
Hari ini hari terakhir aku dan Zefan bulan madu. Kami memilih untuk jalan-jalan ke air terjun dekat hotel yang katanya sangat indah.
"Zefan, apa aku harus ikut?" tanyaku. Sebenarnya aku masih takut jika kembali terpisah seperti kemarin.
"Memangnya kenapa? ini kan hari terakhir kita di sini." Zefan menyingkap kerudung yang menghalangi wajahku.
"Aku tidak mau jika akhirnya di sana sendirian."
"Tidak akan," Zefan membelai pipiku lembut, "Aku janji akan selalu pegang tangan kamu."
Mendengar hal itu membuat aku sedikit tenang. Walau masih, ada rasa khawatir tapi aku tahu Zefan tidak akan meninggalkanku.
Aku masuk ke kamar mandi meninggalkan Zefan sendirian. Kembali aku membuka pintu kamar mandi.
"Zefan." Panggilku.
"Ada apa?"
"Terima kasih," kataku.
Aku kembali menutup pintu itu. Membuat Zefan gemas. Tidak tahu kenapa aku merasa hidupku lebih berwarna dengan adanya Zefan dihidupku.
"Zefan, apa aku pantas memakai baju ini?" aku keluar dengan baju panjang warna biru dengan hiasan bunga matahari.
Zefan mendekat dan mencium pipi kiriku, "Kamu sangat pantas menggunakanya, hanya masih ada yang kurang."
Aku mengerutkan kening, apa yang kurang. Aku sudah mencoba menggunakan baju dan merubah penampilanku untuk Zefan. Kenapa masih saja kurang.
"Pakai ini, kamu akan lebih cantik." Zefan menyelipkan sebuah cincin di sela jariku.
Cincin dengan permata berbentuk hati. Aku kaget kenapa bisa Zefan selalu membuat aku terkejut dan bahagia.
"Bagaimana? apa kamu suka?" tanya Zefan.
Aku langsung memeluknya. Aku bahagia, bukan karena cincin di jariku, tapi karena Zefan ada untukku.
"Kamu sangat suka dengan hadiah ini? jika aku akan selalu memberikanya untukmu."
"Tidak," aku masih memeluk Zefan dengan erat, "Aku sudah bahagia memiliki kamu," kataku.
"Kamu sudah pandai menggodaku ya," kata Zefan padaku.
"Biarin, aku juga hanya melakukanya padamu."
"Ya sudah, ayo berangkat. Rombongan kita sudah menunggu."
Aku mengangguk semangat.
Kami turun dengab lift. Banyak orang yang sudah menunggu kami karena memang hanya kami yang belum datang. Setelah berdo'a dan ada sedikit himbauan dari pemandu kami. Kami akhirnya berangkat.
💝💝💝
Aku kira jaraknya cukup dekat tapi kami sudah berjalan hampir satu jam. Dan air terjunya belum juga kelihatan.
"Apa masih lama? aku sudah sangat lelah." Aku benar-benar merasakan lelah di kakiku.
"Mau aku gendong?" tanya Zefan.
"Tidak perlu. Aku pasti bisa."
Tangan kami terus bergandengan sejak berangkat tadi. Zefan benar-benar menepati perkataanya.
"Sebentar lagi kita sampai dan bisa istirahat." Kata pemandu yang sudah ada di depan.
"Mau minum lagi?" kembali Zefan menawariku minum.
Aku menggeleng, "Kita hampir sampai dan aku tidak haus."
__ADS_1
Kami kembali berjalan pelan.
"Sayang, gendong aku sangat lelah." Aku tahu itu suara Yesi.
Benar saja, Yesi sedang merengek pada Aqil. Padahal Yesi tahu jika Aqil hanya acuh tak acuh padanya.
"Ada apa?" tanya Zefan yang tahu aku menatap kearah Yesi, "Jangan pandangi laki-laki lain di depanku."
Aku sedikit mendorong bahu Zefan, "Untuk apa aku memandang orang lain, kan ada kamu yang bisa aku pandang."
"Haha," Zefan tertawa cukup keras. Sampai menjadi perhatian rombongan kami.
"Ada apa?" tanya pemandu pada Zefan.
"Tidak, aku hanya senang istriku jujur padaku."
Aku merasa sangat malu karena Zefan. Hampir semuanya menatapku kali ini.
Pemandu itu hanya tersenyum, "Kalian pasti sangat bahagia karena sedang bulan madu. Ayo kita kembali jalan."
Kami kembali melanjutkan perjalanan kami. Banyak tanaman yang memili bunga yang indah. Walau aku menyukai bunga, tidak semuanya aku tahu namanya.
"Kamu tidak ingin hubungan kita menjadi yang paling romantis," Yesi melirik kearah kami, "Aku nggak mau kalah sama mereka itu," kata Yesi dengan manja pada Aqil.
Aqil menoleh padaku, mata kami bertemu. Aku langsung memalingkan muka karena Aqil menatapku dengan sangat tajam.
Sampai di air terjun banyak orang yang langsung menceburkan diri ke air. Sementara aku memilih untuk duduk di bebatuan pinggiran.
"Aku mau ikut ke air. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Zefan.
"Baiklah, aku akan menunggu di sini sendiri."
"Tidak sendiri, ada aku yang menemani."
Aku dan Zefan menoleh keasal suara. Aqil, apa lagi yang akan dia lakukan kali ini.
