
Aku membuatkan sup dan juga makanan lain. Aku menunggu Aqil turun untuk makan. Nia sudah mencoba melarangku untuk masak, namun kali ini aku memaksa.
"Sayang. Aku mau menginap disini lagi."
Aku menoleh dan melihat Mei yang sedang menggelayut manja dilengan suamiku. Wajah Aqil begitu datar.
"Boleh ya Sayang," rengek Mei pada Aqil.
"Aqil. Sarapan dulu, setelah itu ke kantor." aku menyiapkan piring dan sendok.
"Terima kasih sudah menyiapkan sarapan." Aqil langsung duduk dan mulai bersiap makan.
"Mau pakai lauk apa? Ikan? Ayam?" tanyaku pada Aqil.
"Siapkan jus jambu saja." Aqil mengatakan dengan senyuman.
"Baiklah."
"Bukan kamu." Aqil memegang tanganku. "Dia yang aku suruh." Aqil menunjuk kearah Mei.
"Kau menyuruhku?" Mei terlihat sangat marah.
"Jika tidak mau. Kamu bisa pergi sekarang." Aqil menarikku untuk duduk disebelahnya.
"Bukanya dia pembantumu. Dia saja yang membuatkan jus. Kamu makan sama aku." Mei langsung duduk dan mengambil nasi.
Aku hanya melihat mereka berdua. Aku mengira Aqil akan sesalu membela Mei. Tapi, dia juga membelaku sekarang. Entah apa yang ada dipikiran pria gila ini.
"Aku akan pergi ke kantor. Aku akan pulang makan siang." Aqil langsung mencium keningku tepat didepan Mei.
"Tolong bilang ke satpam. Suruh dia pergi." Nia mengangguk dan langsung melaksanakan tugasnya. Menyuruh satpam untuk mengusir Mei.
"Aku akan membalasmu Alisha." Kata Mei dan langsung keluar sebelum Nia dan satpam masuk kerumah.
"Kamu mau mengatakan apa tadi malam?" tanya Aqil.
Aku menggeleng, "Nanti saja."
"Baiklah. Aku akan pergi dulu."
Aku mengantar Aqil sampai di teras. Setelah mobil menjauh, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Aku harus bersiap untuk ke toko.
💝 💝 💝
Aku masih termenung dengan keadaan keluarga Paman. Mereka bahkan tidak memiliki anak untuk bergantung. Waktunya tinggal dua hari lagi.
Aku kembali melayani beberapa tamu toko yang meminta buket untuk acara mereka. Giel yang sedang menyiram tanaman terlihat ceria seperti biasanya.
"Baik. Nanti biar karyawan saya yang mengantarnya," kataku pada mereka.
"Tidak bisakah anda saja yang langsung datang dan mendekor ruangan?"
"Mendekor? Aku kira hanya beberapa buket bunga."
"Kami ingin ruangan acara kami dihiasi oleh bunga asli. Alasan kami kesini karna meminta anda untuk mendekorasi langsung."
__ADS_1
Mungkin uangnya akan mampu aku kumpulkan. "Baik. Besok saya akan datang pagi dengan karyawan saya."
Aku melihat Giel yang sedang menata bunga dipojok ruangan. "Giel. Tolong catat bunga dan detail dekorasi tamu kita."
"Baik mbak."
"Permisi. Saya tinggal dulu."
"Trimakasih Bu Alisha."
"Sama-sama."
Aku meninggalkan mereka. Jam sudah menunjukan waktu makan siang. Aku langsung pulang karna Aqil berjanji akan pulang untuk makan siang.
Aku masuk ke mini market untuk beli beberapa bahan makanan. Aku akan memasakan sesuatu yang sepesial untuk Aqil kali ini.
"Hanya ini?" tanya gadis kasir.
"Iya."
Aku sedang mengambil uang di dompet.
"Alisha. Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini."
"Kamu tumben ke mini market?" Memang baru kali ini aku melihat Vidi ke mini market.
"Ada barang yang mendadak harus aku beli."
"Alasan yang bagus."
"Dia suamiku bukan suami pembantuku."
"Total dua ratus ribu rupiah."
Aku menyerahkan uang dan mengambil barang belanjaku.
"Aku duluan ya." Aku keluar dari mini market dengan membawa belanja yang cukup banyak
Aku masih meeasakan jika Vidi memandangku dari belakang. Belakangan ini, dia selalu ingin mengucapkan sesuatu. Namun akhirnya, dia tidak mengatakan hal penting. Ada hal yang belum dia sampaikan padaku.
💝 💝 💝
"Terima kasih sudah menyiapkan meja makan. Kalian bisa kembali." Dua pelayan itu langsung kembali kedapur lagi.
Tidak lama Aqil masuk. Dia tersenyum dan menyerahkan tasnya. Aku menerima tas itu.
"Aku kira kau akan mengingkari janji lagi." aku meletakan tas itu di meja.
"Aku akan mencoba menjadi suami terbaik buat kamu."
"Aku tahu itu." Aku menggandeng tangan Aqil. "Aku sudah masak. Ayo makan."
"Tumben kamu masak buat aku?"
Aku langsung pura-pura marah pada Aqil. "Kamu kan yang melarangku kedapur."
__ADS_1
"Iya. Iya. Maaf ya sayang."
Aku merasa kalau Aqil semakin mesra padaku. Aku merasa diperhatikan dan disayangi oleh Aqil.
"Maaf Tuan, Non. Ini ada telfon penting untuk Tuan." Nia langsung menyerahkan ponsel itu pada Aqil.
"Sebentar ya, aku angkat telfon dulu."
"Iya."
Aqil langsung menjauh dariku. Sepertinya telfon yang benar-benar penting. Wajah Aqil langsung berubah.
"Sudah selesai? Sekarang makan ya," kataku yang melihat Aqil sudah kembali.
"Maaf. Aku ada urusan mendadak. Oh ya, aku sudah kirim uang untukmu."
Uang? Kenapa Aqil mengirimi uang. Baru kali ini dia benar-benar melakukanya untukku. Apa dia tahu sesuatu. Kenapa Aqil tahu aku sangat butub uang.
"Terima kasih." Siapa yang mengatakan padanya. Padahal, aku tidak mengatakan pada siapapun.
"Iya. Aku pergi dulu."
"Hati-hati."
Aqil mencium keningku sebelum keluar. Dia langsung berangkat diikuti Nia.
"Kamu tidak usah ikut. Ini urusan pribadi." Sentak Aqil membuat Nia langsung berhenti di tempat.
"Tapi..Tuan...."
"Jaga saja Alisha untukku."
Baru kali ini Aqil terlihat sangat gelisah. Dia bahkan sampai membentak Nia. Setelah kepergian Aqil aku mengajak Nia untuk makan bersama.
"Nia. Temani aku makan ya."
"Tapi..."
"Ayolah. Tidak enak makan sendirian."
Kami memulai makan. Banyak hal yang aku ingin tanyakan, namun aku urungkan.
"Nia. Kenapa kamu tidak bisa ikut ke kantor?" tanyaku.
Nia menggeleng, "Tuan tidak ke kantor. Sepertinya ada urusan lain, bahkan saya juga tidak tahu."
"Tunggu. Setahuku kamu adalah asisten rumah tangga. Kenapa kamu juga mengurus segalanya?"
"Saya asisten pribadi Tuan Aqil," kata Nia dengan senyuman.
Aku baru tahu setatus Nia yang sebenarnya. Pantas saja, apa-apa selalu Nia.
💝 💝 💝
to be continued
__ADS_1