Bertahan

Bertahan
Part 38 S 2


__ADS_3

Aqil manatapku sampai akhirnya pintu apartemenku terbuka. Aku melihat Mama Zefan, Zefan dan Yesi di sana. Mereka menatapku lekat. Aku hanya diam terpaku, sedangkan Aqil dia biasa saja.


Aku langsung berdiri dan berjalan kearah mereka, "Kalian datang?" tanyaku pada Zefan.


"Mama tidak mengira jika kamu melakukan hal ini pada Zefan. Mama kecewa," kata Mama. Mungkin mereka sudah salah paham melihat aku dan Aqil bersama.


Yesi langsung merangkul Aqil, "Kau sekarang berselingkuh di depanku?" tanya Yesi dengan nada yang sangat manja.


"Kamu benar-benar membuat aku kecewa Al." Zefan langsung pergi dengan Mamanya.


Aku mencoba mencegahnya namun mereka tetap tidak mau mendengarkan penjelasankum. Sementara Yesi masih saja bermesraan di dalam apartemenku.


"Apa kalian sudah selesai? jika sudah. Keluar dari apartemenku sekarang!" teriakku pada Aqil dan Yesi.


"Kenapa kau kasar begini? Alisha, kita bisa omongin baik-baik," kata Aqil padaku.


"Aku bilang cepat keluar. Sekarang." Aku bahkan sampai mendorong mereka.


Aku memikirkan cara agar Zefan mau mendengar penjelasan aku. Aku sudah membuat Zefan dan Mamanya terluka. Karna sudah siang, aku putuskan untuk berangkat ke kantor dan memikirkan cara untuk menemui Zefan.


💝💝💝


Beberapa kali Mila menanyaiku tentang apa yang terjadi pagi tadi. Aku tahu Zefan pasti akan mengganggunya karna hal ini.


"Katakan saja apa yang terjadi," kata Mila padaku. Ponselnya bahkan terus berbunyi karna semua pesan dari Zefan.


"Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Aku bahkan tidak tahu kenapa Aqil bisa tahu alamatku." Aku menatap Mila kali ini.


"Apa?" tanya Mila padaku.


"Jangan-jangan kau yang memberikan alamatku padanya," tuduhku pada Mila.


"Apa aku terlihat segila itu?" Mila balik bertanya padaku.


"Lalu dia tahu dari mana?" tanyaku perlahan.


Aku dan Mila sama-sama diam. Aku memikirkan siapa yang memberikan alamatku pada Aqil. Zefan mana mungkin, Vidi apalagi. Apa jangan-jangan Yesi yang ingin menjebakku ya?.


"Apa menurutmu Yesi yang melakukanya?" tanyaku pada Mila.


"Apa kamu gila, mana mungkin ada wanita yang menyerahkan tunanganya untuk wanita lain," kata Mila.


"Mungkin saja kan, kamu kan tahu Yesi tidak suka aku berhubungan dengan Zefan."


"Betul juga," Mila terlihat sedang berfikir "tapi kamu jangan berfikiran seperti itu dulu, siapa tahu bukan dia."


"Ada benarnya juga." Aku menganggukan kepalaku.


Fikiranku kembali melayang entah kemana. Zefan dan Mamanya pasti sangat kecewa. Baru kemarin mereka membelaku dengan hati dan sekarang hati itu sudah remuk.


"Kita kerja dulu aja, masalah kamu nanti kita fikir bareng-bareng," kata Mila.


"Yesi juga sudah mengurungkan kesepakatan dengan kita, kamu sekarang lebih leluasa untuk bekerja."


Aku mengangguk dan kembali keruanganku. Aku ingin mengirim pesan pada Zefan, namu aku urungkan niat itu. Zefan pasti sedang sibuk di kantornya. Apa aku ke kantornya saja, "Mungkin dia akan menolak menemuiku," kataku lirih.

__ADS_1


"Al, ada kiriman paket untuk kamu," kata Vidi.


"Kamu di sini?" tanyaku.


Vidi mengangguk dan memberikan paket itu. Kali ini wajah Vidi sudah terlihat baik tidak seperti pagi tadi.


"Kamu memesan sesuatu dari kotamu dulu?" tanya Vidi.


"Tidak, mungkin Giel yang mengirimkanya untukku." Aku menerima kotak itu.


"Aku keruangan Mila dulu, ok." Vidi langsung bergegas pergi.


"Dia sedang bertemu client," kataku.


Vidi kembali masuk ke ruangaku. Kali ini dia duduk dan memperhatikan aku yang sedang membuka kotak itu.


