Bertahan

Bertahan
Part 13


__ADS_3

Aku bangun dengan badan yang terasa sakit. Ruangan ini bukan rumah Aqil. Lalu aku dimana. Bahkan tangan dan kakiku terikat.


"Kenapa badanku sakit semua." Aku mencoba meregangkan tubuhku.


"Kau sudah bangun?" Aku melihat Nia yang sedang membawa mangkuk dan gelas.


"Kenapa aku ada disini?" tanyaku pada Nia.


"Minum dulu susunya dan makan bubur ini." Nia meletakanya diatas nakas.


"Bagaimana aku akan makan. Tangan dan kakiku terikat."


Tanpa jawaban, Nia membuka perlahan ikatan di tangan dan kakiku. Wajahnya terlihat sembab, bahkan ada bekas lebam di pipinya.


"Kenapa aku dirumahmu?" tanyaku lagi.


"Jangan keras-keras nanti Gama bisa tahu."


Aku bingung dengan jawaban Nia. Kenapa Gama, bukanya ini rumahnya.


"Aku tahu kamu bingung. Aku akan menjelaskanya nanti setelah kamu pulih."


Bahkan bukan lagi Nona tapi namaku yang langsung disebut oleh Nia. Dia bahkan mengatakan suara yang sangat lirih.


"Jangan keluar dari ruangan ini sebelum aku datang." Nia meletakan sebuah ponsel didekatku.


"Aqil akan menelfonmu sebentar lagi. Aku keluar dulu." Nia langsung keluar.


"Nia tunggu." Aku mencoba mencegah Nia, namun percuma saja. Dia sudah pergi.


Drama apa ini. Apa aku menjadi pemeranya. Mei, Nia, Aqil dan Gama. Apa mereka bersekongkol.


"Hallo. Gimana kamu disana?".pertanyaan Aqil langsung membuat aku kaget saat mengangkat telfon.


"*Kamu nggak berniat menjemputku?"


"*Aku ingin, tapi aku sedang ada tamu penting."


"Aku tahu. Aku ditakdirkan sendiri**."


Aku langsung menutup telfon itu. Paman dan Tanteku sudah menjebakku demi uang dan sekarang suamiku sendiri, Aqil. Juga hanya mau mencari uang. Dia bahkan tidak perduli aku dimana dan bagaimana.


Aku kembali merebahkan badanku dan menunggu Nia. Aku tidak tahu harus percaya dengan siapa lagi sekarang. Makan dan minumpun tidak berselera.

__ADS_1


💝 💝 💝


Aku duduk dengan Nia yang masih saja meminta maaf. Aku baru tahu semua ini saat ini. Tidak tahu rasanya harus bagaimana. Kenapa juga Aqil tega membuat Nia menjadi pancinganya.


"Sudah berapa lama kamu dengan Gama?" tanyaku pada Nia.


"Bagiku sudah sangat lama."


"Aku akan mengatakan pada Aqil nanti. Kamu bisa pulang. Aku ada urusan lain." Aku mengambil tasku dan langsung pergi.


Aku berniat untuk ketempat Paman dan Tante. Aku harus menanyakan semua kebenaran ini. Aku siapa dan kenapa mereka ikut menjebakku hanya karna uang.


"Kealamat ini Pak." aku menunjukan alamat baru Paman dan Tanteku.


"Baik Nona."


Tidak lama ternyata untuk sampai dirumah Paman. Aku merasa lega ketika melihat Paman Tejo sehat. Dia sedang menyiram tanaman. Aku mendekat kearah paman.


"Assalamu'alaikum Paman."


"Wa..wa'alaikumsalam Al."


Paman terlihat sangat kaget ketika melihatku. Aku melihat kesekitar tapi tidak ada Tante. Aku harus tahu jawaban semua ini kali ini.


"Sedang masak. Kamu tahu alamat ini dari siapa?" tanya Paman.


"Itu tidak penting. Boleh aku ngobrol dengan Paman dan Tante?"


"Iya. Ayo masuk." Paman meletakan peralatan menyiramnya.


Aku lihat banyak perubahan pada Paman dan Tante. Mereka tinggal ditempat yang lebih layak. Bahkan terlihat mewah.


"Kamu duduk dulu Al. Paman akan penggilkan Tantemu kesini."


"Iya Paman." Aku duduk disofa putih dengan motif bunga.


Kehidupan mereka lebih terjamin sekarang. Walau dengan cara menyakitiku.


"Kamu? Kamu datang dengan siapa?" tanya Tante. Kali ini nada bicaranya lebih rendah dari biasanya.


"Aku sendiri Tante. Tante sehat?"


"Alhamdulillah sehat."

__ADS_1


"Tante. Apa sekarang Tante dan Paman akan berkata jujur padaku?"


"Maksud kamu apa Alisha?" tanya Paman.


"Aku mau tahu. Aku ini siapa?"


"Kamu itu..."


"Kamu ponakan kami satu-satunya. Kamu anak Kakakku," kata Paman mencoba menyela Tante.


"Aku mohon. Katakan sejujurnya."


"Alisha."


"Aku mohon Paman. Aku ingin tahu siapa diriku. Kalian sudah tega menjebakku, apa kalian masih butuh uang lagi?"


Paman menunduk dan menatapku. "Aku menceritakanya. Tapi kamu harus berjanji. Jangan membenci siapapun.”


"Aku janji.”


Paman mulai menceritakan semuanya. Aku hanya diam dan mendengarkan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Menangis atau apa. Aku hanya mampu terdiam.


"Jadi, orang tuaku meninggal kareka kecelakaan. Lalu kenapa aku masih hidup?"


Paman Tejo terlihat bingung untuk menjawab. Matanya menerawang jauh, entah apa yang sedang di pikirkanya.


"Paman, jangan takut katakan saja."


"Alisha. Jangan terlalu memaksa, biarkan paman kamu tenang dulu," kata tante Maya kemudian.


Benar juga. Mungkin paman juga punya pengalaman mengerikan tentang hal ini.


"Maafkan kami Alisha. Kami menyembunyikan ini selama ini,” kata Tante Maya.


"Aku tidak apa-apa tante. Aku akan pulang sekarang." Aku mengusap air mataku.


"Besok. Aku akan mengantarkan kamu ke makam orang tuamu." Paman mengatakan itu sebelum aku pergi.


"Terima kasih, Paman. Aku akan pulang. Permisi."


Aku langsung keluar dari rumah itu. Aku mencari taxsi agar cepat sampai di rumah. Pikiranku sudah sangat semrawut. Apa benar yang dikatakan paman Tejo. Jika iya, apa aku harus bertanya pada Aqil atau papa Adrik.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2