
Aku sudah siap dengan tas juga pakaian ku. Hari ini aku akan pergi untuk kerumah paman. Tidak ada alasan untuk aku membenci keluarga Paman. Bagaimanapun mereka yang sudah mengasuh aku hingga saat ini.
"Aqil. Aku berangkat dulu." aku berpamitan dengan Aqil yang masih tiduran.
"Apa hari ini kamu akan ke toko bunga?" tanya Aqil.
"Aku tidak tahu nanti. Aku pergi dulu ya."
"Ok. Aku akan menunggumu."
"Jangan pura-pura baik." Aku keluar dengan tersenyum.
Aku memanggil sopir untuk mengantarku hari ini. Aku juga punya janji untuk bertemu dengan Vidi. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan padaku.
"Mau kemana Non?"
"Kerumah Paman Tejo. Setelah itu ke toko bunga."
"Baik Non".
Suasana jalanan yang senggang. Ini memang hari Minggu, jadi banyak orang yang memilih berdiam diri di rumah.
💝 💝 💝
"Assalamu'alaikum Paman." Aku mengetuk pintu beberapa kali.
"Kamu mencari siapa?"
Aku menoleh dan melihat Nenek tetangga. Orang yang selalu menemaniku bermain.
"Aku cari paman dan Tante Nek."
"Mereka baru saja pergi tadi malam setelah beberapa orang datang."
"Siapa Nek?"
"Aku tidak tahu tapi Tantemu keluar dengan menangis. Lalu diikuti Pamanmu."
"Nenek tahu kemana mereka pergi?" tanyaku lagi.
Nenek hanya menggeleng. Aku mungkin akan mencari di kontrakan dekat sini. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan mereka.
"Kalau begitu, aku pamit dulu Nek".
"Tidak mau mampir dulu?" tawar Nenek.
"Lain kali ya Nek".
Aku langsung masuk ke mobil dan menyuruh sopir untuk langsung ke toko bunga saja. Aku akan mulai mencari paman besok.
Beberapa kali aku mencoba menelfon ke nomor Paman Tejo dan Tante Maya namun tidak ada jawaban. Aku takut mereka tidak punya tempat tinggal. Aku sudah sangat menyayangi mereka seperti orang tuaku sendiri. Walau masih banyak misteri yang merek tutup-tutupi.
__ADS_1
"Non. Non, ini sudah sampai."
"Maaf Pak. Terima kasih sudah mengantar. Bapak bisa langsung pulang saja," aku mengatakan itu sebelum turun dari mobil.
"Baik Non."
Aku melihat beberapa orang baru saja keluar dari toko. Aku melihat Giel sedang kebingungan kali ini.
"Ada apa Giel?" tanyaku padanya.
"Akhirnya Mbak kesini. Di ruangan Mbak ada orang yang mengaku keluarga Mbak." Giel terlihat sangat gelisah.
"Siapa?"
"Dua orang laki-laki Mbak."
"Kamu tenang dulu Giel. Aku akan melihat mereka dan jika terjadi apa-apa. Kamu bisa menelfon Nia atau polisi."
"Baik Mbak. Hati-hati ya Mbak."
Aku mencoba tetap tenang dan masuk ke ruanganku.
"Maaf. Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pada dua orang itu.
Mereka terlihat sangat kekar dan mengerikan. Tatapan merekapun sangat menakutkan. Kenapa bisa mereka bisa mengaku menjadi keluargaku.
"Akhirnya kamu datang juga," kata salah satu dari mereka.
"Bayar hutang Tejo dan Maya. Aku akan membebaskan mereka."
"Apa?" Aku kaget mendengar perkataan mereka.
"Kamu hanya perlu membayar seratus juta."
Aku semakin kaget saja. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Dan kenapa Paman dan Tante punya hutang sebanyak itu.
"Kami akan beri waktu tiga hari. Jika belum ada, nyawa mereka yang terancam."
Mereka langsung keluar begitu saja. Aku masih kebingungan dengan hal ini. Aku harus mengeluarkan Paman Tejo dan Tante Maya, tapi bagaimana caranya.
💝 💝 💝
Malam ini aku sengaja menunggu Aqil. Aku akan menceritakan tentang Paman, mungkin dia akan membantuku kali ini.
"Nia. Apa Aqil pulang telat hari ini?" aku yang melihat Nia dari tadi hanya duduk di dekat pintu masuk.
"Aku tidak tahu Non. Memagnya ada apa, Non?"
"Kalau dia sudah pulang tolong beritahu dia. Aku akan menunggu."
"Baik Non."
__ADS_1
Aku kembali ke kamar dan terus menunggu Aqil. Hampir larut malam sampai suara gaduh membuat aku terbangun.
Aku melihat Aqil masuk ke kamar dengan Mei yang berada disisinya. Mereka mabuk kali ini. Aku mencoba membantu Aqil berjalan, namun aku didorong Mei.
"Dia sedang bersamaku. Cepat keluar."
Aku langsung berdiri begitu mendengar perkataan Mei. Dia mengaturku seperti aku ini tamu dirumahnya.
"Kamu menyuruhku pergi? Apa sebaiknya aku yang mengusirmu?" kataku.
"Ini sudah larut malam. Biarkan aku istirahat dengan pacarku," ucap Aqil yang membuat aku terkejut.
"Dengar apa kata Aqil kan? Cepat keluar."
Aku menatap mereka. Baru tadi malam Aqil membuat aku bahagia dan membuat aku menyerahkan hatiku. Sekarang dengan mudahnya dia mematahkan hatiku.
"Baik. Terserah kalian mau berbuat apa." Aku keluar dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi. Aku menangis.
"Non. Tidak apa-apa?"
Nia mencoba membantuku untuk tetap berdiri. Dia membawaku ke kamar tamu.
"Aku akan bawakan minuman." Nia keluar untuk mengambilkan minum.
Mungkin maksudnya agar aku lebih tenang. Aku memikirkan keluargaku yang sedang terancam nyawanya. Sekarang malah hatiku yang harus diinjak-injak.
"Minum dulu. Ini teh, mungkin bisa lebih menenangkan."
"Terima kasih, Nia."
Nia tersenyum dan duduk disebelahku. Dia menatapku seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Ada yang mau kau katakan?" tanyaku.
"Jangan pernah terluka dengan sikap licik Mei. Dia sudah sering membuat wanita yang dijodohkan untuk Tuan meninggalkan Tuan."
"Maksudmu? Aku bukan istri pertamanya?"
Nia mengangguk pelan. "Aku mengira kau sama saja dengan wanita lainya. Yang hanya menginginkan harta Tuan. Termasuk Mei."
Nia menjeda omonganya dan menatap kesebuah lukisan.
"Aku hanya khwatari dengan pernihakan Tuan kali ini. Tapi, aku melihat kamu sabar menjalani semuanya."
Aku menunduk. Aku sabar karna alasanku sendiri. Aku memang tidak mencintai Aqil dari harta. Namun aku juga tidak ingin memaksakan hatinya.
"Tolong. Buat Tuan mencintaimu dan meninggalkan Mei." Nia berdiri dan langsung keluar dari kamar.
Aku tidak paham dengan apa yang dikatakan Nia. Tapi, Nia hanya ingin Aqil terbebas dari jerat Mei. Jika Nia tidak mengatakannya, aku tidak akan tahu jika aku bukanlah istri pertama untuknya.
💝 💝 💝
__ADS_1
to be continued