Zefan langsung berbalik untuk masuk ke dalam air. Aku langsung menangkap tangan Zefan.
"Apa kamu bisa di sini saja?" tanyaku. Aku benar-benar takut, aku tidak mau hari kemarin terulang lagi.
"Kamu tenang saja, ada Aqil. Dia kemarin juga menyelamatkan kamu. Aku hanya sebentar."
"Baiklah." Dengan berat hati aku melepaskan genggaman tanganku pada Zefan.
Aku hanya diam dan kembali duduk, namun sedikit menjauh dari Aqil.
"Kenapa? kamu tidak ingin denganku? padahal suamimu sendiri yang menitipkan kamu padaku," kata Aqil.
Aku hanya diam dan memandang Zefan yang sedang asik berenang dengan yang lain. Aku juga melihat Yesi, dia terlihat bebas. Kenapa aku malah di sini dengan Aqil, sungguh tidak adil.
"Al, apa kamu ingin tahu bagaimana caraku membunuh orang tuamu?"
Mendengar hal itu membuat rasa takutku semakin terkumpul.
"Aku memang masih kecil saat itu, tapi apa kamu pernah berfikir jika aku memanipulasi kematian itu?"
Aku berjalan menjauh dari Aqil, "Apa kamu gila, kamu semakin membuat aku ingin menjauh."
"Dan kamu selalu membuat aku ingin dekat denganmu. Aku suka saat kamu menjerit ketakutan," kata Aqil.
Aku menahan tangisku atau Aqil akan merasa menang dan bahagia. Aku harus kuat.
"Aku juga tidak tahu sejak kapan aku seperti ini, yang aku ingat hanya aku benci pada orang yang memiliki keluarga bahagia."
Aku semakin menjauh, bahkan aku tidak melihat apa yang aku pijak. Sampai aku merasakan diriku akan terjatuh.
Hap, "Apa kamu ingin bunuh diri?" Aqil menarikku. Hampir saja aku terjatuh ke bebatuan terjal.
__ADS_1
Aku melepaskan tangan Aqil dariku.
"Al, hanya kamu yang bisa membuat aku berubah. Jadi, apa kamu tidak ingin memikirkanku lagi?" kali ini nada suara Aqil lebih lembut.
"Aqil, kita sudah beda jalan. Aku akan tetap menganggap kamu kakakku, seperti dulu."
"Kakak? aku tidak mau. Dirimu hanya milikku, kami harus paham."
"Ada apa ini?" tanya Zefan. Dia terlihat basah.
Aku menggelengkan kepalaku dan mendekat padanya, "Apa airnya dingin?" tanyaku pada Zefan.
"Cukup menyegarkan." Jawabnya.
Aku pura-pura melihat jam tangan, "Kita harus cepat kembali ke hotel, nanti kamu masuk angin."
"Istriku ini sangat menghawatirka diriku rupanya."
Kami berpamitan pada yang lain untuk pulang lebih dulu. Aqil hanya mampu menatapku pergi dengan Zefan.
Bagiku, tingkah Aqil semakin mengerikan. Dia bahkan tidak merasa bersalah ketika membahas pembunuhan orang tuaku. Dia juga terlihat senang saat aku terluka dan menangis. Apa karena traumanya di masa lalu hingga dia melupakan hati nuraninya.
"Al, Al. Kamu kenapa?"
"E..eh. Ada apa Zefan?"
"Kamu dari tadi melamun. Apa ada hal yang dikatakan Aqil padamu?"
Aku menggeleng dengan cepat, "Aku hanya sangat ingin istirahat. Mungkin karena kelelahan saja."
"Baguslah jika tidak terjadi apa-apa."
💝💝💝
Kami sudah sampai di kota kami. Aku melihat Vidi dan Mila sudah menunggu kami.
"Aaa!" teriak Mila begitu melihat aku dan Zefan datang, "Apa kamu tahu? dari tadi Vidi marah karena kalian telat hampir satu jam," kata Mila kemudian.
"Kata siapa? aku dan Zefan tepat waktu kok." Aku membela diriku kali ini.
"Bukan kalian yang salah, Milany aja yang ngajakin ke sini lebih awal." sahut Vidi dari dalam mobil.
"Kita bahas itu nanti, aku sangat lelah dan ingin tidur lebih cepat." Zefan memasukan koper-kopernya dibantu Vidi. Aku masuk dan langsung meletakan tubuhku yang terasa remuk ini.
Kami pulang langsung ke rumah. Vidi dan Mila juga hanya mengantar kami dan langsung pulang.
"Aku mau tidur dulu ya," kata Zefan.
"Aku juga mau istirahat. Badanku terasa remuk semua."
Bi Iyah mendekat pada kami dengan buru-buru.
"Kalian sudah pulang?" tanya Bi Iyah.
Aku dan Zefan kompak menganggukkan kepala.
"Biar saya bantu beberes Non."
Aku mengangguk semangat.
"Bi, kami istirahat dulu ya. Tolong bangunkan jam tiga sore," kata Zefan.
"Baik, Den."
Aku dan Zefan memilih tidur terpisah agar lebih nyenyak setelah perjalanan cukup jauh ini. Bagiku ini bukan bulan madu tapi hanya liburan yang melelahkan.
💝💝💝
__ADS_1
to be continued