
Semalam aku tidak bisa tidur karna teringat dengan semua ucapan Yesi. Untung saja mama Zefan bukan orang yang bisa terbawa hanya dengan kata-kata. Sekarang aku hanya perlu menjauh dari Aqil dan Yesi.
Aku melihat beberapa panggilan masuk dari Zefan. Aku ingin menelfon balik namun Zefan sudah menelfonku dulu.
"*Hallo, ada apa kok pagi-pagi nelvon?."
"Mama pengen mampir kerumah kamu dulu sebelum pulang," kata Zefan dari seberang sana.
"Maksud kamu ke apartemenku?" aku memastikan lagi apa yang aku dengar.
"Iya, mama juga ingin kamu nanti nganterin dia pulang. Aku dan Mama lagi siap-siap berangkat," kata Zefan lagi.
"Ok, ok. Aku akan dirumah."
"Sudah dulu ya," kata Zefan di sana.
"Baiklah*."
Setelah menutup telfon aku langsung mengemasi rumah. Tidak mungkin kan, calon mertua datang namun rumah kaya kapal pecah. Aku juga bersiap untuk membuatkan sarapan seadanya dan sebisaku.
Banyak hal yang aku kerjakan hingga aaku kaget ketika melihat wajahku dicermin. Mata pandaku, benar juga semalam aku tidak bisa tidur dan sekarang langsung terlihat kantung mata.
"Aku harus sedikit menghilangkanya," kataku pelan.
Aku mengambil beberapa alat make-up. Padahal aku tidak bisa make-up. Aku akan menggunakanya sebisaku.
💝 💝 💝
Tidak lama setelah aku ganti baju aku mendengar bel berbunyi. Aku tahu itu mama dan Zefan. Ya, aku sudah mengganti bel yang rusak itu dengan yang baru.
Aku bergegas membukakan pintu. Namun sebelum itu, beberapa kali aku mengatur nafas agar tidak terlihat gugup.
"Selamat pagi, Zef ... " aku kaget karna bukan Zefan atau mama di sana.
"Kau kaget melihatku di sini lagi?" tanya Yesi. Dia langsung masuk tanpa permisi. Bahkan mendorongku.
"Mau kamu apa lagi?" tanyaku dengan ketus. Aku tidak ingi ditindas olehnya.
"Bagaimana semalam? apa tidurmu nyenyak?" tanya Yesi.
"Bukan urusanmu."
"Alisha, kamu nggak akan pernah dapat pria baik jika kamu kasar. Pantas saja Aqil meninggalkanmu," kata Yesi dengan penuh percaya diri.
Aku menatap Yesi, "Apa kau benar-benar menganggap Aqil baik? jika iya, untuk apa dia berselingkuh dan membunuh anakku," kataku dengan nada tinggi. Ya, aku sudah tersulut emosi, gadis yang aku kira baik ternyata lebih mengerikan dari Mei.
"Tidak mungkin dia melakukan itu." Yesi menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak percaya karna kamu hanya melihat dari sudut pandangmu." Kali ini aku duduk dan Yesi berdiri.
"Kau ... " Yesi sudah mengangkat tanganya untuk menamparku namun tertahan karna kedatangan Zefan dan mamanya.
"Zefan, Mama kalian sudah datang?" tanyaku pada mereka.
Aku langsung menghampiri Zefan dan Mama. Sementara Yesi terpaku, aku tidak tahu kenapa Yesi begitu membela Aqil. Aku hanya ingin dia tahu bagaimana sifat Aqil yang sebenarnya.
"Yesi juga di sini?" tanya Mama Zefan.
__ADS_1
"Iya, kebetulan aku lewat sini tante. Jadi sekalian mampir." Yesi menghampiri Mama Zefan dan langsung duduk di sampingnya.
"Kau ternyata sudah masak," kata Zefan padaku.
"Aku masak sebisaku," kataku.
"Kalau begitu sekalian sarapan aja di sini." Zefan mengajak mamanya.
"Kamu juga sekalian makan Yesi."
Yesi melirikku dan tersenyum sinis. Aku tahu apa yang akan dia lakukan, tapi tidak baik jika aku langsung mengusirnya.
"Baik kalau tante maksa," kata Yesi.
"Mari semua." aku menunjukan tempat makan yang satu ruangan dengan dapur.
Aku hanya memasak omelet sayur dan sup ayam. Aku tidak tahu apa mereka akan suka. Aku mengambilkan nasi dan piring. Setelah berdo'a mereka langsung makan. Sama seperti tadi malam dirumah Zefan, kami makan tanpa suara. Sampai Yesi membuka suara.
"Kok omeletnya nggak enak. Iya kan, tante," kaya Yesi dia juga meminta persetujuan Mama Zefan.
"Enak kok. Mama kan suka sayur," kata mama dengan senyuman padaku.
"Supnya juga keasinan," kata Yesi lagi.
"Mungkin karna kamu nggak suka asin," timpal Zefan.
Yesi memutar bola matanya dan kembali makan. Aku hampir saja tertawa namun aku tahan. Aku tidak ingin menyinggung Yesi lagi.
Setelah selesai makan Yesi langsung berpamitan. Aku, Zefan dan Mama juga bersiap untuk mengantar Mama pulang. Rumah Mama lumayan jauh juga ternyata. Namun setiap minggu Mama akan ada dirumah Zefan.
💝 💝 💝
"Indah banget rumah Mama," kataku masih dengan nada yang memuji.
"Biasa aja kali. Ayo masuk." Mama menggandebg tanganku, "Kamu bawa koper mama ya," teriak mama pada Zefan.
Zefan hanya menampakan wajah cemberut. Namun dia tetap melakukanya.
"Mau minum apa?, biar mama yang buatin," tanya Mama padaku.
"Tidak usah Ma, Mama tinggal sendiri?" aku tidak melihat siapapun di sana.
"Asisten rumah tangga Mama sedang cuti, bentar lagi juga datang pengurus kebun Mama." Kami duduk dihalaman samping. Di mana banyak bunga bermekaran.
"Jika kalian sudah memiliki obrolan, aku bukan siapa-siapa lagi," kata Zefan masih dengan wajah cemberut.
"Kamu tetap anak mama yang paling tampan." Mama mencubit pipi Zefan dan membuat Zefan semakin cemberut.
"Aku malu, Ma. ada Alisha," kata Zefan.
Aku merasa sangat senang melihat pemandangan anak dan ibunya itu. Mereka terlihat sangat damai, aku ingin seperti mereka.
"Mama masuk dulu, kalian bisa ngobrol." Mama meninggalkan aku dan Zefan di taman itu. Zefan langsung duduk di sampingku.
"Bagaimana pendapat kamu tentang Mama?" tanya Zefan padaku.
"Aku suka Mama kamu," aku mengatakanya dengan sebuah senyuman. Aku memang sangat menyukai Mama Zefan.
__ADS_1
"Kamu tidak menyukai aku?" tanya Zefan dengan dahi berkerut.
Aku tertawa melihat ekspresi itu. Bahkan Zefan terlihat kebingungan. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
"Aku angkat telfon dulu ya," kataku pada Zefan. Zefan mengangguk.
Aku berjalan menjauh dari Zefan untuk mengangkat telfon itu. Mila.
"*Hallo Mila, ada apa?".
"Cepat datang ke sini," kata Mila dengan nada panik.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aqil datang dan mengobrak-abrik tempatku. Dia mencarimu." Mendengar itu aku terdiam sesaat.
"Aku akan datang secepatnya*."
Aku langsung menutup telfon itu. Aku melihat Mama dan Zefan sedang berdua.
"Ma, Zefan. Aku harus ke kantor sekarang." aku berpamitan dengan pikiran melayang.
"Ada apa? wajah kamu pucat," tanya Mama padaku.
"Sebenarnya .... " aku bingung mau mengatakanya pada Zefan.
"Ada apa Al?" tanya Zefan.
"Aqil mencariku dan mengobrak-abrik kantor," kataku pelan.
"Apa!" teriak Mama dan Zefan bersamaan.
Aku mengangguk pelan.
"Apa maunya Aqil sebenarnya?" tanya Aqil.
"Zefan, temani Alisha. Mama takut ada apa-apa," kata Mama Zefan.
"Tidak perlu, nanti merepotkan kalian," kataku. Pikiranku sudah terbang entah ke mana.
"Aku akan bersamamu." Zefan langsung menarikku, "Kamu milikku sekarang," katanya.
Aku dan Zefan langsung berpamitan dengan Mama. Mama juga terlihat sedikit takut, takut jika akan terjadi sesuatu.
"Mama tenang aja, nanti aku kabari lagi," kata Zefan mencoba menenangkan Mamanya.
"Iya Ma. Nanti aku kabari," aku mengatakan dengan senyuman.
"Kalian hati-hati. Jangan lupa kalian harus mengabari Mama." Mama langsung memelukku.
"Aku pasti kabari Mama." Aku melepaskan pelukan Mama.
Zefan langsung tancap gas begitu kami sudah di dalam mobil. Zefan terlihat marah. Entah kenapa aku merasa Zefan sangat melindungiku.
💝 💝 💝
to be continued
__ADS_1