
Matahari sudah menampakan sinarnya. Aku menyibakan korden membuat sinar mentari masuk tanpa penghalang.
Aku meninggalkan Zefan yang masih tidur dan mencari taman yang dimaksud Zefan. Taman yang penuh dengan bunga.
"Sayang, kamu mau kemana?"
Zefan tiba-tiba saja memelukku. Aku memegang tanganya.
"Aku berniat mencari taman itu sendiri, namu kau malah terbangun."
Zefan memutar tubuhku dan membuat kami berhadapan. Tubuh kami sangat dekat, bahkan seperti tidak ada celah.
"Ini masih pagi, apa yang kamu lakukan?" tanyaku pada Zefan.
"Apa lagi yang dilakukan suami istri." Bisik Zefan.
"Kenapa sekarang kau menjadi sangat mesum?" Aku mendorong Zefan.
Zefan hanya tertaw melihat aku menyembunyikan wajahku.
"Jangan malu." Zefan menyibakan kerudung yang menutupi wajahku.
"Apa kau akan menemaniku ke taman?" tanyaku pada Zefan.
"Tentu, aku akan mandi dan ganti baju."
Aku menunggu Zefan dengan menatap pemandangan yang sudah disuguhkan alam. Hotel yang sangat menarik, ditemani pria yang juga menarik.
💝💝💝
"Apa kamu sudah mengatakan pada Aqil?" tanya Zefan.
Aku menggandeng tangan Zefan, "Mengatakan apa?"
"Tentang kamu yang sudah mengingat semuanya."
"Tidak," aku tersenyum melihat Zefan, "Aku hanya ingin membagi ceritaku dengan kamu, bukan dengan orang lain."
Kini tangan Zefan melingkar di pinggangku.
"Kenyataanya memang pahit. Orang yang menjadi kakak tiriku malah membunuh orang tuaku. Dengan modus kecelakaan."
"Lalu alasan apa hingga Aqil menikahimu, lalu mencampakanmu.”
Aku menggeleng pelan. Memang aku tidak tahu alasan Aqil menikahiku dan mengapa dia kasar padaku. Seingatku, Aqil membunuh orang tuaku karena benci denganku. Benci karena aku memiliki orang tua yang mau menyayangiku, tidak seperti dirinya.
"Lalu siapa Vidi?" tanya Zefan membuyarkan lamunanku.
"Dia pamanku, paman tiriku. Karena aku diasuh oleh Kakaknya."
"Kakak?"
"Iya, sayangnya aku belum ingat dengan Kakak Vidi. Vidi selalu menutupi tentang keluarganya."
"Apa kamu berharap bertemu dengan Kakak Vidi?"
"Ya." Aku mengangguk dengan semangat.
Kali ini aku harus mencari ibu angkatku. Aku pasti akan senang melihatnya, aku akan berterima kasih karena dia sudah membawaku jauh dari Aqil. Walau akhirnya, Aqil tetap memiliki aku.
Sekarang, aku sudah tahu siapa Aqil. Aku juga harus melupakan cintaku padanya. Aku sudah memutuskan untuk memupuk cintaku untuk Zefan.
"Sayang, kenapa kamu memandangku dengan senyuman mengerikan?" tanya Zefan. Dia bahkan pura-pura takut.
"Karena aku mencintaimu."
"Sekarang kau sudah berani mengatakanya.” Zefan tertawa senang.
Sedangkan aku malu sudah mengatakan hal itu. Hal yang biasa untuk pasangan suami istri seperti kami.
__ADS_1
"Lihat, tamanya sudah kelihatan." Zefan menunjuk kearah matahari terbit.
"Wow, sangat indah."
Karena asik mengobrol, aku tidak sadar jika aku sudah melakukan perjalanan hampir satu jam.
"Apa kau lelah?" tanya Mas Naja.
"Lumayan juga. Apa kita mau istirahat dulu?" tanya Mas Naja.
"Tidak perlu, tujuan kita sudah dekat."
Tiba-tiba Zefan duduk di depanku, dia menyuruhku untuk naik ke dalam gendonganya.
"Tidak, nanti kamu kelelahan."
"Untuk kamu aku rela kelelahan."
Akhirnya dengan sisa perjalanan aku di gendong Zefan. Aku tahu jika dia sangat menyayangiku. Dia bahkan rela melakukan semua hal untukku, aku tidak ingin melukai hatinya. Dia sangat tulus untukku.
💝💝💝
Ada lili, mawar, melati, dahlia, anggrek, dan masih banyak lagi. Aku merasa sangat senang, bahkan semuanya sedang bermekaran.
Banyak orang yang datang, aku bahkan terpisah dengan Zefan. Beberapa kali aku mencoba mencari tapi tidak ketemu. Sampai aku menemukan jalan yang sepi.
"Apa kau mencariku?"
Aku langsung menoleh pada asal suara.
"Kau, kenapa bisa kau ada di sini?" Aku mundur beberapa langkah.
"Apa lagi? aku kan mencintai kamu." Aqil semakin mendekat padaku.
Aku melihat peluang untuk lari dari Aqil. Zefan juga di sana, dia sedang mencariku.
"Apa mau kamu, kamu sudah membunuh orang tuaku. Apa kamu belum puas menghancurkan diriku?"
Salah satu tangan Aqil sudah berada di leherku. Aku mulai menitikan air mata, semakin aku berontak, semakin membuat Aqil menyiksaku.
"Dengar, jika kamu melepaskan pernikahan kamu dengan Zefan. Aku akan melepaskanmu tanpa melukai, tapi jika kamu menolak. Kamu akan ikut dengan orang tuamu itu."
Orang tuaku sudah menganggap Aqil sebagai anaknya. Namun balasan Aqil sungguh sangat mengerikan. Dia rela membunuh karena tidak bisa memiliki cinta dari orang tua. Kini aku tidak tahu harus bagaimana, kasihan atau benci padanya.
"Bagaimana, Sayang. Apa kamu mau melepaskan pernikahan ini untukku?"
Aku menggeleng keras. Penolakanku membuat Aqil semakin mencekikku. Dalam pandangan yang mulai kabur sayup-sayup aku mendengar suara Zefan memanggilku.
"Jika kamu berani menyahuti, aku akan membunuhmu sekarang." bisik Aqil padaku.
Gelap.
💝💝💝
Aku bangun dengan ketakutan yang masih sama. Aku melihat Zefan sedang duduk di sampingku. Aku memeluknya dengan erat.
"Kamu sudah sadar, Sayang?" tanya Zefan. Dia terlihat khawatir.
Aku semakin memeluknya dengan erat, "Jangan tinggalin aku lagi, aku nggak mau."
"Aku nggak akan ninggalin kamu lagi," kata Zefan.
Perlahan aku melepaskan pelukan itu. Aku masih berada si hotel yang sama. Aku takut akan bertemu dengan Aqil lagi, dia semakin menakutkan saja.
"Kamu yang membawaku ke sini?" tanyaku kemudian.
Zefan menggeleng pelan, "Bukan, Aqil yang membawa kamu ke sini. Dia bilang kalau menemukan kamu sudah pingsan."
Dia, bukanya Aqil hanya ingin membunuhku. Kenapa dia malah membawaku pulang dan menyelamatkan aku. Apa dia hanya ingin membuat aku semakin takut dan terluka.
__ADS_1
"Sayang, ada apa? apa kamu ingat sesuatu."
Aku menggelengkan kepalaku. Aku mencoba menyembunyikan semua ini pada Zefan untuk saat ini. Aku tidak mau membuat Zefan kembali menyalahkan dirinya sendiri karena hal ini.
"Apa besok kita sudah bisa pulang?"
"Apa kamu tidak suka di sini?" Zefan malah melemparkan pertanyaan padaku.
"Aku suka, hanya saja. Aku sangat merindukan Mama."
"Satu hari lagi, setelah itu kita bisa pulang."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Sayang."
💝💝💝
Malam ini aku memilih makan di dalam kamar dengan Zefan. Aku tidak mau bertemu dengan Aqil, dia sangat pandai menyembunyikan sesuatu.
"Al, dimakan dong. Jangan hanya melamun."
Aku tersenyum tipis, "Iya. Zefan, apa kamu sudah ingin punya anak?" tanyaku.
"Kenapa memangnya?"
"Aku hanya bertanya saja. Sebenarnya, aku belum ingin memiliki anak. Kamu tahu alasan aku apa kan? aku ingin tahu siapa sebenarnya diriku."
Zefan mengenggam tanganku, "Kita akan punya anak saat kamu sudah siap."
Kembali aku berterima kasih pada Zefan. Dia benar-benar orang yang sanga baik. Aku harus menjauh dan mencoba melukapan semua hal tentang Aqil. Aku akan memilih hidup damai dengan Zefan, karena dia bisa mengerti aku.
Tok, tok, tok.
Zefan langsung bergegas membukakan pintu kamar.
"Aqil, ada apa?" tanya Zefan.
Aku melihat Aqil tersenyum, tidak seperti senyuman tadi. Kali ini dia terlihat sangat bersahabat.
"Aku hanya ingin menjenguk Alisha."
Mendengar hal itu aku langsung menghampiri Zefan dan memeluknya.
"Al." Panggil Zefan.
Aku mengeluarkan kepalaku dari belakang tubuh Zefan.
"Maaf, aku tidak tahu jika ada tamu. Kalau begitu, aku akan kembali tidur saja." Aku pura-pura tidak tahu jika ada Aqil.
"Maaf, aku sudah mengganggu. Sepertinya Alisha sudah baik-baik saja."
"Aku memang baik-baik saja. Selamat malam."
Brak. Aku langsung menutup pintu kamar. Zefan menatapku bingung.
"Kamu kenapa bertingkah seperti ini?" tanya Zefan.
"Aku seperti ini karena kamu."
Aku memeluk Zefan perlahan. Zefan membalas pelukanku.
"Katakan dengan jujur. Kamu kenapa?" tanya Zefan dengan tangan yang masih memelukku.
"Aku mencintaimu."
💝💝💝
to be continued
__ADS_1