
Dengan berat hati aku masih dirumah ini. Ya, Aqil kembali membawaku pulang ke sini. Dengan alasan tidak ingin aku jauh darinya.
Dulu aku mengira rumah ini akan menjadi ladang surga untukku. Bagaimanapun aku adalah istri pertama Aqil. Sebisa mungkin aku mencoba menahan amarah dan segala rasa cemburuku.
"Kamu sudah datang?" Aku melihat Nia berjalan tergopoh-gopoh.
"Maafkan aku. Karna aku, kamu menyiapkan sarapan untuk mereka," kata Nia. Dia melihat aku sudah selesai dengan sarapan pagi ini.
"Tidak apa. Lagian juga aku tidak ada kerjaan." Aku menatap piring untuk mereka makan termasuk Nia.
"Kamu juga sarapan dulu Nia. Aku akan kekamar untuk berganti baju." Aku meninggalkan Nia di meja makan. Dia mungkin merasa kasihan pada diriku. Namun aku mencoba tetap tegar.
"Alisha. Terima kasih," kata Nia.
"Iya. Kamu sarapan dulu, kan harus ke kantor sama Aqil."
Aku masuk ke kamarku untuk bersiap ke toko. Di toko aku merasa bebas dan tenang, jika di rumah aku pasti akan merasa sangat terbebani.
💝 💝 💝
Setelah selesai sarapan aku langsung berangkat ke toko bunga. Tidak mungkin rasanya aku berdiam diri di rumah. Sementara Mei juga dirumah. Aku tidak ingin melukai diriku sendiri.
"Kau mau kemana?"
Tumben Aqil menanyakan kegiatanku kali ini. "Aku akan ke toko bunga."
"Hanya itu?"
Aku mengangguk.
"Temui Papa dan bujuk dia untuk menerima Mei."
"Aku?" aku menunjuk diriku sendiri. "Kenapa harus aku? Kenapa bukan kalian sendiri yang meminta restu."
"Apa seperti itu cara kamu bicara dengan suamimu?"
"Sejak kapan kau menganggap aku istrimu? Bukannya aku hanya alat untuk mendapat simpati Papa."
"Ayolah. Bantu aku, aku tidak ingin Mei hanya menjadi istri siriku."
"Buat saja pesta pernikahan. Selesaikan." Aku langsung keluar rumah dan menaiki mobilku.
Aku baru tahu jika Mei hanya menjadi istri siri Aqil. Bukankah aku lebih berhak karna aku istri sahnya. Dengan hati marah aku melajukan mobilku.
Aku akan menemui Mama sore ini. Dia pasti terpukul dengan apa yang dilakukan anaknya kali ini. Bagaimanapun mereka harus tahu tentang hal ini.
💝 💝 💝
Aku melihat Giel yang sedang menerima seorang pelanggan. Tapi, terlihat sangat aneh dari nada bicaranya. Aku sengaja memelankan langkah kakiku.
"Maaf, aku tidak bisa melakukanya," kata Giel penuh penolakan walau dengan nada sopan.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu pada Alisha. Ini penting."
"Maaf tuan."
"Ada apa Giel?" Aku melihat Giel yang sudah putus asa dengan segala penolakanya.
"Alisha. Akhirnya kamu datang, aku mohon kali ini dengarkan aku."
Aku melihat Vidi dengan pakaian yang terlihat lusuh. Rambutnya juga terlihat acak-acakan. Tidak seperti Vidi yang biasanya.
"Maaf. Aku sedang ingin sendiri."
"Alisha. Bukan aku yang menyebabkan kecelakaan Kakakku. Aku akan beritahu semuanya."
Kali ini aku menoleh. Dia terlihat sungguh-sungguh. Bagaimanapun, dia adalah pamanku. Aku akan mencoba percaya padanya kali ini.
"Baik. Kita ke luar sekarang."
