Balasan Untuk Suamiku

Balasan Untuk Suamiku
Mengambil Tindakan


__ADS_3

Malik masih setia menunggu Rania di samping tempat tidurnya. Tidak ada luka yang berbahaya. Hanya sedikit jahitan di keningnya dan beberapa memar di wajahnya. Kandungan baik-baik saja meski sebelumnya mengalami kontraksi. Selebihnya Rania baik-baik saja. Mungkin tinggal memulihkan perasaannya dari shock yang disebabkan oleh Barra.


Malik mendapat telepon dari orang suruhannya. Dia segera keluar dari kamar perawatan meninggalkan Rania yang sedang tertidur lelap.


"Halo!"


"Saya sudah mengetahui bagaimana caranya orang itu bisa keluar dari area kantor Pak melalui rekaman cctv Pak," jawab orang yang berbicara di ujung telfon.


"Katakan!" jawab Malik tegas.


"Dia bersembunyi di ruangan bapak Affandi, karena itu anak buah saya tidak menemukannya. Tidak ada yang mencari di ruangan bapak Affandi."


"Jadi Affandi menyembunyikan dia di ruangannya?" tanya malik dingin.


"Sepertinya begitu Pak."


"Sekarang kalian cari dia sampai ketemu! Jangan bawa ke polisi tapi seret langsung ke hadapanku!"


"Baik pak!"


Malik menutup teleponnya kemudian menghubungi nomor lain.


"Keluarkan surat pemecatan kepada Harun Affandi. Hitung semua aset perusahaan yang dia gunakan dan tarik semuanya! Tarik juga mobil, rumah dan semua fasilitas perusahaan yang dia terima!"


"Baik Pak."


"Buat laporan ke polisi dan pastikan dia mendekam di penjara!!"


"Ada lagi Pak?"


"Sementara itu dulu. Aku akan menelepon mu untuk langkah selanjutnya." Malik menutup teleponnya.


"Aku terlalu lunak pada kalian!"


Sebelumnya Malik terlalu panik melihat kondisi Rania hingga tidak begitu memikirkan masalah kaburnya Barra setelah menganiaya Rania. Tetapi sekarang setelah dia lebih tenang, dia akan melakukan apa saja untuk membalas apa yang sudah dia lakukan pada Rania.


Kemudian dia kembali ke kamar Rania. Dipandanginya Rania yang masih terlelap.


"Bagaimana jadinya jika mereka terlambat menemukan mu?" gumam Malik. Dia mendekati Rania kemudian mengelus perutnya.

__ADS_1


"Anak-anak Daddy memang kuat," bisiknya ke perut Rania. Tendangan kecil dirasakan tangan Malik mungkin respon dari anak-anaknya. Malik tersenyum.


"Kalian baik-baik saja. Jaga Mommy kalian."


Rania terbangun merasakan sentuhan di perutnya. Senyum malaikat penyelamatnya menyambutnya begitu dia membuka mata.


"Sudah lebih baik?"


Rania mengangguk. "Terima kasih ... Kamu selalu menjadi penyelamat ku."


"Apapun untukmu." Malik balas tersenyum.


Selanjutnya mereka sama sekali tidak membahas Barra dan apa yang sudah dia lakukan pada Rania. Mereka hanya membicarakan perihal calon anak mereka, siapa nanti namanya dan semua yang indah-indah tentang hidup mereka.


Malik tidak ingin membuat Rania terus teringat kejadian yang baru saja menimpanya. Diam-diam dia akan membalas Barra atas apa yang sudah dia lakukan pada Rania.


* * *


Barra panik melihat ibunya pingsan. Dia segera membopong tubuh ibunya dan membawanya ke kamarnya. Sementara itu setelah kepergian Barra, Hanna dengan tertatih-tatih berjalan keluar dari kamarnya. Dia terlihat sangat berantakan dengan wajah yang penuh lebam dan juga darah yang masih mengalir di kening, hidung dan sudut bibirnya.


Hanna sudah tidak mempedulikan penampilannya. Yang dia inginkan sekarang hanya bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup sebelum Barra kembali dan menghajarnya lagi.


Imah begitu kaget melihat penampilan Hanna.


"Bu Hanna tidak apa-apa?" tanya Imah.


