
Acara sudah dimulai. Beberapa kali aku mencoba membuka pintu, tapi masih juga di kunci dari luar.
"Katanya dua jam, ini sudah lebih." Keluhku.
Aku kembali duduk di tepi tempat tidur. Aku masih menatap jam dinding. Lalu, pintu terbuka aku melihat Zefan diambang pintu.
"Zefan." Aku berlari kecil dan langsung memeluk Zefan, "Kenapa waktu terasa tidak berjalan," kataku dalam pelukan Zefan.
Zefan tertawa kecil dan melepaskan pelukanku, "Sekarang kita sudah bertemu. Kamu mau apa?" tanya Zefan.
"Aku lapar, ingin makan."
Zefan tertawa cukup keras. Dia mengajakku keluar, banyak orang yang sudah di dalam ruangan. Aku tidak tahu jika aku akan menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Apa ada yang salah dariku?" bisikku pada Zefan.
"Ya, kau sangat cantik. Bahkan aku cemburu dengan pria yang sedang melihatmu."
"Kau ini, aku serius."
"Aku juga serius."
Kami masih berbisik sampai di samping Ibu. Dengan bangga Ibu memperkenalkan pada semua orang di pengeras suara.
"Semuanya, perkenalkan ini menantuku. Alisha."
Semua orang tersenyum dan bertepuk tangan. Hanya sepasang mata yang memandangku tidak suka. Aqil, dia di sini dengan keluarga Yesi.
"Cantik sekali menantumu," kata wanita yang memakai gaun hijau di samping Mama.
"Dia memang cantik sepertiku."
Teman-teman Mama kembali bersenda gurau. Sementara aku dan Zefan memilih duduk di taman. Di sana lebih sepi dan tentunya enak untuk bicara. Tidak seperti ruang utama yang penuh dengan orang dan suara musik kesukaan Mama.
"Apa kau tidak suka di sini?" tanya Zefan padaku.
Aku menoleh padanya. Zefan terlihat lelah dengan mata yang memandang jauh ke atas.
"Aku suka, aku hanya tidak suka dengan suasana yang terlalu ramai."
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Zefan kemudian.
"Kau lucu, sudah tentu aku mencintaimu."
Zefan tertawa kecil, "Bagaimana jika kamu hanya menganggap aku sebagai pelarian daru Aqil."
Aku tidak tahu kenapa Zefan berubah. Dalam waktu dua jam lebih kami tidak bertemu dan sekarang dia malah mengatakan hal ini. Mungkin aku akan menjawab benar jika dia menanyakan di awal kami menikah. Namun sekarang sudah lain.
"Benar ternyata. Kau hanya menjadikan aku sebagai pelarian."
"Tunggu, aku belum menjawab apapun."
"Sudahlah, lebih baik kita masuk dan ikut acara ini. Jika kamu memang sayang Mama."
Zefan meninggalkan aku sendiri, semakin ke sini Zefan berubah. Seperti ada yang mengatakan hal lain pada Zefan. Untuk kali ini aku akan mengikuti kemauanya. Aku akan ikut pesta ini.
"Bagaimana dengan drama yang aku buat."
__ADS_1
Aku berhenti saat mendengar suara itu. Aku tidak melihat jika ada Aqil yang sedang berdiri di pojok ruangan ini.
"Jadi kau yang melakukanya? sebenarnya apa mau kamu?" tanyaku dengan kesal.
Aqil tertawa kecil, "Apa lagi, aku hanya ingin memiliki seutuhnya. Aku sudah mencoba membujukmu secara perlahan dan hanya ini cara yang paling ampuh." Kembali Aqil tertawa.
"Lihat saja apa yang akan terjadi nanti."
Aku masuk ke ruang acara. Aku bahkan tidak menemukan Zefan di manapun.
"Di mana dia?" tanyaku lirih.
"Kau mencari siapa?" tanya Mama yang ternyata sudah di sampingku.
Aku tersenyum tipis, "Aku mencari Zefan, Ma."
"Zefan sedang membicarakan hal penting dengan Yesi. Lebih baik, kamu bersenang-senang sembari menunggu Zefan."
Aku mengangguk, "Baik, Ma."
Entah kenapa, aku merasa terluka saat tahu jika Zefan dengan wanita lain. Aku kira, perjalanan cintaku sudah selesai. Namun tetap saja, Aqil mengganggu hubungan ini.
💝💝💝
Pagi ini aku terbangun cukup pagi, tidak ada Zefan di sampingku. Apa semalam Zefan tidak masuk ke kamar, lalu dia tidur di mana?