Aku dan Vidi langsung mencari tempat untuk bicara. Dia mencoba menjelaskan semuanya padaku. Ada beberapa hal yang masih menjadi teka-teki di hatiku.
__ADS_1
"Kau tadi mengatakan jika bukan kau. Tapi Gama? Lalu apa alasanya hingga dia melakukan itu?"
"Gama ingin kamu merasakan sakit hati atas semua penolakan itu. Kecelakaan itu bukan terjadi saat kamu umur tujuh tahun. Tapi saat umur kamu 17 tahun".
"Apa lagi ini? Jelas-jelas aku ingat kalau umurku saat itu lima tahun". Aku merasa dipermainkan kali ini.
"Maaf. Kamu kecelakaan dan lupa ingatan. Ingatan kamu berhenti saat umur lima tahun."
Aku menundukan kepala. Bagaimana mungkin aku tidak ingat semuanya. Apa benar yang dikatakan Vidi.
"Logikanya adalah mana mungkin anak umur lima tahun sudah diajak pacaran. Dan tidak mungkin bukan anak umur lima tahun melakukan hal yang membuat kecelakaan."
Benar juga apa yang dikatakan Vidi. Apa benar aku mengalami hal itu. Aku harus menerima semua ini sekarang. Tapi kenapa Vidi masih terlihat tidak meyakinkan.
"Maafkan aku karena baru jujur padamu. Awalnya aku memang berniat menjadikan kamu istriku, tapi aku sadar. Kau adalah Liliku."
Aku tersenyum. Jika aku terus menolak Vidi mungkin aku akan tetap menganggapnya seorang pembunuh.
"Maaf aku sudah berprasangka buruk pada Paman."
"Tidak apa. Sekarang kamu harus bisa meyakinkan suamimu. Jangan sampai kamu dan keluargamu sekarang dihancurkan oleh Gama dan adiknya."
"Paman mau kemana?" Aku melihat Vidi sudah bersiap pergi.
"Setelah ini. Kita akan jarang bertemu. Aku akan kembali kepekerjaanku di luar."
Aku memeluk Vidi sebagai ucapan perpisahan sekaligus terima kasih karena sudah mengatakan semuanya padaku.
"Hati-hati Paman. Maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu," kataku.
Vidi menganggukan kepalanya. "Kamu juga harus jaga diri."
Aku mengangguk.
💝 💝 💝
Hari ini aku merasa sangat lelah. Aku kembali harus menerima semua kenyataan saat membuka pintu dan melihat Aqil sedang bermesraan dengan Mei. Rasa cemburu pasti ada namun aku harus bisa menahan semuanya.
"Kamu baru dari rumah Papa?"
"Aku tanya kamu Alisha. Kamu dari rumah Papa?" tanya Aqil lagi.
"Untuk apa aku kesana? Aku juga punya urusan sendiri."
"Bukanya kamu harus menjadi istri yang baik? Apa seperti ini cara kamu memperlakukan suami kamu?"
"Aqil. Aku lelah, Aku ingin istirahat."
"Aku mau kamu kerumah Papa dan minta restu untuk aku dan Mei."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian."
Mendengar itu aku hanya diam. Aqil bahkan tidak memikirkan perasaanku.
"Aku hanya meminta hal ini. Setelah itu kamu bisa melakukan apapun."
"Aku akan melakukanya besok." Aku mengatakan itu sebelum masuk ke kamar.
Aku hanya ingin membuat Aqil bahagia. Walau aku harus mempertaruhkan hati dan perasaanku. Aku juga harus tetap tenang agar Mei mau mengaku tentang dirinya padaku.
💝 💝 💝
Pagi ini aku sudah siap untuk pergi kerumah Mama. Aku akan membicarakan semuanya sebelum Papa Adrik ke kantor. Aku tahu mereka akan sangat menentang, tapi apalah daya. Aku istri yang harus menurut dengan suami.
"Kamu mau kemana sepagi ini?" tanya Aqil saat aku berada di garasi mobil.
"Aku akan kerumah Papa."
Aqil tersenyum dan menghampiriku. Dia mengusap lembut kepalaku.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau membantuku."
Aku hanya mengangguk pelan. Kembali jantungku berdetak kencang. Senyuman ini jarang sekali aku lihat setelah Aqil menikah dengan Mei.
"Aku antar kamu sekarang." Aqil membukakan pintu mobil untukku.
"Tidak usah. Kamu harus ke kantor bukan."
"Kamu juga istriku. Aku akan mengantarmu, ayo naik."
Aku masuk ke mobil. Perasaan Aqil seperti sedang bahagia. Apa karena Mei yang sudah berasama denganya.
Setelah sampai dirumah Papa Adrik. Aqil tidak turun dan langsung meninggalkan aku. Aku melihat Mama yang sedang menyiram tanaman.
"Mama. Aku kangen sama Mama." Aku dan Mama saling memeluk.
Tidak tega rasanya mengatakan semua itu. Tapi aku kembali meyakinkan hatiku. Kalau ini untuk jalanku dan kebahagiaan Aqil.
"Apa Papa masih dirumah Ma?" Aku melihat sekeliling tidak melihat mobil Papa.
"Masih. Tumben nyariin Papa. Ada apa?"
"Tolong panggilin Papa ya Ma. Aku ingin ngomong penting sama Papa dan Mama." kataku pelan. Bahkan sangat pelan.
"Iya. Ayo masuk dulu."
Kami masuk ke rumah. Suasana yang sama dan aku masih ragu untuk mengatakan semuanya. Papa dan Mama sudah datang mereka menatapku dengan penuh tanya.
"Mau ngomong apa Al?" tanya Papa.
"Pa. Maaf, aku kesini karna Aqil."
"Ada apa dengan Aqil?" wajah Mama langsung terlihat khawatir.
"Aqil tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan kalau Aqil....." Aku menundukan kepalaku.
"Katakan dengan jelas Alisha," kata Papa lagi.
"Papa dan Mama janji tidak akan marah kan?"
Mereka saling pandang dan mengangguk satu sama lain.
"Sebenarnya. Aqil dan Mei sudah menikah. Aku juga baru tahu, tapi mereka belum berani untuk meminta restu Mama dan Papa."
"Apa?!" Papa langsung berdiri.
"Pa. Papa tenang dulu dengarkan dulu Alisha." Mama mencoba menenangkan Papa.
"Pa. Jangan marah dengan Aqil. Aku tahu Aqil salah tapi semua karna aku," kataku lagi. Jika saja aku tidak mengaku dengan cepat waktu itu.
"Kamu melakukan hal apa hingga Aqil menikahi Mei?" tanya Mama pelan.
Aku mulai menjelaskan semuanya. Dari awal aku bertemu dengan Vidi di pemakaman. Sampai aku tahu kalau aku adalah Lili.
"Aku sudah tahu Al," Kata Papa yang terlihat sedih.
"Ini semua kesalahan aku dulu. Aku tahu kamu Lili sudah sejak lama, ini juga alasan kamu menikah dengan Aqil."
"Maafkan kami sayang," tambah Mama.
Aku tidak tahu jika mereka menyembunyikan semua ini sejak lama.
"Sayang. Mama akan mengatakan pada Aqil. Kamu jangan sedih ya sayang."
"Pa, Ma. Aku kesini ingin meminta restu untuk mereka. Jangan salahkan siapapun. Aku sudah menerima semuanya." kataku dengan senyuman terpaksa.
"Kamu jangan bohong Alisha. Papa akan bantu kamu."
"Tidak usah Pa. Aku harus menerima dengan senyuman."
Mereka hanya diam mendengar jawabanku. Ya, aku harus tetap bertahan untuk mereka. Bukan hanya untuk diriku sendiri.
__ADS_1
💝 💝 💝
to be continued