"Sssttt ..."


Hanna memberi isyarat agar Imah menutup mulutnya. Imah hanya mengangguk. Ditatapnya wajah Hanna dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Antara kasihan tapi juga ngeri. Wajah cantik itu babak belur hingga hampir tidak ada sisa kecantikannya.


"Ayo kita pergi dari sini," bisik Hanna dengan suara yang sangat pelan hampir tidak terdengar. Sedikit banyak Imah bisa mengerti apa yang baru saja terjadi pada majikannya. Imah yang mulai mengerti keadaan Hanna hanya mengangguk. Dia mengikuti Hanna dan mengendap-endap di belakangnya.


Dengan kunci mobil yang sudah berada di genggamannya, Hanna dan Imah berjalan pelan menuju garasi. Beruntung Alicia diam sehingga tidak memancing perhatian Barra dan memudahkan mereka untuk keluar dari rumah itu. Segera Hanna menyalakan mesin mobilnya sebelum Barra mencarinya.


Hanna lega sekali begitu dia sudah mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah Barra. Dia bisa bernafas lega dan tersenyum sambil meneteskan air mata.


"Kita mau kemana sekarang Bu?" tanya Imah duduk di sampingnya sambil menggendong Alicia.


"Aku akan pulang ke rumah Papa."

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya Bu Hanna memeriksakan keadaan ibu dulu? Itu takutnya luka bu Hanna nanti bisa infeksi. Sekalian visum aja bu, buat jaga-jaga."


Hanna langsung menoleh ke arah Imah.


"Kamu benar Imah. Kita ke rumah sakit dahulu!" Hanna membelokkan mobilnya menuju rumah sakit.


* * *


Hanna sudah selesai dengan urusannya di rumah sakit. Luka-lukanya sudah diobati dan keningnya juga di jahit. Tinggal lebam-lebam di sekitar bibir dan sudut matanya saja yang masih terlihat jelas. Tidak main-main Barra menghajarnya tadi.


Setelah itu dia mengendarai mobilnya menuju rumah Papa nya, Affandi. Dia akan tinggal di sana. Hanna sudah memikirkan akan menggugat cerai Barra dan melaporkan apa yang sudah dia lakukan ke polisi. Hanna merasa yakin karena sudah memiliki bukti visum.


Hanna benar-benar lega ketika dia sudah memasuki area perumahan irang tuanya. Dia pikir dia sudah terlepas dari kemalangan, tapi dia tidak tahu jika ada malapetaka lain menunggunya di rumah orang tuanya.


Hanna tampak heran melihat rumah orang tuanya dipenuhi banyak orang. Dia segera turun dan mendekat.


"Ada apa ini?" tanyanya kepada orang-orang itu.


"Hanna ... Hanna ... " teriak Mama nya dari dalam rumah.


"Ada apa ini Mah? Kenapa mereka semua ada di sini?"


"Hanna ... kenapa wajahmu nak? Kamu kenapa?" Hera justru balas bertanya kepada Hanna.


"Jawab pertanyaan aku Mah! Apa yang mereka lakukan di rumah kita? Bukankah mereka ini bawahan Papa?"


"Mereka ingin menyita rumah kita sayang ... " jawab Hera sambil berurai air mata. "Papa mu sudah dipenjara dan sekarang mereka mengambil semua milik kita."


"Apa maksud Mama? Apa mereka tidak salah?!" Hanna tidak percaya.


"Mama juga tidak tahu ... Yang jelas sekarang Papamu sudah dipenjara. Entah karena alasan apa."


"Maaf Bu, tolong segera kemasi barang-barang ibu. Anda harus segera meninggalkan rumah ini karena rumah ini sudah diambil alih oleh perusahaan," ucap seorang dari mereka.


"Apa maksud kalian?! Apa salah papaku sampai mereka memenjarakannya?!"


"Tuan Affandi terbukti menggunakan dana perusahaan untuk keperluan pribadinya. Karena itu rumah dan semua aset perusahaan yang diberikan kepada pak Affandi ditarik oleh perusahaan."


Hera dan Hanna hanya melongo. Mereka tidak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


"Hanna bantu Mama mengemasi barang-barang Mama dan juga barang-barangmu yang masih ada di sini."


__ADS_2