
Aku sudah siap untuk keluar. Ya, aku akan menemui Mama Sarah. Dia sedang berada di apartemen Vidi sekarang.
"Apa kau yakin?" tanya Zefan.
Aku masih duduk di depan kaca rias. Aku sedang memoleskan make-up tipis.
Aku menoleh pada Zefan, "Aku sudah memilih, mana mungkin aku membiarkan Mama angkatku terluka."
"Aku tahu, tapi ini sangat berbahaya. Aqil bisa melukaimu kapan saja."
Aku menghampiri Zefan dan memeluknya dari belakang.
"Al, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kamu dan calon bayi kita."
"Aku tahu perasaan kamu, Fan."
Zefan melepas pelukanku, ke dua tanganya menangkup wajahku.
"Jika kamu tahu, kenapa kamu masih mengambil resiko ini?"
Aku menunduk, "Hanya dia Mamaku yang masih hidup. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang Mama." Aku menatap wajah Zefan, "Walau hanya sebentar aku sangat ingin merasakanya."
Zefan berdecak, "Ok, aku akan temani kamu."
Zefan memutuskan hal itu akhirnya. Namun aku juga tidak ingin karirnya hancur. Hari ini dia akan menemui orang penting.
"Aku tidak mau," kataku.
"Kenapa?"
Aku menghela nafas, "Kau akan menemui orang yang penting hari ini. Aku tidak ingin membuat kamu merugikan kantor."
Zefan terlihat frustasi dengan keadaan ini. Bagiku Zefan sangat bingung harus memilih aku atau kantornya.
Tok tok tok. Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang. Aku bergegas membukanya.
"Ada apa, Bi?" tanyaku.
Bi Iyah menatapku, "Ada tamu Non."
"Siapa?"
"Seorang perempuan. Katanya, tante Non."
"Tante?" aku bertanya namun otakku berfikir.
"Iya, Non."
Aku mengangguk, "Aku akan turun sebentar lagi, Bi."
"Baik, Non."
"Bi, tolong buatkan minum untuknya."
Bi Iyah mengangguk dan turun ke lantai bawah lagi. Aku kembali pada Zefan yang masih merenung di sofa.
"Aku akan menemui tamu dulu. Kamu harus bersiap ke kantor."
Tidak ada jawaban. Mungkin Zefan sedang membutuhkan waktu untuk sendiri. Lebih baik aku turun dan menemui tanteku itu.
"Al, apa kau sehat. Kau bahkan tidak mengirim pesan padaku."
Ternyata Mila. Kini dia langsung berteriak saat melihatku turun.
"Kau tahu, aku sangat sibuk dengan suamiku."
Aku duduk di samping Mila. Dia terlihat sangat bahagia setelah ada cincin pertunangan di jarinya.
__ADS_1
"Maaf, kemarin saat kamu mengundangku. Aku tidak bisa datang," kataku.
Mila terlihat bingung, "Undangan? kapan?"
"Waktu kamu mengirim buket bunga. Saat aku di rumah Mama Zefan." Aku merasa jika ada yang salah kali ini.
Mila tertawa kecil, "Buat apa aku mengirim buket bunga untuk kamu."
"Mungkin itu jebakan. Untung saja kamu tidak datang." Zefan langsung mengatakan hal itu begitu sampai di bawah.
"Zefan, bagaimana kabar kamu?" tanya Mila.
"Lihat saja, aku selalu baik."
Aku menghampiri Zefan, "Apa kau akan berangkat sekarang?" tanyaku.
"Iya, nanti aku terlambat. Kamu hati-hati jika akan keluar rumah."
Aku mengangguk. Karena sedang ada Mila, aku hanya mengantar Zefan sampai di depan rumah. Lalu kembali masuk.
"Tumben kamu ke sini. Ada apa?" tanyaku pada Mila.
"Tunggu, apa Zefan mengatakan jebakan?"
Aku tidak mau Mila tahu masalah Aqil lebih baik aku menghindari membahas hal ini.
"Lupakanlah, sejak tahu aku hamil. Dia selalu seperti ini."
Mila membulatkan matanya, "Apa?! kau hamil?"
Aku mengangguk.
Tanpa ba bi bu. Mila langsung memelukku.
"Apa kau sangat bahagia dengan kehamilan ini?" tanya Mila.
"Tentu saja."
"Maksudmu?”
Tiba-tiba dering ponsel Mila berdering. "Aku akan mengangkatnya dulu." Mila menjauh dariku. Dia terlihat sangat serius, namun wajahnya langsung berubah saat menutup telfon itu.
"Maaf sekali, aku harus pergi ke tempat Vidi. Kata Vidi, ada Kakanya di rumah dan sedang sakit."
