Bertahan

Bertahan
Part 75 S 2


__ADS_3

Suasana bandara sudah sangat ramai. Aku mengantar sendiri Zefan ke bandara. Aku sangat ingin ikut namun Zefan mencegahku.


"Nanti kabari aku jika sudah sampai." Aku memberikan tas yang aku pegang pada Zefan.


"Tentu." Zefan mencium keningku.


Sebelum pergi aku memeluk erat tubuh Zefan. Dua hari ini, akankah aku merasa tenang tanpa kamu di sisiku. Aku pasti akan rindu berat pada Zefan.


"Aku mencintaimu," kata Zefan.


"Aku juga. Hati-hati."


Situasiku saat ini tidak baik. Aqil sudah mulai ikut sidang walau masih berkeliaran. Takut jika sesuatu terjadi padaku. Zefan bahkan menyewa dua orang pengawal untukku.


"Jika akan keluar. Kamu tidak boleh sendiri."


"Ya."


Kembali Zefan mencium keningku. Dia memelukku lagi. Sulit rasanya berpisah walau hanya sesaat.


"Pesawatku sebentar lagi berangkat. Lebih baik kamu kembali ke mobil."


Dua pengawal itu sudah menungguku. Walau kami tidak dalam satu mobil. Mereka akan mendampingiku dengan mobil lain, tentunya agar tidak terlalu mencolok.


"Alisha." Teriak Zefan.


Aku menoleh.


"Aku mencintaimu." Teriaknya lagi.


Aku hanya tersipu malu dengan kelakuan Zefan. Sejak menikah, baru kali ini Zefan pergi lumayan jauh. Bahkan saat Aqil sedang mencariku karena laporanku dan Zefan.


💝💝💝


Di rumah aku melihat Bi Iyah yang sedang membersihkan beberapa barang di ruang tamu. Seperti baru saja orang datang ke sini dan membuat keributan.


"Bi, ada apa ini?" tanyaku.


Bi Iyah meletakan vas bunga ke meja. Lalu menghampiriku, wajahnya terlihat sangat pucat.


"Non, tadi ada beberapa orang yang mencari Non dan Tuan. Mereka menggeledah rumah ini. Untung saja, Non dan Tuan tidak di rumah."


Aku memberikan senyuman pada Bi Iyah. Walau aku merasa sangat takut. Pasti orang suruhan Aqil yang datang kemari. Aku harus bagaimana.


"Non, apa ada masalah?" tanya Bi Iyah yang melihat aku melamun.


"Bi, untuk sementara waktu. Saya tidak akan di sini, tolong jaga rumah ya Bi."


Aku tidak mau jika Bi Iyah ikut terkena masalah ini. Aku harus menghindar semampuku.


"Memangnya kenapa, Non?"

__ADS_1


"Saya ada urusan. Zefan juga sudah tahu semuanya, nanti jika saya akan kembali. Saya akan kabari Bi Iyah."


"Baik, Non."


Saat ini Zefan pasti di dalam pesawat. Aku tidak mungkin untuk menelfonya, lebih baik aku mengirim pesa saja. Dia akan membacanya setelah sampai. Aku yakin akan hal itu.


"Tolong carikan aku rumah atau apartemen sederhana. Secepatnya," kataku pada dua pengawal itu.


"Baik." Ucap mereka dengan patuh.


Setelah mereka pergi, aku kembali ke dalam kamar dan mengemas baju. Pikiranku masih melayang jauh. Berharap jika Aqil akan selesai menghujaniku dengan ketakutan.


Seseorang tiba-tiba saja memelukku. Pelukan yang sangat kuat dan hangat.


"Zefan." Aku langsung memanggil namanya. Aku merasakan dia ada di sini.


Orang itu membalik badanku dengan kasar. Mata kami bertemu, di sana bukan Zefan tapi Aqil.


"Sejak tadi aku menunggumu pulang." Aqil mencengkeram ke dua pundakku dengan kuat.


"Lepaskan aku. Aku akan bersyukur jika kau tiada." Aku mencoba menepis tangan Aqil.


Aqil berdecak, dia bahkan mendorongku hingga aku tidak bisa bergerak. Kini tubuhku sudah terkunci, tenaga Aqil sangat kuat.


"Ceraikan Zefan dan gugurkan kandunganmu. Aku berjanji tidak akan melukaimu."