Aku bergegas turun untuk membuat sarapan. Sisa acara semalam masih sangat berantakam. Kata Mama nanti akan ada yang mengurusnya.
Aku masuk ke dalam dapur. Mama juga belum bangun, aku akan membuat nasi goreng saja kali ini.
Aku menoleh kaget, "Iya Ma. Ma, semalam Zefan tidur di mana ya?" tanyaku pada Mama.
Mama mengambil gelas dan menuangkan air putih, "Dia semalam tidur di kamar tamu, kata Zefan dia tidak ingin mengganggu tidur kamu."
Aku menunduk, alasan yang sangat bagus agar Mama tidak tahu apa yang terjadi dalam hubungan ini. Aku juga tidak mau Mama tahu, aku tidak ingin melukai hatinya.
"Ada apa Al? apa ada masalah?"
Aku menggeleng, "Tidak, Ma. Aku hanya merasa bersalah karena tidur meninggalkan Zefan."
"Bagaimana dengan cucu Mama?"
"Bulan ini memang sudah telat, tapi aku belum mengeceknya Ma." Aku mengatakan apa yang memang terjadi padaku.
"Semoga saja kamu hamil, itu akan menambah cinta Zefan pada kamu."
Aku tersenyum dan kembali melanjutkan membuat sarapan.
"Apa kamu benar-benar hamil?" tanya Zefan yang sudah mendengarkan percakapan kami.
"Masih belum jelas Fan. Namanya juga hamil, kita tidak bisa menentukan," kata Mama.
Aku menyiapkan sarapan ke meja makan. Sedari tadi aku mencoba menatap Zefan, tetap saja dia mencoba menghindar. Apa yang dikatakan Aqil pada Zefan membuat aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya harus mengikuti alur Zefan atau aku akan kehilanganya.
"Ma, aku ikut Zefan ke kantor har ini," kataku pada Mama.
"Terserah kamu saja, lagi pula di rumah juga kamu akan sendiri. Mama kan akan ke salon."
__ADS_1
Aku mengangguk. Kami melanjutkan sarapan kami. Sampai kami berpamitan pada Mama.
"Ma, kami duluan ya."
Aku memeluk Mama denga erat. Lalu melepaskanya.
"Hati-hati." Mama mengulas senyuman yang menenangkan, "Zefan, jaga Alisha."
"Ya, Ma."
Zefan masuk ke dalam mobil begitu saja, dia biasanya melakukan hal konyol dulu padaku.
"Aku pergi dulu, Ma."
Aku masuk ke dalam mobil. Zefan menjalankan mobilnya secara perlahan.
"Fan, kalau aku ada salah. Aku minta maaf."
"Memangnya kamu ada salah?"
"Selamam kamu tidak ke kamar. Tolong jangan membuat aku seperti ini."
"Kamu bisa diam dulu kan? aku sedang menyetir."
Aku langsung diam. Aku mengarahkan pandanganku keluar kaca mobil. Aku semakin membenci Aqil kali ini. Kenapa dia tega melakukan hal ini padaku.
💝💝💝
"Kita sudah sampai, kamu bisa turun dan istirahat di rumah," kata Zefan.
Aku tidak menyangka jika Zefan malah mengantarkan aku pulang ke rumah. Dia kemarin sudah berjanji akan membawaku ke kantor.
Tanpa kata aku turun dari mobil. Aku langsung masuk ke dalam kamar. Bahkan Bi Iyah bertanyapun aku enggan untuk menjawab.
"Di mana ponselku," lirihku saat di dalam kamar.
Aku ingat jika ponselku berada di mobil. Aku tidak membawanya. Sudahlah, Zefan pasti akan membawanya padaku nanti. Aku akan memilih tidur saja agar tidak menunggu lama.
"Non, bunga yang ada di ruang bunga bagaimana? sudah banyak yang layu." Kata Bi Iyah dari luar kamar.
Aku membuka pintu, "Tolong petikan bunga yang ada di taman belakang, nanti aku yang akan membereskan ruangan bunga."
"Non, tidak kenapa-napa kan?" tanya Bi Iyah. Dia terlihat khawatir, "Jika tidak enak badan biar Bibi yang membersihkan ruangan bunga," kata Bi Iyah lagi.
"Terima kasih, Bi. Kalau begitu aku akan istirahat dulu."
"Non, mau saya buatkan sesuatu?"
"Tidak perlu Bi. Nanti saya akan memanggil Bi Iyah jika butub sesuatu."
"Baik, Non."
Aku menutup pintu. Sebenarnya bukan badanku yang sakit, tapi hatiku yang sakit. Aku terluka karena sifat Zefan yang berubah.
💝💝💝
to be continued
__ADS_1