Kebetulan sekali aku juga akan ke sana. Lebih baik aku ikut dengan Mila kali ini.
"Apa aku boleh ikut?"
Mila memandangku, "Tentu, ayo."
"Aku akan mengambil tasku dulu."
"Baiklah, aku akan menunggu di dalam mobil."
Dengan senang hati aku kembali ke kamar dan mengambil tasku. Tidak lupa juga aku mengatakan pada Bi Iyah jika aku akan keluar dengan Mila.
💝💝💝
Sampai di apartemen kembali menerima sebuah teflon. Aku tidak tahu, namun yang dibahas mereka adalah tentang bisnis. Entahlah bisnis apa.
"Maaf, kamu sepertinya harus ke tempat Vidi sendiri. Aku dapat telfon dari client."
Aku tersenyum, "Kesannya kok kaya kamu yang nganterin aku."
"Nggak apa-apa."
"Terima kasih, Mila."
__ADS_1
"Sama-sama."
Aku turun dari mobil. Mila langsung tancap gas pergi. Aku melihat gedung apartemen itu, sangat tinggi dan Vidi ada di lantai ke sepuluh.
"Semoga sampai tujuan." Lirihku.
Aku masuk ke dalam lift, hanya ada seorang pria. Namun aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh majalah yang dia pegang.
"Apa kau tidak merindukan aku?" tanya Pria itu.
Aku merasa tidak asing dengan suara itu. Aku menoleh, perlahana majalah itu tertutup dan wajah seseorang terlihat.
"Tidak usah kaget. Aku hanya ingin melihatmu."
Aku mundur sampai menabrak dinding, "Kenapa kamu tahu aku di sini?" tanyaku.
Aqil tersenyum, "Aku dengar kau sedang hamil. Aku hanya ingin melihat keadaan kamu dan calon anak kita."
"Ini anakku dan Zefan." teriakku. Lift ini rasanya tidak bisa bergerak. Biasanya sangat cepat dan sekarang menjadi sangat lama.
Kembali Aqil tertawa dengan suara yang sangat mengerikan.
"Apa kau akan menemui Sarah?" tanya Aqil.
Aku tidak menjawab. Jika aku mengatakan ya maka Aqil akan kembali melakukan sesuatu padanya.
"Kamu tahu apa konsekuensinya?" Aqil mendekat padaku.
Aku menggeleng, "Aku ke sini menemui Vidi. Ada hal yang harus kami bahas."
Dengan kasar Aqil memojokanku, salah satu tanganya mencengkeram wajahku.
"Sayang, kau sudah sangat pandai berbohong. Apa Zefan yang mengajarimu?"
Kesar rasanya dengan apa yang di katakan Aqil. Namun aku tidak mungkin melawanya, atau akan terjadi sesuatu dengan aku dan calon anakku.
"Dengar, jika kamu berani bohong lagi padaku. Maka, nyawa Sarah tidak akan lama lagi."
Ingin rasanya aku menangis kali ini. Aku hanya bisa berharap jika ada seseorang yang datang.
"Kamu sudah tahu tentang rahasiaku. Tapi, kamu jangan kira aku akan melepaskan kamu begitu saja. Walau aku mencintaimu, aku tidak akan mengampuni kamu."
Ting. Pintu lift terbuka, Aqil langsung menghempaskan aku. Dia keluar dengan wajah marahnya.
"Ingat, jangan katakan apapun tentang aku pada siapapun. Atau calon bayimu juga akan terluka."
Aku hanya menangis di dalam lift. Aqil benar-benar kejam. Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Jika aku mengatakan hal ini, akan ada banyak orang yang akan terluka.
💝💝💝
Aku menatap sedih pada Mama Sarah. Dia tergeletak lemah dengan luka-luka di seluruh tubuhnya.
"Jika dia tahu kamu ke sini, dia pasti akan marah padaku," kata Vidi.
Aku mengangguk. Ya, ini karena aku. Mama Sarah menderita karena menolongku. Mungkin jika dulu aku sudah bersama dengan Aqil. Aku tidak akan seperti ini.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku.
Vidi menghela nafas, "Aku tidak tahu, hanya banyak yang bilang dia kecelakaan saat akan ke bandara."
"Apa lukanya sangat serius?"
"Lihat saja, sampai saat ini Kak Sarah masih bergantung pada mesin."
Aku tidak boleh gegabah. Aku akan kembali secepatnya atau Aqil akan semakin menyiksa orang lain karena aku.
Jangan ada korban lagi. Semoga Mama Sarah menjadi orang terakhir yang terluka karena aku. Aku harus bisa mengalahkan Aqil, meskipun harus memenjarakanya.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued