
Pagi ini aku terbangun tanpa Zefan di sampingku. Entah kemana perginya padahal masih sangat pagi. Setelah membersihkan diri aku keluar. Bi Iyah sedang masak, Aku juga tidak melihat Zefan di teras depan rumah.
"Bi, Bi Iyah tahu dimana Zefan?" tanyaku pada Bi Iyah yang sedang asik masak.
Bi Iyah melihat jam dinding yang berada di belakangku, "Biasanya Tuan Zefan berada di taman dekat danau, Non."
"Untuk apa?" Sepagi ini tapi dia sudah berada di taman.
"Untuk itu saya tidak tahu alasanya."
"Baiklah, Bi Iyah lanjut masak saja. Aku akan ke tempat Zefan."
Aku bergegas ke taman yang di maksud Bi Iyah. Benar saja, Zefan sedang duduk dan melihat kearah danau buatan itu. Terlihat sangat tampan, apa lagi diterpa cahaya mentari pagi.
"Zefan." Panggilku begitu aku mendekat kearahnya.
"Kamu, kamu tahu dari mana tempat ini? pastu Bi Iyah yang memberi tahumu ya?"
Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Zefan menepuk kursi di sebelahnya. Dia menyuruhku duduk di sana juga.
"Maaf untuk tadi malam, aku belum terbiasa dengan adanya kamu di rumah ini." Jelas Zefan padaku.
"Tidak apa," kataku pelan. Aku tidak ingin mempermasalahkan hal kecil.
Kami baru menikah, mana mungkin aku mau pernikahan yang penuh dengan amarah. Zefan menggenggam tanganku perlahan, dia menatap wajahku lekat. Aku tidak tahu kenapa, tapi Zefan terlihat aneh. Tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanyaku pada Zefan.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di bibirku. Aku membulatkan mataku karena kaget. Seperti mimpi rasanya. Zefan juga terlihat canggung dengan apa yang dia lakukan barusan.
"Mungkin sarapan sudah jadi, kita masuk saja." Aku bergegas akan pergi namun Zefan menarik tanganku sampai aku jatuh dalam pangkuanya.
"Kenapa pipimu merah?" aku tahu Zefan sedang menggodaku tapi apalah daya. Apa yang di lakukan Zefan benar-benar membuat aku kaget.
"Apa kau tidak lapar?" tanyaku kemudian.
Zefan malah menggendongku tatapanya masih tetap sama seperti barusan, "Aku hanya ingin memakanmu hari ini."
"Zefan, jangan mengatakan hal seperti itu padaku. Turunkan aku," kataku.
"Tidak akan."
💝💝💝
Padahal baru saja kami menikah dan hari ke tiga Zefan harus kembali ke kerja. Apa-apaan ini, bahkan bulan madun kita juga diundur.
"Kamu sudah akan pergi kerja?" tanyaku pada Zefan yang sudah siap dengan setelan jas dan tas kerja.
"Bagaimana lagi, aku ada meeting mendadak." Zefan mencium pipiku dan kembali membuat aku tersipu malu.
"Jangan buat pipimu merah lagi," kata Zefan.
"Jangan menggoda terus."
"Baiklah, aku berangkat dulu."
__ADS_1
Perlahan mobil Zefan berjalan. Aku tidak tahu harus berbuat apa seharian di dalam rumah. Lagi pula, Mila masih tidak membolehkan aku bekerja.
"Bi, apa bunga di taman belakang juga boleh di petik?" tanyaku pada Bi Iyah yang sedang menyapu lantai.
"Boleh, Non. Biasanya Ibu juga memetiknya."
"Terimakasih, Bi."
Aku mengambil beberapa bunga dari taman dan akan aku gunakan menghias ruang bunga itu. Aku menghentikan jalanku karena kepalaku terasa pusing.
"Ada apa, Non?" tanya Bi Iyah yang melihat aku bersandar di dinding.
"Tidak apa, Bi. Bi Iyah lanjut kerja saja."
"Baik, Non." Aku mencoba kembali berjalan dengan banyak bunga di tanganku.
Kepalaku semakin pusing saja, kenapa bisa aku sampai seperti ini. Kembali aku mencoba merangkai bunga namun tetap saja kepalaku sakit. Aku keluar dari ruang bunga dan masuk ke dapur.
"Bi, apa ada obat sakit kepala. Aku merasa sangat pusing."
Bi Iyah langsung mengambilkan obat dan minum. Pandanganku sudah semakin kabur, kepalaku semakin berat saja.
💝💝💝
"*Ha ha ha ha. Apa kau sadar jika kamu ini anak yang tidak punya orang tua." Beberapa anak-anak sedang mengerumuni seorang anak kecil. Mereka mengolok-oloknya dengan kata-kata yang mengerikan.
"Kalian jangan melakukan hal ini lagi, bagaimanapun Aqil adalah teman kita." Teriak seorang anak perempuan, dia mencoba melindungi sahabatnya.
"Teman? dia bukan teman kita. Kata orang tuaku Aqil adalah anak haram." kata seorang anak lelaki yang bertubuh besar.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi dan jangan berteman dengan Lili dan Aqil," kata anak lelaki tadi.
"Aqil, kamu tidak apa-apa?" tanya anak perempuan yang bernama Lili.
Aqil mendorong Lili dengan keras sampai terjatuh dengan keras. Gadis kecil itu tidak menangis tapi malah memeluk Aqil, kembali Aqil mencoba menghempaskanya.
"Kamu tahu, aku benci karena kamu memiliki orang tua. Jika kamu ingin kita bersahabat, lebih baik kamu tidak bersama orang tuamu."
Gadis kecil itu menatap Aqil dengan tatapan kaget. "Bagaimana caranya?"
"Bunuh mereka." kata anak yang bernama Aqik itu.
Lili menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, mereka adalah orang yang aku sayang."
"Kau bodoh, kamu punya orang tua tapi kenapa kau malah memilih bermain denganku," kata seorang anak laki-laki pada anak perempuan yang berada di sampingnya.
"Aku sudah bilang, kamu temanku. Walaupun kamu tidak punya orang tua. Aku akan selalu berteman dengan kamu." Gadis kecil itu terus mengejar anak lelaki itu.
Sampai mereka berhenti di sebuah pohon yang rindang. Di mana di sana tertulis nama 'Aqil dan Lili' dengan susah payah anak lelaki itu menghapus nama yang telah terukir di pohon itu.
"Kenapa kamu melakukan itu? kamu tidak suka denganku lagi?" tanya gadis kecil itu dengan tangisan.
"Aku tidak suka karena aku tidak punya orang tua dan kau punya. Bahkan mereka sangat menyayangimu."
Gadis itu semakin kencang saja menangisnya. Anak lelaki itu terus mencoba untuk menghapus namanya dari sana. Sampai akhirnya orang tua gadis kecil itu datang.
__ADS_1
"Aqil, kamu bisa menganggap kita ini orang tua kamu. Kalian bisa jadi teman lagi kan?" tanya sosok Ayah dengan sebuah kumis. Wajahnya terlihat sangat tegas namun penuh dengan kasih sayang.
"Benarkan, orang tuaku juga mencintai kamu. Kita harus tetap bersama." dengan semangat gadis kecil itu mendekat dan memegang tangan anak lelaki itu.
"Benarkah?" ada harapan besar di wajah anak lelaki itu.
"Tentu saja, kita bisa jadi satu keluarga yang bahagia." Sosok ibu itu mendekat pada ke dua anak itu dan memeluknya.
Sampai sebuah mobil tanpa terkendali melaju ke arah kami. Anak lelaki yang melihat itu mencoba untuk mendorong si gadis kecil dan ibunya namun semuanya sudah terlambat. Hanya gadis kecil dan anak lelaki saja yang selamat. Dua orang tua itu meninggal di tempat*.
Aku terbangun dengan perasaan marah, sedih dan kecewa. Aku tidak tahu kenapa, perlahan aku mengingat masa kecilku tapi kenapa sangat menyakitkan.
"Ini dimana?" aku bahkan tidak tahu ini di mana. Tidak ada yang menemaniku, bankan ini bukan kamarku dan Zefan.
"Akhirnya kau bangun juga," kata seorang lelaki berambut panjang. Dia memakai baju seperti dokter.
"Kau siapa?"
Lelaki itu tertawa, "Aku tahu kamu akan menanyakanya. Aku Edo, teman Zefan."
"Lalu, kenapa aku bisa di sini?" tanyaku lagi.
"Zefan yang membawamu. Katanya kamu ingin mengingat masa lalu kamu, aku akan membantu kamu." Edo duduk di dekatku.
"Tidak perlu, perlahan aku mulai mengingatnya. Dimana Zefan?"
"Aku akan memanggilkanya untukmu," Edo keluar dari ruangan itu untuk memanggil Zefan.
Tidak lama Zefan datang dan langsung memelukku. Aku tahu dia sangat khawatir karena aku.
"Apa ada yang sakit?" tanya Zefan.
Aku menggelengkan kepalaku, "Maaf aku sudah membuat kamu khawatir."
"Lain kali jika kamu merasa pusing atau yang lain. Langsung hubungi aku, untung Bi Iyah cepat tanggap."
"Maaf," kataku lagi. "Aku mau pulang saja, aku sudah tidak apa-apa."
"Baiklah, ayo."
Aku dan Zefan keluar dari ruangan itu, Edo sudah menunggu di pintu depan. Mungkin dia tahu jika aku dan Zefan akan pulang.
"Minum ini jika kepalamu sakit lagi, sebaiknya banyak-banyak istirahat." Edo memberikan bungkusan obat pada Zefan.
"Terimakasih sudah mau merawat istriku," kata Zefan pada Edo.
"Sama-sama. Ngomong-ngomong istrimu cantik juga."
"Aku tahu itu."
Zefan membukakan pintu mobil untukku Kami langsung pulang karena Mama sudah menunggu di rumah. Semua orang khawatir denganku.
💝💝💝
to be continued
__ADS_1