Aku masih tetap mencoba keluar dari kuncian Aqil, "Lepaskan aku. Bahkan jika aku matipun, aku tidak akan pernah melepaskan keluarga yang aku cintai."


"Kau siap mati untuk pria bodoh itu?" tanya Aqil dengan mata yang penuh amarah.


"Apa kau gila. Kau akan di penjara karena ini."


Pisau yang aku pegang kini sudah diambil Aqil dengan paksa. Dia tahu aku akan menikamnya.


"Tidak ada yang bisa memenjarakan aku. Aku punya uang dan mereka butuh uang."


Aku mencoba terus berontak. Wajah Aqil terlihat senang disaat aku seperti ini. Dia tidak mencintaiku, dia hanya ingin melihat aku terluka.


"Sekarang kamu bisa pilih. Menikahlah denganku atau suamimu akan meninggal."


"Sudah aku bilang. Sampai matipun, aku tidak akan meninggalkan Zefan."


Suara dering telfon membuat Aqil melemparkanku. Kepalaku terbentur kaki kursi. Namun aku masih sadar sepenuhnya.


"Apa kau mau mendengar suara siapa ini?" tanya Aqil.


Jika saja perutku tidak sakit dan kepalaku tidak terluka. Mungkin aku akan berlari dan mencari bantuan.


\="Bagaimana Bos. Apa aku harus melakukanya sekarang?"\=


Suara itu. Suara Mila, kenapa Mila memanggilnya Bos. Jangan-jangan, apa yang kufikirkan benar. Mila menerima semua tawaran Aqil dan menghianatiku. Mama Sarah, apa Mila akan mengambil Mama Sarah dariku?

__ADS_1


\="Bos. Bagaimana?"\=


"Dalam hitungan ke tiga, kau bisa membunuhnya. Satu. Dua. Ti....ga."


\="Sudah bos. Satu menit lagi, Sarah akan dinyatakan meninggal."\=


"Bagus. Bayaran kamu sudah aku kirim." Aqil menyeringai padaku.


"Apa ... apa yang kau lakukan pada Mama Sarah?" dengan sisa tenagaku aku merebut ponsel itu dari tangan Aqil.


"Mila. Apa yang kau lakukan?"


\="Maafkan aku."\=


Hanya kata maaf dan Mila mematikan ponsel. Aku menoleh pada Aqil, dia memberikan senyuman kemenangan dan itu membuat aku muak.


"Jika kau ingin aku. Hancurkan saja aku, kenapa harus orang lain?" air mataku jatuh. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.


"Aku pernah mengatakan, jika kau tidak memilihku. Satu persatu orang yang kau kenal akan menghilang."


"Dasar kau ********."


Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipiku, "Kau bilang aku ********. Setengah mati aku mencintaimu dan kau malah memilih pria bodoh bernama Zefan."


"Aku membencimu."


Buk. Kali ini yang dilakukan Aqil membuat aku diam. Diam karena sakit, dia memukulku tepat di perut. Dia benar-benar ingin membunuhku dan anakku.


"Aku akan datang menjemputmu lain kali. Katakan selamat tinggal pada bayimu."


Sreet. Pisau yang di pegang Aqil mengenai lenganku, perlahan darah mulai mengucur karena sayatan pisau. Aqil tidak menoleh lagi saat dia berlari ke jendela.


Aku menahan sakit di perutku sembari memandang kepergian Aqil. Bahkan untuk meminta tolongpun suaraku sangat lemah. Bayangan Zefan memenuhi pelupuk mataku. Apa ini akhir dari semuanya?


"Nyonya." Teriak ke dua pengawal yang masuk ke dalam kamarku.


"Aku tidak apa. Tolong bawa aku ke rumah sakit."


Aku masih sadar saat Bi Iyah membantuku masuk ke dalam mobil. Aku juga meminta Bi Iyah menelfon Aqil. Aku ingin secepatnya dia kembali ke sisiku. Aku tidak mungkin bisa menghadapi Aqil sendirian.


"Non tenang saja. Tuan sedang kembali ke sini."


Aku mengangguk mengerti. Zefan pasti sangat khawatir. Bi Iyah mencoba menghentikan darah yang mengalir dari lenganku.


"Apa Non tidak merasakan sakit?"


Mendengar perkataan Bi Iyah membuat aku tersenyum. Perlahan pandanganku mulai kabur, aku meletakan kepalaku ke pundak Bi Iyah. Aku ingin istirahat sampai suamiku tercinta di sisiku lagi.


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2