Bertahan

Bertahan
Part 24


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku saat aku merasakan sebuah tangan menyingkirkan rambutku dari wajah.


"Kau bangun?. Apa aku mengganggumu?". tanya Aqil saat tahu aku membuka mata.


"Maaf aku bangun kesiangan". Aku mencoba bangun namun Aqil mencegahnya.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau demam". Aqil beberapa kali memegang dahiku.


"Aku tidak tahu jika aku demam". kataku pelan.


"Apa mau aku panggilkan dokter?. Atau aku antar kerumah sakit?". Aqil mengenggam tanganku erat.


"Tidak perlu. Dirumah juga ada obat". Mei masuk tanpa permisi kekamarku.


"Sayang, nanti teman-temanku akan datang. Mereka ingin melihatmu". Mei menggelayut manja pada Aqil. "Kamu temani aku dirumah ya". Masih dengan rayuannya.


"Aku akan dirumah. Alisha juga sedang sakit, aku harus mengurusnya juga". Aqil menatapku.


"Aku akan siapkan obat untuk Alisha bagaimana?".


"Bagus. Aku akan disini untuk menemaninya". Kata Aqil. Mei mencium pipi Aqil dan keluar dari kamarku.


Aku menunduk dan hanya diam. Aku bingung haris bereaksi bagaimana. Hancur, jelas hati ini hancur tapi apa mau dikata. Aqil bahkan tidak memikirkan perasaanku.


Tidak lama pembantu baru datang dengan membawa minuman serta obat.


"Maaf Tuan. Anda disuruh kebawah menemui tamu dari nyonya Mei". kata dia.


"Kamu tidak apa-apa kan saat aku tinggal". Aqil mengusap kepalaku. "Sebelum kamu turun. Kamu minum obat dulu ya".


Aqil membantuku meminum obatnya. Setelah itu dia mengecup keningku dan turun untuk menemui teman-teman Mei.


💝 💝 💝


Hampir dua jam aku merasakan sakit yang sangat diperutku namun aku tidak berani keluar takut mengganggu acara mereka.


Sampai pada akhirnya aku keluar kamar. Aku akan kerumah sakit dengan Aqil atau tanpa Aqil.


"Aqil . Aqil. Aqil". Aku mencoba memanggilnya namun dia tidak mendengar.


Akupun keluar dan meminta sopir untuk mengantarku namun semua sopir hari ini libur. Aku terus memegangi perutku. Pandanganku juga semakin buram. Dengan berjalan perlahan aku akan menghentikan taxsi.


"Kau kenapa?. Apa perutmu sakit?". Gama mendekatiku dan mencoba untuk memegangi diriku.


"Jangan dekati aku Gama. Aku benci padamu" Aku berjalan mundur masih dengan perut yang terasa sangat sakit.


"Kamu pantas benci denganku namun kamu harus memikirkan bayimu" perlahan Gama mendekat. "Aku antar kamu kerumah sakit ya". Gama memapahku untuk masuk kemobilnya.


Diperjalanan kerumah sakit aku hanya diam sambil terus menahan perutku. Aku tidak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Aku menangis, takut bayi dalam kandunganku kenapa-napa.


💝 💝 💝


"Bagaimana keadaanya dok?". tanya Gama pada dokter wanita yang baru saja memeriksaku.


"Anda suaminya ya?". Dokter itu tersenyum dan memandangku. "Ibu ini hampir saja keguguran, mungkin karna makan sesuatu".


"Keguguran?". tanyaku yang masih mencerna perkataan dokter itu.


"Saya katakan hampir. Untungnya cepat dibawa kesini, kami sudah kasih obat penguat kandungan". Kembali dokter itu tersenyum. "Dijaga benar-benar ya Bu. Kasihan suaminya sampai secemas itu".

__ADS_1


"Saya bukan suaminya dok". Kata Gama, dia tertunduk lesu.


Senyum. Hanya senyum yang diberikan dokter itu lagi. "Silahkan istirahat dulu Bu. Saya permisi".


Dokter itu keluar setelah memberikan resep untuk aku tebus. Hari ini Gama sudah menyelamatkan aku.


"Trimakasih Gama".


"Sama-sama. Jangan bodoh hanya karna hal kecil, kamu harus menjaga bayi kamu". Gama tersenyum padaku.


"Oh jadi kamu yang membawa istriku diam-diam" Aqil masuk keruanganku dan menonjok wajah Gama.


"Aqil. Apa-apaan kamu". aku mencoba menghentikan Aqil. "Dengarkan dulu penjelasan aku". kataku.


"Penjelasan?. Jelas-jelas kamu pergi dengan pria lain saat aku dirumah". wajah Aqil memerah. Matanya memancarkan kemarahan.


"Gama, kamu tidak apa-apa kan?". Aku membantu Gama bangun dari duduknya.


"Aqil. Jika Gama tidak membawaku kesini, aku mungkin sudah kehilangan anakku".


"Maksud kamu apa?". Aqil menggenggam tanganku erat. Sangat erat hingga tanganku sakit. "Aku ada dirumah, seharusnya kamu memanggilku".


