Bertahan

Bertahan
Part 81 S 2


__ADS_3

Jauh di depan sana aku melihat toko baju. Aku akan ke sana dan melihat-lihat. Mungkin ada barang yang akan aku beli.


"Alisha."


Aku terhenti saat mendengar seseorang memanggilku. Aku mengedarkan pandanganku, tapi tidak ada orang yang aku kenal.


"Aku di sini."


Akupun menoleh kearah suara. Mila, dia terlihat seperti biasanya. Hanya lebih terlihat mewah dengan gaya pakaian barunya.


Mila melangkahkan kakinya mendekat padaku, "Aku mencarimu di rumah. Kata Bi Iyah, kau sedang mencari baju. Jadi, aku datang ke sini."


"Apa kita punya urusan?" tanyaku.


"Maaf. Aku ingin meminta maaf padamu."


Kini pikiranku dan hatiku sedang kacau. Hatiku menginginkan aku memaafkan Mila, di sisi lain otakku tidak ingin aku memaafkanya.


"Apa kita bisa bicara sambil bersantai?" tanya Mila.


"Tidak perlu. Kamu sudah tahu jawabanku, lebih baik. Kamu menjauh dari kehidupanku."


Mila tersenyum, "Tapi aku akan segera menikah dengan Vidi. Kita akan lebih sering bertemu bukan?"


"Kata siapa? Vidi akan memutuskan hubunganya dengan kamu. Apa lagi jika dia tahu kamu yang membunuh Mama Sarah."


Mila mendekat dan langsung membekab mulutku dengan keras. Tidak aku sangka jika Mila punya tenaga sekuat ini. Aku sudah mencoba berontak namun hasilnya sama saja.


"Dengar. Ikut aku atau kamu akan terluka," bisik Mila padaku.


Mau tidak mau aku hanya bisa mengikutinya. Sebaiknya aku tidak membuat onar di sini. Kami masuk ke dalam mobil, dengan kecepatan tinggi Mila membawaku ke suatu tempat.


"Kenapa kau melakukan ini? apa hanya karena gaya hidupmu?" tanyaku pada Mila.


Mila tidak menjawab. Dia mencoba fokus pada setirnya. Kemanakah dia akan membawaku, terlihat jelas jika Mila sedang gelisah.


"Mila. Kenapa kamu membunuh Mama Sarah?" tanyaku.


"Kamu tahu alsasan aku. Kamu hanya perlu diam tentang semua ini. Aku tidak mau di cap buruk oleh siapapun."


"Kalau begitu. Apa aku boleh bertanya satu hal. Apa kamu melakukan ini atas perintah Aqil?"


Mila diam, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Jawab, Mil. Aku ingin mendengar langsung dari kamu. Bukan dari orang lain." Hampir saja aku meneteskan air mata. Namun, aku tahan.


"Ya. Aku melakukannya karena perintah Aqil. Semua ini untuk impianku."


Klik. Setelah Mila menjawab itu. Aku memilih diam. Impian Mila hanya satu, menjadi sosialita yang bisa di kagumi banyak orang. Semua itu sudah terwujud karena dia menerima uang dari Aqil. Miris.


Akhirnya sampai juga di tempat pemakaman umum. Mila menghentikan mobilnya tanpa aba-aba.


"Turun." Perintah Mila.

__ADS_1


Karena tidak mau menginginkan hal buruk Aku ikut saja, kami berjalan masuk ke pemakaman. Dia membawaku ke makam yang terlihat belum lama. Terlihat jelas jika di sana yang bersemayam adalah Mama Sarah.


Ya, sejak aku tahu Mama Sarah meninggal. Aku belum juga datang ke sini, semua karena aku takut ke luar rumah. Aku takut, Aqil akan kembali menyakitiku.


"Maksud kamu apa membawa aku ke sini?" tanyaku.


Mila tidak menjawab. Dia duduk di samping pusara. Bunga yang Mila bawa, dia taburkan dengan penuh kasih.


"Sekali lagi aku tanya. Kenapa kamu membawaku ke sini?"


Mila menoleh, "Jangan berteriak di sini. Lebih baik kamu temui Mamamu."


"Jangan pura-pura baik Mil. Baru kali ini aku lihat pembunuh, menaburi bunga di makam korbanya."


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Aku memegangi pipiku yang terasa sakit.


"Jangan berkata yang tidak-tidak. Kak Sarah meninggal karena mesin yang dia gunakan mati."


Vidi. Dia bahkan menamparku untuk membela Mila.


"Apa kamu tahu siapa yang mematikan mesin itu?" tanyaku.


Vidi terdiam. Terlihat jelas jika diajuga tidak tahu. Dia hanya membela tunangannya saja tanpa alasan.


"Seharusnya kamu selidiki dulu. Siapa dalang di balik semua ini."


"Jangan menceramahiku. Kamu sendiri, orang yang mengaku menjadi anaknya. Apa kamu datang di saat terakhirnya?"


"Kamu tidak tahu keadaanku. Aku sedang punya masal," kataku.


"Masalah apa sampai kau tega dengan Mama kamu?"


"Masalah ... "


"Sudahlah Vidi. Sekarang aku sudah membawanya ke sini. Kak Sarah pasti senang karena Alisha sudah datang." Mila memeluk lengan Mila.


Dia sengaja menenangkan Vidi agar Vidi tidak tahu hal yang sebenarnya. Dia tidak mau kelakuannya terbongkar.


"Kita tinggalkan saja dia di sini. Ayo kita pulang," ajak Vidi pada Mila.


Mereka benar-benar meninggalkan aku. Kini aku sendirian. Aku terduduk lemas di samping pusara Mama Sarah. Aku memanjatkan do'a dengan setulus hati.


💝💝💝


Hampir satu jam aku menunggu Zefan menjemputku. Dia sedang di dekat sini, aku kira dia akan cepat. Tahunya, satu jam lebih.


Brruuum bbrruum. Tidak lama aku mendengar suara mobil Zefan. Dia langsung turun dan mendekat padaku.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Zefan.


Aku langsung menggandeng Zefan, "Panjang ceritanya. Aku akan ceritakan di jalan sembari pulang."


"Baiklah."

__ADS_1


Di sepanjang jalan aku menceritakan segalanya. Tidak kurang satupun. Setidaknya, Zefan akan tahu kemana saja aku pergi dan dengan siapa.


"Jadi, hubungan kamu dan Vidi sekarang tidak baik?"


"Begitulah."


Zefan menggenggam tanganku. Dia mencoba menguatkan aku kali ini. Setidaknya aku punya suami yang mau menemaniku di saat susah maupun senang.


"Oh ya. Aku merekam sesuatu. Apa ini bisa jadi bukti?" tanyaku.


"Merekam apa?"


Aku mengambil ponsel di dalam tasku. Aku menekan tombol play dan suara Mila keluar. Ya, aku tadi sempat merekam suara Mila saat dia mengaku membunuh Mama Sarah.


Zefan tersenyum, "Kamu memang pandai."


"Ini juga untuk kebaikan kita semua."


"Tapi, apa nggak apa-apa kita menyerahkan bukti ini? bukanya kamudan Mila sangat dekat. Dia bisa saja ikut di penjara."


Benar juga. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Ini bukti yang bagus, tapi aku juga harus merelakan hubungan pertemanan ini.


"Semua terserah sama kamu. Aku nggak mau maksa," kata Zefan.


"Berikan saja bukti ini. Mila juga sudah menghianati aku. Walau di sisi lain, aku masih ingin berteman dengannya."


Zefan tidak menjawab. Dia hanya fokus pada setir dan satu tanganya menggenggam tanganku.


"Malam ini kita mau makan apa?" tanya Zefan mencoba merubah topik pembicaraan.


"Terserah Bi Iyah saja. Kasihan kalau kita terus menerus komentar."


"Ok. Kita makan seadanya." Teriak Zefan.


Zefan mampu mencairkan suasana hatiku. Dia bjsa membuat aku tertawa di saat pikiranku sedang kacau. Cinta yang selama ini aku butuhkan adalah Zefan.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu."


Aku tersenyum mendengar perkataan Zefan. Bahkan pipiku juga bersemu merah karenanya.


"Malam ini, kita akan berikan cucu yang sesungguhnya pada Mama."


Aku melotot mendengar candaan Zefan. Jujur, aku masih trauma saat kehilangan anak yang aku kandung pertama kali.


"Aku tidak akan memaksamu," kata Zefan kemudian.


"Terima kasih."


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2