
"Apa kalian akan berangkat sekarang?" tanya Mama padaku dan Zefan.
Zefan mendekati Mama dan merangkulnya, "Ma, aku tidak mau acara bulan maduku dan Alisha harus tertunda lagi. Bukanya Mama sudah ingin cucu?" tanya Zefan pada Mama.
Aku merasa pipiku merah karena pertanyaan Zefan pada Mama. Kenapa juga harus membahas hal ini sekarang, aku hanya mampu menundukan kepalaku.
"Kamu ini, jika memang Alisha masih sakit jangan dipaksakan."
"Kata siapa Al sakit, dia sudah sehat seperti biasa," kata Zefan dengan semangat.
"Benar, Al?" tanya Mama.
Aku mengangguk pelan.
"Baiklah jika begitu, Mama akan mengantar sampai di bandara."
Zefan langsung mengangkat tanganya, "Ma, jangan antar kami. Kami hanya ingin menikmati waktu berdua. Mama tahu kan?"
Kali ini aku tertawa dengan tingkah Zefan. Dia benar-benar membuat aku bahagia.
"Baiklah, Mama tidaka akan mengantar kalian. Tapi kalian harus janji, hati-hati di sana."
"Siap, Bos."
Aku menggandeng tangan Mama, "Aku pasti akan merindukan Mama."
"Kamu memang anak baik."
Zefan memisahkan aku dengan Mama, "Jangan pada nangis, kita bulan madu hanya dua minnggu. Ayo sayang, kita rapikan baju dan berangkat."
Zefan menarikku untuk masuk ke dalam kamar, "Tapi Fan."
"Tidak ada penolakan hari ini."
Aku mengemas beberapa pakaianku dan Zefan. Dia terlihat sangat bersemangat kali ini, padahal aku belum mengatakan jika ingatanku sudah mulai kembali. Apapun alasan Aqil bagiku sudah tidak ada artinya, sekarang aku hanya ingin tertawa dengan Zefan. Dia akan menjadi kebahagiaanku sekarang dan nanti.
"Kenapa kau hanya melamun? apa kau tidak ingin bulan madu denganku?"
Aku mengerjapkan mataku karena wajahku dan wajah Zefan sangatlah dekat. Sejak kapan dia ada di depanku seperti ini.
"Kenapa kau sangat senang membuatku terkejut."
Cup. Sebuah kecupan membuat aku langsung membelakangi Zefan. Selalu saja seperti ini, aku merasa sangat malu.
"Tidak usah menutup wajahmu, kita akan lebih sering melakukanya."
"Apa maksudmu?"
"Bukanya kita akan membuatkan cucu untuk ibu. Kenapa harus malu." Zefan memeluk pingganggu, dia bahkan berniat untuk menciumku lagi.
"Jika hanya seperti ini, kapan kita akan berangkat?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami.
Zefan melepaskan pelukanku dan langsung mengambil koper yang sudah terisi barang-barang.
"Ayo, aku tahu kamu sudah tidak sabar melakukanya denganku."
Aku membulatkan mataku dan mengikuti Zefan keluar dari kamar. Mama sudah menunggu di ruang tamu.
"Kalian harus hati-hati di sana. Zefan kamu harus menjaga istrimu. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan Alisha."
"Siap Ma."
💝💝💝
Sampai di tempat tujuan kami, ternyata sebuab hotel yang memiliki tema alam. Aku tidak tahu jika Zefan menyukai hal yang seperti ini.
__ADS_1
"Kamu suka dengah kejutanku?" tanya Mas Naja saat kami sampai.
"Tentu. Ini hotel terindah."
Walau jauh dari masyarakat tapi hotel ini memiliki banyak sekali tamu. Di sini juga sudah ada restoran dan toko serba ada.
"Silahkan, kami akan membawakan koper anda sampai di kamar."
Aku menggandeng tangan Mas Naja. Lift yang transparan membuat pemandangan alam terlihat. Sangat indah.
"Lihatlah ke bawah, banyak orang di sana."
Aku menggelengkan kepalaku. "Aku takut ketinggian. Aku bisa pingsan jika melihat ke bawah."
Ting. Pintu lift terbuka, kembali aku terpesona, lorong yang dibuat seperti jalanan di dalam hutan.
"Dari mana kau mendapatkan hotel secantik ini?" tanyaku pada Zefan.
"Temanku yang merekomendasikan."
"Ini kunci kamar Bapak." Kata pelayan itu.
Kami masuk, dengan koper yang berada di tangan. Tempat tidur sudah di penuhi oleh bunga mawar, aku tidak tahu kenapa tapi ruangan ini sudah di dekorasi untuk pasangan pengantin. Aku menoleh pada Zefan. Dia mendekat dan memelukku.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku pada Zefan
"Bukankah kita sudah janji akan memberikan cucu untuk Mama."
Aku memdorong Zefan, "Kau selalu saja menggodaku." Aku membuka jendela kamar yang langsung tertuju pada pemandangan hutan yang indah.
"Kau tahu, di sini juga ada taman yang ditumbuhi banyak bunga." bisik Zefan.
"Benarkah?" aku menoleh dan tidak sadar jika wajah kami sangatlah dekat.
Cup. Kembali, Zefan berhasil mengecup bibirku. "Mau ke sana?" tanya Zefan kemudian. Dia berhasil meredam amarahku.
"Baiklah, kau istirahat dan aku akan melihat-lihat daerah ini."
Terima kasih Zefan. Kau sudah menjadi suamiku, temanku, dan orang tuaku. Aku tidak tahu jika aku menemukanmu dalam pelarian hati. Semoga ini menjadi cinta terakhir kita.
💝💝💝
Aku merasakan tubuhku diguncang seseorang. Aku mengerjapkan mataku, dan melihat Zefan sudah siap dengan bajunya. Dia terlihat tampan.
"Sayang, sudah waktunya makan malam. Cepat bangun."
"Aku masih lelah." Kali ini aku sangat malas untuk bangun.
"Makan dulu, baru kamu tidur lagi."
"Baiklah." Dengan malas aku menyibak selimut yang membalut tubuhku.
"Aku sudah memberikan kamu gaun. Pakailah untuk malam ini."
Aku menoleh dan meletakan tanganku di leher Zefan, "Jangan terus menerus menggodaku. Aku juga seorang manusia, kau harus tahu itu." Aku mengedipkan mataku.
"Cepatlah mandi sebelum aku berubah pikiran." Zefan terlihat lucu saat aku mencoba untuk ikut menggodanya. Bahkan wajahnya memerah.
Saat aku mandi sampai selesai, Zefan memilih untuk duduk di balkon melihat pamandangan yang sangat indah. Aku sudah siap, kini aku mendekat padanya.
Tangan Zefan menarikku sampai aku duduk di pangkuanya.
"Zefan." Panggilku.
"Diam, biarkan aku memelukmu."
__ADS_1
Aku sudah mencoba memberitahu Zefan jika aku ini lapar. Tapi, Zefan tetap saja memelukku. Dia bahkan menciumku.
Kruuukk, kruuk. Kali ini aku sangat malu, perutku berbunyi.
"Kau lapar?" tanya Zefan.
"Aku sudah mencoba mengatakanya dari tadi."
"Maaf, ayo kita turun untuk makan."
Sampai di depan restoran aku tidak melihat ada orang yang makan di sana. Namun para pelayan terlihat sangat sibuk.
"Permisi, maaf restoran ini sudah dipesan oleh pasangan yang sedang bulan madu di sini," kata seorang pelayan.
Aku menoleh pada Zefan, dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf, kami tidak tahu."
Aku menarik tangan Zefan untuk pergi dari sana dan makan di kamar. Namun tanganku yang satu lagi di genggam oleh seseorang.
"Aqil?" aku kaget saat mengetahuinya ada di sini. Setiap kali aku dengan Zefan pasti ada Aqil di sana.
"Maaf, aku sudah memesan semuanya untuk Yesi. Tapi, kalian juga bisa makan bersama kami."
"Baiklah, ini sebuah kehormatan bisa makan dengan temanku."
Aku tidak tahu tapi Zefan terlihat baik-baik saja. Kami masuk, Yesi sudah duduk di sana. Alunan musik terdengar mengalun lembut di telinga. Jika untuk dansa pasti sangatlah indah.
"Kau melamun?" tanya Zefan.
Kami mulai makan dengan keheningan. Alunan musik masih mengalun dengan indah.
"Maukah kamu berdansa denganku?"
Aku mengangguk pelan, sampai aku sadar jika yang mengajakku adalah Aqil. Aku menoleh pada Zefan, dia hanya diam dan menundukan kepalanya. Aku sudah membuat kesalahan besar.
"Ma..maaf. Aku .."
"Kamu hanya perlu mengikutiku." Aqil mulai melangkahkan kakinya. Aku hanya mengikutinya dengan enggan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku pada Aqil.
Aqil tersenyum jahat, "Di mana ada kamu, pasti ada aku."
"Aku sudah ingat semuanya. Kamu bukan hanya pembunuh, kamu juga menghianati hubungan kita."
"Jika kamu sudah ingat. Itu tanda jika kamu adalah milikku."
Mendengar hal itu membuat aku marah. Ingatanku kembali, namun tidak dengan perasaanku. Aku mendorong Aqil dan menghampiri Zefan.
"Ayo kita kembali ke kamar."
Yesi hanya memandang kearahku dan Aqil secara bergantian. Aku menahan tangisku.
Sampai di kamar, aku memeluk erat tubuh Zefan. Aku milik Zefan, bukan Aqil. Aku akan menyerahkan segalanya untuk Zefan.
"Kenapa kamu tidak katakan jika kamu sudah ingat semuanya?" tanya Zefan.
"Maaf." Hanya kata maaf saja yang mampu aku ungkapkan.
"Jika kau memang hanya milikku, berikan semuanya padaku."
"Apapun akan aku berikan untukmu."
Zefan semakin memelukku, kini aku hanya akan memberikan hatiku pada Zefan. Aku milik Zefan hingga akhir.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued