
Ini sudah sangat larut namun mataku masih belum mau terpejam. Aku memang mengatakan pada Aqil jika aku tidak ingin mengingat masa kecilku tapi di sisi lain hatiku. Aku ingin tahu ada apa dengan masa kecilku dan Aqil sebenarnya.
Aku memutuskan untuk menelfon Zefan. Mungkin dia sudah tidur tapi aku tidak tahu harus menelfon siapa lagi saat ini.
"*Hallo, zefan."
"Iya, ada apa Al? kenapa menelfon selarut ini*." Dari suaranya Zefan seperti sudah mengantuk.
"Apa aku mengganggumu?" tanyaku pada Zefan.
"Tidak, memangnya ada apa? apa kamu ingin kita bertemu malam ini?"
Zefan begitu pengertian terhadapku. Aku harus bisa menyerahkan hatiku untuknya.
"*Tidak perlu bertemu, cukup temani aku di telfon."
"Padahal aku sangat merindukan kamu Al*."
Aku tertawa kecil mendengar penuturan Zefan. Dia selalu saja mampu membuat aku tersenyum dalam keadaan apapun.
"Besok mau aku jemput atau kita bertemu di tempat Mila. Katanya besok kita akan fitting baju," Kata Zefan padaku.
"*Kalau kamu bisa, aku mau dijemput saja."
"Baiklah. Apa kau benar-benar belum mengantuk Al. Aku sudah sangat mengantuk."
__ADS_1
"Bagaimana lagi, aku belum bisa tidur. Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Aqil*."
Aku mendengar Zefan menghela nafas panjang. Dia sepertinya sudah sangat ingin tidur.
"*Mau aku bantu agar kamu cepat mengantuk?"
"Apa kau bisa membuat aku tertidur dengan cepat?"
"Tentu*. Sekarang coba tenangkan pikiran kamu dan cobalah serilex mungkin ... " Aku mengikuti semua yang dikatakan Zefan. Sampai aku mulai memejamkan mataku.
💝💝💝
"*Kau bodoh, kamu punya orang tua tapi kenapa kau malah memilih bermain denganku," kata seorang anak laki-laki pada anak perempuan yang berada di sampingnya.
"Aku sudah bilang, kamu temanku. Walaupun kamu tidak punya orang tua. Aku akan selalu berteman dengan kamu." Gadis kecil itu terus mengejar anak lelaki itu.
"Kenapa kamu melakukan itu? kamu tidak suka denganku lagi?" tanya gadis kecil itu dengan tangisan.
"Aku tidak suka karena aku tidak punya orang tua dan kau punya. Bahkan mereka sangat menyayangimu."
Gadis itu semakin kencang saja menangisnya. Anak lelaki itu terus mencoba untuk menghapus namanya dari sana. Sampai akhirnya orang tua gadis kecil itu datang.
"Aqil, kamu bisa menganggap kita ini orang tua kamu. Kalian bisa jadi teman lagi kan?" tanya sosok Ayah dengan sebuah kumis. Wajahnya terlihat sangat tegas namun penuh dengan kasih sayang.
"Benarkan, orang tuaku juga mencintai kamu. Kita harus tetap bersama." dengan semangat gadis kecil itu mendekat dan memegang tangan anak lelaki itu.
__ADS_1
"Benarkah?" ada harapan besar di wajah anak lelaki itu.
"Tentu saja, kita bisa jadi satu keluarga yang bahagia." Sosok ibu itu mendekat pada ke dua anak itu dan memeluknya.
Sampai sebuah mobil tanpa terkendali melaju ke arah kami. Anak lelaki yang melihat itu mencoba untuk mendorong si gadis kecil dan ibunya namun semuanya sudah terlambat. Hanya gadis kecil dan anak lelaki saja yang selamat. Dua orang tua itu meninggal di tempat*.
Alisha terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Bahkan dia hampir menangis kali ini. Sebuah ketukan pintu membuat Alisha bangun. Dia membuka pintu itu dan melihat Zefan di sana.
"Al kau kenapa?" tanya Zefan karena Aku langsung memeluknya dengan erat.
Apa mimpiku itu adalah ingatan tantang aku dan Aqil. Tapi kenapa sangat mengerikan, kenapa aku harus ingat dengan kematian orang tuaku.
"Tenang dulu Al, kita duduk dulu ya." Zefan mengajak diriku untuk duduk di sofa, "Katakan padaku, kenapa kau bisa seperti ini."
Aku menceritakan semua mimpiku pada Zefan. Zefan hanya diam dan mendengarkan semua penuturanku.
"Jika memang itu masa lalu kamu, mungkin Aqil juga korban dalam hal ini. Namun kenapa dia masih saja mengejar kamu." Zefan terlihat berfikir.
"Apa aku boleh bertemu dengan Aqil nanti?" tanyaku pada Zefan.
"Terserah kamu, aku hanya minta kamu tetap mengabariku."
"Baiklah."
Aku akan mencari kebenaran ini. Jika benar itu masa laluku, aku juga harus tahu kenapa Aqil selalu mengejarku dan seperti memiliki dendam padaku.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued