
"ALISHA." Teriak Aqil dan Zefan bersamaan.
Aku menatap mata Zefan. Berharap dia baik-baik saja. Perutku rasanya mulas dan seperti kram. Jika aku keguguran saat ini, mungkin aku akan membuat Aqil bahagia dan Zefan terluka.
Aqil mendekat dan langsung merengkuhku ke dalam pelukanya.
"Lepaskan istriku. Jangan sentuh dia." Zefan mencoba melepaskan dirinya dari ikatan itu.
Aqil tidak memperdulikan perkataan Zefan, "Apa kau bodoh? kau akan melukai janin dalam perutmu!" teriak Aqil dengan tatapan tidak suka.
"Apa pedulimu. Aku atau anakku, jika kami terluka. Tidak ada hubunganya dengan kamu. Kamu hanya psikopat gila." Aku menggulingkan tubuhku hingga terlepas dari rengkuhan Aqil.
"Baiklah. Jika itu yang kamu mau, aku akan membunuhmu di depan suamimu."
Aqil mengambil pisau lipat dan bersiap untuk menikam diriku. Dia mendekat, tanganya mencengkeram diriku dengan sangat kuat.
"Ini yang kamu inginkan," kata Aqil padaku.
Pisau itu kini menari diatas tubuhku. Perlahan, mata Aqil berubah. Dia bukan Aqil, dia pembunuh yang sebenarnya. Dia orang yang selama ini di cari polisi karena semua kasusnya.
Brak.
"Angkat tangan kalian!" beberapa orang polisi datang dengan senjata lengkap.
Zefan tertawa, "Sudah aku bilang. Aku tidak akan melepaskan istriku."
Aqil melepaskan diriku dan menoleh kearah pintu. Di sana sudah banyak polisi yang mengacungkan senjata.
"Apa kalian kira bisa menangkapku?" Aqil masih saja sombong.
Lalu, dor. Sebuah tembakan mengenai kaki kiri Aqil yang hendak lari.
"Angkat tangan. Kalian sudah terkepung."
Karena merasa sudah kalah. Aqil akhirnya membuang pisau lipat itu dan menurut pada polisi. Beberapa polisi wanita membantu diriku.
"Apa yang terjadi. Kenapa ada darah?" tanya polisi yang menolong diriku.
Polisi itu mencoba mengecek tubuhku. Namun, tidak ada luka atau hal lainya. Aku ingat dengan janinku. Aku sudah terlalu keras sampai membuat diriku kembali pendarahan.
"Aku...aku sedang hamil," kataku lirih.
"APA!" polisi wanita itu terlihat sangat kaget. "Ini gawat. Ayo bawa dia ke rumah sakit terdekat."
Aku tidak tahu Zefan ada di mana. Dia sudah tidak ada di sana saat aku menoleh. Semoga dia baik-baik saja. Sekarang aku hanya bisa pasrah dibawa oleh para polisi ke rumah sakit.
💝💝💝
Tangisanku sampai tidak bersuara. Aku benar-benar sudah kehilangan calon anakku. Anak yang selama ini aku dan Zefan nanti.
"Sudahlah, tidak apa. Zefan pasti akan mengerti," Mama menepuk beberapa kali pundakku.
"Aku sudah mengecewakanya," kataku lirih.
__ADS_1
Tidak tahu lagi aku harus memberikan alasan apa. Zefan akan sangat benci jika tahu, ini adalah anak yang sangat diinginkanya.
"Alisha." Zefan membuka pintu dan melihat aku yang duduk di samping Mama, "Kamu baik-baik saja?" Zefan langsung duduk di sampingku.
Aku mengangguk pelan. Rasanya tidak ada nyali untuk mengatakan tentang keguguranku ini. Baru saja aku kembali ke dalam pelukanya.
"Apa bayi kita juga baik? apa kata dokter."
Bukanya menjawab, aku malah kembali menangis. Mama yang tahu tentang perasaanku lalu membawa Zefan keluar dari ruang rawatku.
"Fan. Ikut Mama sebentar," kata Mama.
"Tapi Alisha..."
"Ayo."
Zefan tidak mampu menolak ajakan Mamanya. Dia mengekor dengan tatapan tidak rela melihat aku masih menitikan air mata.
Kini tangisku sudah reda. Aku hanya menunggu Zefan kembali. Tentunya aku sudah menyiapkan diriku apapun yang akan diputuskan Zefan.
Zefan masuk tanpa suara. Wajahnya menunduk, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca. Dia duduk, di sampingku. Tatapan mata itu, membuat aku diam.
"Maafkan aku," kata Zefan kemudian.
Aku mendongakkan kepalaku. Apa yang dikatakan Zefan, apa dia meminta maaf.
"Kau tidak salah. Aku yang salah karena tidak bisa menjaga anak ini."
"Tidak." Zefan menggenggam tanganku, "Kau tidak salah. Kau ingin melindungiku, hingga kau tidak sadar jika sedang hamil."
"Apa sekarang kita bisa tenang?" tanyaku kemudian.
Zefan mengangguk, "Kita akan mengikuti sidang Aqil. Kita akan lihat sendiri bagaimana Aqil tersiksa."
Aku memilih untuk masuk ke dalam pelukan Zefan. Kembali aku menangis, teringat Mama dan Papa, serta Mama Sarah. Mereka meninggal karena aku, karena Aqil yang terlalu cemburu pada hidupku.
"Bukan hanya kita yang terluka karena Aqil. Ada banyak keluarga juga yang terluka, termasuk keluarga angkat Aqil."
"Papa Adrik dan Mama Febri?"
Zefan mengangguk, "Mereka ingin menemuimu. Besok, kita akan makan malam bersama."
"Baiklah. Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu."
Kali ini aku merasa lebih tenang. Aku melihat sendiri Aqil di tangkap. Walau ada rasa kasihan dalam hatiku. Tapi jika teringat apa yang sudah dia lakukan, aku merasa sangat benci padanya.
💝💝💝
Bi Iyah menyambut kedatanganku. Dia sudah membuatkan jamu sepesial untukku. Walaupun aku tidak terlalu suka dengan jamu, aku akan meminumnya agar Bi Iyah bahagia.
"Selamat datang lagi di rumah, Non." Bi Iyah masuk ke dalam kamar dengan nampan di tanganya.
__ADS_1
"Iya, Bi. Bagaimana kabar Bi Iyah?" tanyaku.
"Saya baik, Non. Non, saya sudah buatkan jamu. Kata orang tua, bisa cepat untuk pemulihan," kata Bi Iyah dengan semangat.
Aku menerima gelas berisi jamu itu. Bi Iyah terlihat senang karena aku menerimanya.
"Aku akan meminumnya nanti Bi." Aku mengatakan hal itu karena Bi Iyah terlihat berharap aku meminumnya saat ini juga.
"Bi, tolong nanti malam masak lebih banyak. Aku dan Alisha sudah mengundang beberapa orang," kata Zefan saat Bi Iyah akan keluar dari dalam kamar.
"Baik, Tuan."
Bi Iyah sudah keluar. Aku masih menggenggam gelas jamu itu. Aku hanya menatap gelas itu, aku menerka-nerka rasa seperti apa yang akan aku nikmati.
"Ada apa?" tanya Zefan melihat aku yang hanya menatap gelas itu.
Aku menggeleng.
"Apa kau tidak suka?"
Aku kembali menggeleng.
"Kenapa?" Zefan duduk di sampingku, "apa rasanya pahit?"
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa tidak suka. Apa aku harus meminumnya?"
"Terserah kamu saja."
"Tapi... jika aku membuangnya. Bi Iyah akan merasa terluka."
Zefan tersenyum, "Baiklah. Minum jamu itu sembari menatapku. Pasti rasanya akan manis."
"Kali ini kau terlalu percaya diri."
Zefan tidak menjawab dan hanya menatapku. Kembali aku menatap gelas yang masih aku genggam. Setelah benar-benar siap, akhirnya aku meminum seluruh jamu itu.
Zefan hanya tertawa melihat wajahku menahan rasa pahit. Entah jamu apa ini, rasanya benar-benar pahit. Aku baru kali ini merasakanya.
"Fan. Apa besok sidangnya sudah di mulai?" tanyaku kemudian.
Zefan menggeleng, "Kita masih ada waktu tiga hari lagi. Selama itu, aku harus kembali mengumpulkan bukti lain."
"Maksud kamu?"
"Ya, Aqil sudah membunuh banyak orang. Bukan hanya satu dua, tapi puluhan dan semuanya tidak ada bukti yang kuat."
Aku mengangguk mengerti. Pantas saja, kita sangat sulit menangkapnya.
"Semoga kali ini kita berhasil."
"Jika kamu mendukungku. Aku akan lebih bersemangat lagi."
Aku mengangguk dengan semangat. Zefan memelukku dari belakang. Kami menatap matahari yang perlahan menghilang.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued