Bertahan

Bertahan
Part 30 S 2


__ADS_3

Aku keluar setelah membahas beberapa hal dirumah Mila, Vidi juga sedang berada disana. Aku bahkan mengira baru jam 4 sore ternyata sudah hampir jam delapan malam.


Setelah memesan taxsi aku duduk dihalte bus untuk menunggu. Sampai sebuah mobil berhenti tepat dihadapanku.


"Alisha?". Orang itu menurunkan mobilnya serta beberapa kali memanggilku.


Aku melihat Aqil disana. Aku mengambil tas yang berada disampingku dan langsung berjalan menjauh. Hari ini aku merasa tidak beruntung.


"Alisha tunggu aku". kata Aqil. dia bahkan meninggalkan mobilnya untuk mengejarku.


Aku tidak menoleh sedikitpun, Aku tidak ingin kembali berharap dan kembali tersakiti.


"Alisha". Aqil menarik tanganku.


"Maaf, aku harus pergi". beruntungnya taxsi yang aku pesan datang.


Tanpa ba bi bu aku langsung masuk ke mobil. Bahkan Aqil masih tetap mengejar sebisanya. Aku mengatur nafasku agar jantungku tidak berdetak terlalu kencang.


💝 💝 💝


Kepalaku pening dan terasa berputar-putar. Aku mengambil obat untuk sedikit meredakan rasa sakit yang aku rasakan. Aku masih memikirkan bagaimana bisa Aqil tahu aku ada disini. Setahuku Aqil dan orang tuanya tidak terlalu dekat. Mana mungkin dia tahu dari Papa dan Mama.


Tok, tok, tok. Langkah kakiku langsung tertuju pada pintu saat mendengar beberapa kali ketukan. Aku membuka pintu, Zefan disana dengan sebuah kotak.


"Ini sudah malam, kenapa kesini?". tanyaku langsung pada Zefan.


"Bodoh, aku kesini jelas untukmu". Zefan masuk tanpa persetujuanku.


"Nggak enak sama yang lain. Ini udah malam". kataku.


"Tenang, aku akan pergi setelah kamu makan". Zefan membuka kotak itu. Dia membelikan aku pasta.


"Apa kamu bercanda?, aku tidak suka pasta". aku memang tidak mungkin memakanya karna ada campuran seafood. Aku benar-benar alergi.


"Kamu tidak menghargaiku". wajah Zefan langsung terlihat murung.


"Bukan itu maksudku, aku alergi dengan seafood". Aku duduk disamping Zefan.


"Kamu tidak mengatakanya padaku". kata Zefan dengan wajah aneh.


"Kamu tidak menanyakanya". kataku dan itu membuat Zefan langsung tertawa.


"Baiklah, aku saja yang makan". Zefan langsung memakan pasta itu dengan lahapnya.


Setelah selesai makan Zefan langsung pamit untuk pulang. Dia juga merasa tidak enak dengan yang lain.


"Jangan lupa makan malam". Zefan mengusap kepalaku sebelum pergi.


"Aku tahu apa yang aku lakukan". kataku.

__ADS_1


Setelah Zefan pergi aku kembali masuk dan merebahkan badanku. Kepalaku masih terasa sangat pusing.


💝 💝 💝


"Kau kira aku tidak tahu". Vidi menjitak kepalaku.


"Apa yang kamu tahu?". tanyaku padanya.


"Aku tidak akan mengatakanya jika kau belum jujur padaku".


"Itu namanya kamu ingin tahu".


Hari ini aku memang berniat liburan dengan Vidi. Bagiku dia keluarga satu-satunya yang sekarang aku miliki. Aku baru tahu jika Vidi adalah adik dari ibuku yang paling terakhir. Yang lainya bahkan tidak ingin kenal dengan diriku.


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Zefan?". tanya Vidi tiba-tiba.


"Kamu sudah tahu jawabanku bukan, kenapa harus bertanya".


"Al, cobalah untuk membuka hatimu pada yang lain. Bagaimanapun, aku tidak ingin kamu tersakiti terus menerus".


"Aku sedang mencobanya. Hidup seperti ini sangatlah monoton". kataku dengan senyuman.


"Mau pergi nonton?". tanya Vidi kemudian.


"Ok".


"Kaya gini ya nasibnya jomblo". kataku pelan.


"Siapa bilang aku jomblo". teriak Vidi ditelingaku.


"Aku tahu, aku mengatakanya untuk diriku sendiri".


Sampai seseorang menyapaku dengan sangat hangat, padahal kita baru bertemu satu kali.


"Kau disini?". Yesi mendekat kearahku. "Dia pacarmu?" tanyanya lagi.


"Dia pamanku, kau disini juga?".


Yesi mengangguk, kami berjalan beriringan.


"Ini pertama kalinya aku pergi dengan calon suamiku, mana mungkin aku menyia-nyiakanya". katanya dengan ceria.


"Hatimu sedang sangat bahagia pastinya". kataku pada Yesi.


"Disini aku cuma jadi patung gitu?". Vidi menyela pembicaraanku dengan Yesi.


"Tentu saja tidak paman". kata Yesi masih dengan nada cerianya.


"Jangan panggil aku paman, panggil saja Vidi".

__ADS_1


"Ok, Vidi".


Kami berbicara cukup lama. Aku kira Yesi orang yang susah bergaul, tapi dia enak untuk diajak cerita.


"Aku mencarimu dan kau malah disini".


Aku mengenal suara itu, Aqil. Aku menoleh dan melihat Aqil yang berdiri dengan satu buah minuman dingin ditanganya.


"Maafkan aku". Yesi mendekat dan langsung menggandeng tangan Aqil.


Aqil bahkan belum sadar jika aku ada disana. Sebelum Aqil sadar, aku sudah menarik tangan Vidi yang masih melongo.


"Tunggu Al. Perkenalkan dulu, ini calon suamiku. Aqil". Kata Yesi padaku dan Vidi. "Aqil, ini temanku yang juga membantu pernikahan kita. Alisha". kata Yesi lagi.


"Halo Pak Aqil, saya Alisha". aku mencoba setenang mungkin. Aku tidak mungkin membuat Yesi merasa canggung dengan aku dan Aqil.


"Aku Vidi pamanya Alisha". kata Vidi kemudian.


"Aqil". Vidi berjabat tangan saat Aqil menyebutkan namanya.


"Kalau begitu aku sama Vidi masuk dulu ya". Aku menarik Vidi dari sana.


Di dalam bioskoppun aku hanya diam. Aku tidak tahu jika aku harus bersebelahan dengan Aqil. Sesekali dia menatapku namun tidak ada kata sedikitpun yang terucap.


"aku keluar dulu ya". Bisikku pada Vidi.


"Sip". Vidi mengacungkan jempolnya.


"Maaf, kamu jadi pulang sendiri". bisikku lagi.


"Tidak apa".


Aku keluar dari ruangan itu. Rasa lega langsung menghampiriku. Bagaimana tidak, Aqil sedari tadi memperhatikan diriku dan aku tidak mampu berbuat apapun.


"Kenapa keluar?". Pertanyaan Aqil membuat aku sedikit terlonjak.


"Terserah aku". kataku.


"Kau menghindariku?".


"Tidak".


"Kalau begitu....".


Belum selesai Aqil mengatakan kalimatnya aku sudah menyela. "Aku ada urusan kerja dan harus pergi". Aku mengambil langkah seribu agar Aqil tidak mengatakan atau mengejarku.


💝 💝 💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2