang ke rumah saat pagi buta, sekitar jam empat atau setengah lima.
Berarti tadi malam ibu pulang pagi lagi?
Rania tengah menikmati sarapannya saat bel berbunyi. Jantungnya langsung berdegup kencang hanya mendengar bel berbunyi saja. Dia benar-benar sudah trauma, takut yang memencet bel adalah para penagih hutang kemarin, atau penagih yang lain lagi.
Demikian juga Imah yang berdiri di belakangnya Rania. Matanya langsung melotot, takut jika dia yang harus membuka pintu.
"Bu ... Saya takut kalau disuruh buka pintu. Siapa tahu orang yang kemarin." Wajah Imah memelas.
"Saya juga takut Mbak."
"Kita tunggu Pak Barra saja, biar Pak Barra yang buka pintu," tawar Imah.
"Coba Mbak Imah tengok dulu dari kaca jendela. Siapa tahu orang lain. Kalau orangnya tidak mencurigakan bukakan pintu dan tanya maksudnya apa datang kesini."
"Oh ... Baik Bu, kalau begitu saya tidak takut."
Mbak Imah segera berlari ke depan dan melihat melalui jendela siapa yang datang. Ternyata seorang perempuan. Setelah itu barulah dia bukakan pintu.
"Maaf Bu, ada perlu apa? Ingin ketemu siapa?" tanya Imah kepada wanita di balik pintu.
Rania yang penasaran karena Imah tak langsung kembali ke ruang makan pun menyusulnya ke pintu depan.
"Mbak Imah, siapa yang datang?" tanya Rania sambil berjalan mendekati Imah.
Setelah sampai di depan pintu Rania tertegun melihat siapa yang datang. Seorang wanita seusianya dengan perut membuncit menatapnya dengan pandangan yang sangat tidak bersahabat.
"Mencari siapa Mbak?"
__ADS_1