"Aku sudah memanggilmu beberapa kali. Namun kamu tidak mendengarku, semua sopir juga kamu liburkan". Aku menunduk sedih dengan apa yang Aqil lakukan.


"Aqil, jangan terlalu keras denganya". Gama mencoba menengahi aku dan Aqil.


"Kamu diam, kamu hanya ingin mengambil simpati istriku dan merebutnya pelan-pelan dariku bukan?".


Aku menatap Aqil. Apa Aqil sudah tahu tentang aku dan Gama. Kenapa dia bisa mengatakan ini.


"Aqil". panggilku padanya. "Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu".


"Sekarang kamu keluar dari sini. Biar aku mengurus istriku sendiri".


Gama keluar dengan kepalan tangan. Dia juga terus memegangi pipinya yang terlihat lebam karna ulah Aqil.


"Lepaskan Aqil. Ini benar-benar sakit". aku berkata sangat pelan takut menyinggung hati Aqil.


Aqil menangkuo wajahku dan mencium keningku. Dia menatap lekat kedua mataku. "Mulai sekarang jika ada apa-apa jangan pergi dariku. Tapi, panggil aku".


Aku mengangguk pelan. Aqil membantuku untuk kembali ketempat tidur.


"Maaf, kamu jadi lihat hal yang seharusnya tidak kamu lihat". Aqil berbicara dengan janin yang ada diperutku.


"Kamu tahu dari mana aku disini?". tanyaku pada Aqil.


"Mei, dia mengatakan kalau kamu dirumah sakit". Aqil duduk disampingku.


"Kok Mei bisa tahu aku disini."


Aqil mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Kamu mau makan apa?".


"Aku hanya ingin istirahat saja, sore nanti aku juga sudah pulang".


"Kalau begitu, kamu istirahat dulu. Aku akan mengabari Mama".


💝 💝 💝


Mama menyuapiku dengan sangat telaten. Aku mencoba menolak karna masih bisa makan sendiri.

__ADS_1


"Udah Ma. aku udah kenyang".


Mama meletakan mangkuk bubur itu. Beliau menatapku lekat.


"Aqil menyakitimu?". tanya Mama dengan penuh kasih. Aku sangat rindu dengan Mama kandungku.


"Tidak Ma. Kenapa Mama menanyakan hal ini?".


"Dengerin Mama, kamu anak Mama. Katakan apa Aqil menyakitimu".


"Ma, Aqil tidak pernah menyakiti aku. Aku bahagia dengan pernikahan ini". Aku memegang tangan Mama untuk meyakinkanya. "Jika ada apa-apa, aku akan berlari kearah Mama".


"Kamu harus melakukan itu jika ada apa-apa". Mama akhirnya tersenyum.


"Sayang kenapa harus kesini. Aku kan mau belanja". aku dan Mama langsung menoleh kearah pintu saat mendengar suara Mei.


"Mama kok udah disini?". tanya Aqil. Mereka saling memeluk.


"Mama bisa bicara sama kamu kan?". Tanya Mama begitu Aqil melepaskan pelukanya.


"Bisa kok Ma. Nanti aku akan kerumah".


Mama menggeleng. "Mama maunya sekarang".


"Kalau begitu Mei bisa menjaga Alisha disini".


Aqil dan Mama keluar. Mei mendekat dan membisikan sesuatu padaku.


"Aku tidak mengira kamu bisa selamat". Mei tersenyum sengit padaku.


Diam dan tidak menggubrisnya, itu yang aku lakukan.


"Kamu harus merasakan sakit yang sama seperti yang kakakku rasakan" Mei menekan infus ditanganku.


Aku memejamkan mata dan mencoba menahanya Percuma berdebat dengan Mei. Ujung-ujungnya dia hanya akan marah dan semakin brutal.


"Apa yang kamu lakukan Mei?". Aqil menarik Mei menjauh dariku.


"Aqil. Aku hanya membantu Alisha membenarkan selang infus ditanganya". kata Mei dengan nada manjanya.


"Benar apa yang dikatakan Mei, Al?". tanya Aqil padaku.


"Dimana Mama?". aku mencoba mengalihkan perhatian Aqil.


"Mama lagi beli susu buat kamu". Aqil duduk disampingku. "Aku akan menemani Mei, setelah itu aku jemput kamu untuk pulang".


Jika boleh jujur aku tidak ingin pulang kerumah itu. Aku takut Mei akan melukai anakku lagi.


"Mama juga akan ikut kita pulang. Dia khawatir kamu tidak bisa menjaga kandungan kamu".


"Jelas tidak bisa, dia kan tidak pernah disayang orang tuanya". Mei mengatakan dengan tatapan tidak suka.


"Kamu diam dan tunggu aku dimobil". Aqil menyuruh Mei pergi dari sana.


"Ok".


Setelah Mei keluar Aqil langsung mengecek tanganku. "Kamu sangat baik untukku". Aqil mencium tanganku dan berpamitan.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2