"Apa isinya?" Vidi terlihat sangat penasaran.


"Aku juga ingin tahu." Aku membukanya perlahan. Ada sebuah boneka, buku, baju, dan masih banyak lagi.


"Ini semua hadiah atau milikmu dulu?" tanya Vidi.


"Aku juga tidak tahu ini apa maksudnya." Aku kembali meneliti kotak itu. Tidak ada nama pengirim atau apapun. Hanya alamat rumah yang dulu aku tempati dengan Aqil, juga Mei.


"Aku akan menelfon Giel untuk memastikanya," kataku pada Vidi.


Vidi mengangguk setuju.


"*Hallo Giel. Bagaimana kabarmu?" Aku mencoba untuk basa-basi.


"Kamu mengirim paket untukku?" tanyaku padanya.


"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Giel lagi.


"Tidak ada apa-apa. Sudah dulu ya, aku sedang sibuk saat ini." aku ingin mengakhiri panggilan ini agar Giel tidak banyak bertanya lagi.


"Baik mbak*."


Akupun langsung menutup telfon itu. Aku menggelengkan kepalaku pada Vidi.


"Tanya Aqil saja," kata Vidi.


"Tidak mau."


"Ayolah. Ini juga agar kamu tahu."


"Tidak." Aku masih pada prinsipku. Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Aqil.


"Kamu nggak penasaran?" tanya Vidi padaku.


"Mungkin hanya orang iseng." Aku mengatakan dengan senyuman.


"Aku kd luar." Vidi langsung keluar dari ruanganku.


Aku kembali sendiri dan termenung. Aku harus menyelesaikan kesalah pahaman Zefan. Ya, aku akan ke kantornya.

__ADS_1


💝💝💝


"Di mana ruangan Zefan?” tanyaku pada gadis resepsionis di kantor Zefan.


" Apa sudah ada janji?” tanya gadis itu.


Benar juga. Aku bahkan harus memiliki janji untuk bertemu denganya jika di kantor.


"Aku mohon, ini sangat penting." Aku mencoba meyakinkan gadis resepsionis itu.


"Maaf, ini sudah prosedur perusahaan kami."


Tidak lama aku melihat Zefan dengan beberapa karyawanya. Dia mungkin akan pergi keluar.


"Zefan!" panggilku dengan suara cukup keras.


Beberapa karyawan langsung menatapku. Zefan menoleh padaku dan langsung kembali berjalan. Dia tidak menghiraukan diriku.


Aku berlari untuk menyusulnya. Langkah kaki Zefan begitu lebar hingga aku sulit untuk mengejarnya.


"Zefan, dengerin penjelasan aku dulu," kataku. Zefan sudah membuka pintu mobilnya, namun dia tutup lagi dan menoleh padaku.


"Aku kira kau sudah mulai mencintaiku. Aku tidak marah padamu, aku hanya heran kenapa kamu tega membuat mamaku kecew," kata Zefan.


Aku berjalan mendekatinya, "Aku tahu aku salah. Tapi, semua ini salah paham." Aku menundukan kepalaku.


"Salah paham? jika kamu masih mencintainya, lebih baik jujur. Jangan memberikan harapan untuk orang lain." Mata Zefan menatapku lekat.


"Zefan. Aku sudah mulai membuka hatiku untukmu, aku akan melupakan Aqil demi hubungan ini." aku memegang tangan Zefan. Masa bodoh dengan orang yang melihat kejadian ini.


"Lalu kenapa Aqil berada di apartemenmu pagi buta?" tanya Zefan kemudian.


Aku menjelaskan panjang lebar padanya. Zefan lalu tersenyum dan mengusap kepalaku.


"Aku sudah tahu, Mila yang mengatakanya." Zefan menarikku masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kamu pura-pura marah padaku?" tanyaku pada Zefan.


"Aku hanya ingin mendengar penjelasan kamu langsung."


Kami berdua terdiam di dalam mobil. Suasana canggung meliputiku dengan Zefan kali ini. Padahal dia yang menarikku ke sini.


"Bagaimana aku menjelaskan pada Mama?" tanyaku pada Zefan.


"Aku yang akan mengatakanya. Kamu memberikan alamat kamu pada Aqil?" tanya Zefan kemudian.


"Aku juga tidak tahu. Yang tahu alamatku hanya Mila, Vidi, kau, dan juga Yesi."


"Biar aku yang cari tahu. Sekarang temani aku makan," kata Zefan.


"Siap."


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2