
Hari yang sangat melelahkan. Akhirnya dekorasi ruang untuk resepsi sudah jadi.
"Bagaimana? bagus bukan?" tanya Mila padaku.
"Lumayan juga untuk waktu kita yang terkuras," kataku.
Kami tertawa. Tidak lama Yesi dan Aqil masuk. Mereka juga kaget karena dekorasi yang kami susun.
"Bagaimana? apa kalian puas untuk acara kalian besok?" tanya Mila.
Yesi tersenyum. Baru kali ini aku melihat senyuman tulus dari seorang Yesi. Sangat cantik.
"Aku sangat suka." Yesi mengatakanya dengan tangan yang langsung menggandeng lengan Aqil.
Aqil menepis tangan Yesi dan mengatakan, "Kalau begitu, kalian akan menjadi tamu sepesial kami."
"Terima kasih," kata Mila.
Kami akhirnya pulang dengan perasaan lega. Tidak aku sangka, akhirnya aku dan Mila bisa menyelesaikan tugas mendadak ini.
"Apa kalian bisa makan bersama kami?" tanya Yesi saat kami akan masuk ke dalam mobil Mila.
"Maaf, ada apa ya?" tanyaku.
"Tidak, kami hanya ingin berterima kasih," kata Yesi lagi.
Aku menoleh pada Mila. Dia mengangguk tanda setuju. Mau tidak mau aku ikut saja, tidak aku sangka Yesi sendiri yang meminta aku dan Mila makan bersama.
"Ini alamat restoran yang sudah aku dan Aqil pesan. Kalian langsung ke sana saja." Yesi menyodorkan sebuah kertas kecil.
Aku menerimanya dengan senang hati, "Kita akan mengikuti mobil kalian," kataku.
Mobil kami berjalan beriringan. Sebenarnya aku masih tidak ingin dekat dengan Aqil, tapi kali ini berbeda karena ada Yesi.
"Apa kamu tidak curiga dengan kebaikan mereka?" tanya Mila padaku.
"Sedikit."
"Kalau begitu kamu kabari Zefan dulu agar dia tahu kita ke mana."
"Ok."
Aku mengambil ponsel di tasku dan mengirim pesan pada Zefan. Aku tidak tahu apa Zefan akan membalasnya atau tidak.
Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.
Iya, jika ada apa-apa kabari aku. Kamu kirimkan saja alamatnya.
Aku mengirimkan alamat yang sedang kami tuju. Mila masih tetap fokus mengikuti ke mana Aqil dan Yesi membawa mobil.
💝💝💝
Di meja makan kami hanya membahas tentang resepsi yang akan diadakan besok. Namun Aqil seperti tidak begitu tertarik, terlihat sejak tadi dia hanya bermain dengan ponselnya saja.
"Al, bagaimana pernikahan kamu?" tanya Yesi kemudian.
Aku mengelap bibirku, "Pernikahanku baik-baik saja. Kalian tahu itu," kataku.
"Apa kau belum ingi memiliki anak?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku tidak tahu harus menjawab apa kali ini. Mila yang sedang asik makanpun akhirnya berhenti.
"Jangan-jangan kamu tidak bisa memiliki anak," kata Yesi kemudian.
Hampir saja aku tersedak dengan apa yang Yesi katakan. Perkataanya sangat menyakitkan.
"Yesi, apa urusan kamu membahas hal ini denganya." Aqil meletakan ponselnya di meja dan menyuapi Yesi udang.
Yesi membelai pipi Aqil, "Aku hanya ingin tahu saja," kata Yesi dengan nada suara yang dibuat-buat menjadi manja.
"Bagaimana kalau kita saja yang memberi contoh pada Al." Bisik Aqil pada Yesi.
Namun aku dan Mila mendengar semuanya. Bahkan Mila sampai tersedak, aku tahu mereka hanya ingin pamer kemesraan. Hanya saja tempatnya yang salah.
Eheem, ehemm. Mila berdehem, "Maaf, kami sudah kenyang. Apa boleh jika kami pergi dulu? kami masih ada urusan lain," kata Mila panjang lebar.
Yesi dan Aqil kembali duduk ke posisi awal. Aku menahan tawa karena melihat wajah Yesi saat akan dicium Aqil tadi. Namun gagal karena Mila.
"Silahkan pergi," kata Yesi.
"Permisi," kataku dan Mila.
Kami keluar dari restoran dengan taw yang pecah. Kami membahas hal yang tadi kami lihat di meja makan.
"Apa kau lihat wajah kesak Yesi saat aku pura-pura batuk?" tanya Mila dengan tawanya yang belum berhenti.
Aku mengangguk, aku masih tertawa sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
💝💝💝
"Kamu besok ada acara apa?" tanya Zefan saat kami sedang makan malam bersama.
"Kalau begitu, kamu bisa ke rumah Mama kan saat siang. Mama kangen sama kamu," kata Zefan.
Aku mengangguk semangat. Memang sudah hampir satu minggu aku belum bertemu Mama.
"Soal Mila, aku yang akan pamitin."
"Terserah kamu aja, aku ikut."
Malam sudah larut tapi kami masih duduk di balkon. Zefan sedang mengurus kerjaanya, sedangkan aku hanya diam dan menemaninya saja.
"Aku ngantuk," keluhku.
"Bentar lagi aku selesai."
Aku menyandarkan tubuhku ke pundak Zefan. Aku akan memejamkan mata untuk beberapa saat, sampai Zefan selesai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Zefan yang sedikit mengguncang tubuhku.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya anggukan saja. Aku merasakan tubuhku diangkat oleh Zefan. Dia membawaku masuk, Zefan juga menyelimuti tubuhku.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah." Sebuah kecupan mendarat di keningku.
Aku merubah posisi tidurku agar lebih nyaman dan bisa tertidur dengan lelap. Perlahan tangan Zefan memelukku dengan erat. Membuat aku semakin nyaman dalam pelukanya.
💝💝💝
Ciuman di pagi hari. Membuat aku bangun, Zefan terlihat sudah siap untuk berangkat kerja.
__ADS_1
"Apa ini sudah siang?" tanyaku dengan suara khas bangun tidur.
Zefan mendekat dan menyingkirkan anak rambut diwajahku, "Sudah, aku sengaja tidak membangunkan kamu."
"Kamu ini." Aku langsung memeluk Zefan dengan erat.
Zefan melepaskan pelukanku dan mencium kembali keningku, "Aku berangkat ya, kamu jangan lupa untuk ke rumah Ibu."
"Pasti."
"Tunggu aku di rumah Ibu sampai aku jemput. Oh ya, Mila tadi menelfonmu. Kamu di suruh menelfonya lagi," kata Zefan sebelum keluar.
"Ok, hati-hati di jalan."
Setelah membersihkan diri aku turun. Bi Iyah sedang menyapu lantai dengan alunan lagu dari bibirnya.
"Lagi nyapu ya, Bi?" tanyaku.
"Eh, Non Alisha. Jadi malu, Bibi kan lagi nyanyi."
"Nggak apa-apa kok Bi."
"Non Alisha mau sarapan?" tanya Bi Iyah.
Aku menggeleng, "Tidak Bi, aku mungkin akan makan di rumah Mama. Aku pergi dulu ya, Bi."
"Iya Non. Sopir sudah menunggu di depan Non."
Benar, sudah ada seorang sopir yang menungguku dengan mobilnya. Aku masuk dengan beberapa tangkai bunga yang sengaja aku bawa untuk Mama sebagai hadiah.
Hanya perlu waktu setengah jam akhirnya aku sampai di rumah Mama.
"Non, apa saya harus menunggu?" tanya sopir saat aku mau masuk ke rumah Mama.
"Tidak perlu, nanti Tuan Zefan yang akan menjemputku."
Aku lihat Mama sedang asik menyiram tanaman di taman samping rumah. Perlahan aku mendekat, aku meletakan tas dan bunga yang aku bawa. Aku memeluk Mama dengan erat.
"Al, kamu ini bikin kaget Mama saja," kata Mama.
"Yaaah, Mama kok tahu ini aku." Aku pura-pura kecewa.
"Ya jelas tahu, kan Mama yang suruh kamu datang." Mama meletakan selang yang baru saja digunakan untuk menyiram.
Aku menyodorkan bunga yang sudah aku bawa, "Untuk Mama, hadiah kecil dariku."
Mama menerima dan langsung mencium bunga itu. Dengan hati-hati Mama meletakan bunga itu ke dalam vas bunga.
"Sejak kamu menikah dengan Zefan, Mama sudah tidak khawatir dengan taman rumah Zefan," kata Mama.
"Jadi, aku dinikahkan dengan Zefan hanya untuk jadi tukang kebun?" candaku pada Mama.
Mama menyusulku duduk, "Mana ada tukang kebun cantik kaya kamu."
Kami tertawa. Hanya satu minggu tidak bertemu, namun sudah banyak cerita yang kami bagi. Aku tidak merasa jika Mama adalah mertuaku. Aku merasa sangat dekat denganya.
💝💝💝
to be continued
__ADS_1