Bertahan

Bertahan
Part 80 S 2


__ADS_3

Hari yang cerah. Aku dan Zefan pergi ke rumah pengacara Zefan. Memang sengaja melakukan hal ini agar tidak terlalu mencolok. Akan banyak masalah jika ada yang tahu tentang hal ini.


"Kamu tunggu di sini. Aku hanya sebentar," kata Zefan padaku.


"Baiklah. Jangan lama-lama atau aku akan bosan sendirian di sini."


Sefan memegang belakang kepalaku. Lalu perlahan mendorongku mendekat. Cup. Sebuah kecupan mendarat di bibirku.


"Aku pergi dulu."


Hanya anggukan yang aku berikan. Zefan terlihat sangat bersemangat. Hari ini kami akan pergi ke pantai. Liburan yang tertunda karena aku hamil, namun kini, aku sudah sendiri lagi.


Ting. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku. Mila.


Aku ingin menemuimu.


Rasa kesal kembali timbul. Hanya untuk impianya, dia tega membunuh seseorang. Mungkin aku akan melaporkanya, tapi tidak. Aku masih memiliki rasa kasihan itu.


"Sayang," Zefan membuka pintu mobil secara tiba-tiba, "kenapa wajahmu terlihat gelisah?"


Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas.


"Tidak. Ayo kita pergi, pasti akan lama di jalan."


"Tentu. Ayo kita berangkat."


Zefan kali ini melajukan mobil dengan sangat tenang. Aku bahkan bisa menikmati suasana yang indah tanpa perlu meminta. Suasana tenang yang sudah lama aku inginkan.


"Apa kau mengantuk?" tanya Zefan padaku.


"Tidak. Aku hanya menikmati hembusan angin ini."


"Silahkan Ratuku."


💝💝💝


Kami sudah sampai di rumah milik Zefan. Aku baru tahu jika di sini ada rumah yang begitu indah. Bahkan pemandangan pantai juga terlihat.


"Malam ini kita istirahat di sini."


Aku meletakan jaket dan tasku, "Aku akan masak. Sudah lama aku tidak masak sendiri."


"Mau aku bantu?"


"Tentu saja."


Kulkas yang ku buka tidak ada isinya. Di almaripun masih tidak ada isinya. Mau tidak mau aku harus pergi ke minimarket terdekat.


Aku sudah siap memakai jaket. Tidak membawa tas karena aku memilih untuk membawa uang di saku.


"Mau kemana, Sayang?" Zefan tiba-tiba memelukku dari belakang.


Aku melepaskan pelukanya, "Aku harus pergi ke mini market. Di sini tidak ada makanan apapun."


"Apa kita makan di luar saja kali ini?" tawar Zefan.

__ADS_1


"Tidak. Aku ingin makan di rumah ini dengan pemandangan lautnya."


"Baiklah, baiklah. Aku akan tunggu di rumah."


Aku mengangguk dan langsung pergi. Suasana malam yang tenang, sudah lama sekali aku tidak merasakan setenang ini. Aku bebas dan tidak ada yang menakutiku lagi.


💝💝💝


Angin yang berhembus menerpa diriku. Aku merasakan apa yang dinamakan bebas. Tidak terbebani oleh apapun.


"Sangat indah bukan?" Zefan langsung memelukku dari belakang.


Aku menoleh padanya. Dia terlihat tampan dengan baju yang seadanya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu punya tempat seperti ini?"


Zefan tersenyum, "Ini hadiah untukmu. Aku membelinya satu minggu yang lalu."


"Kau selalu membuang-buang uang."


Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipiku, "Ini semua agar kamu bahagia."


"Terima kasih."


Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Aku akan duduk di balkon ini sepanjang malam. Menikmati pemandangan yang indah.


"Aku mau di sini satu minggu," kataku kemudian.


Zefan yang sedang menatap layar laptonya menoleh padaku.


Benar juga. Tapi, aku juga ingin ketenangan ini selalu bersama denganku.


"Baiklah. Dua hari bagaimana?"


Aku mengangguk dengan senyuman. Zefan memang paling mengerti aku. Aku langsung memeluknya dengan semangat.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Zefan.


"Aku mencintaimu," bisikku.


"Aku juga."


Perlahan tangan Zefan melingkari pinggangku. Mata kami bertemu, malam yang panjang untuk kekasih hatiku.


💝💝💝


"Nanti setelah sarapan kita langsung ke pantai kan?" tanyaku pada Zefan.


Zefan yang sedang fokus dengan setirnya menoleh padaku.


"Iya. Kita mau sarapan apa?" tanya Zefan.


"Terserah kamu aja. Aku ikut."


Sampai di tempat makan. Beberapa kali Zefan melihat ponselnya, dia juga membalas pesan-pesan itu dengan cepat.

__ADS_1


"Makan dulu, ponselnya nanti," kataku.


"Sebentar. Ini penting."


"Ya udah. Aku aja yang makan semuanya."


Aku kembali menarik piring itu. Makan berdua tapi rasa sendirian. Aku tahu Zefan sibuk dengqn berbagai urusanya, tapi tidak seharusnya dia mengacuhkan aku.


"Kamu marah?"


Tidak aku jawab pertanyaan Zefan. Aku hanya fokus makan saja.


"Sayaaang, jangan marah gitu dong."


"Kita sedang liburan dan kamu malah fokus sama ponsel kamu. Kamu niat nggak sih liburan sama aku?"


Kali ini aku benar-benar meluapkan rasa kesalku. Namun apa yang aku dapat. Zefan kembali membalas pesan di ponselnya dan tidak mendengarkan aku.


Tidak ada hal lain lagi di sini. Aku memilih untuk keluar dari tempat makan dan mencari hal lain. Zefan tidak akan merasa terganggu, dia sedang sibuk dengan ponselnya.


💝💝💝


Hampir seharian aku belanja oleh-oleh tanpa di temani Zefan. Dia benar-benar mencariku, sudahlah. Lebih baik aku cari makan malam saja dan pulang ke rumah.


"Nasi goreng dua, di bungkus ya." Aku memberikan uang pada tukang nasi goreng dekat rumah.


"Ini mbak."


"Terima kasih." Aku menerima bungkusan nasi goreng itu.


Tas belanjaanku cukup banyak. Aku membuka pintupun sampai kesusahan. Rumah terlihat gelap, seperti tidak ada orang. Mungkin Zefan belum pulang.


Cklek. Tiba-tiba saja lampu ruangan menyala. Aku melihat Zefan dengan setelan jas dan meja yang sudah dihias sedemikian rupa.


"Kamu melakukan ini untukku?" tanyaku. Aku meletakan semua belanjaanku dan berlari pada Zefan.


Aku memeluknya dengan erat. Dia memberikan kejutan manis ini untukku. Bahagianya aku, kenapa aku marah dengannya hanya masalah sepele.


"Maaf membuat kamu marah," kata Zefan.


"Aku yang minta maaf. Aku tidak pernah memperhatikan kamu." Aku mengeratkan pelukanku.


"Lepaskan dulu pelukanmu, kita makan malam."


Makan malam?


"Aku sudah beli nasi goreng," kataku.


"Kita makan juga. Bagaimana?"


Aku mengangguk dengan senang. Besok kita harus kembali ke rumah. Tidak ada jalan lain selain ini.


Kesibukan dan masalah kami harus kami urus. Tidak mungkin kami akan meninggalkan tanggung jawab begitu saja.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2