
Kembali aku melihat nama client yang akan aku tangani. Padahal sudah hampir sepuluh kali, tapi aku terus memastikanya. Kenapa juga aku baru sadar jika disana ada nama Aqil.
"Lagi ngapain kamu?" tanya Mila mencoba melihat kearahku.
"Bukan apa-apa. Mila, apa aku bisa ganti client?".
Mila menggeleng pelan dan duduk disebelahku. "Tidak bisa, kau dari awal sudah mengurusnya." Mila melihat kearahku. "Mau tidak mau kamu harus melanjutkannya sampai akhir".
"Aku mohon." Kali ini aku benar-benar menolak. Aku tidak ingin masalaluku terus menghantui diriku.
"Aku tahu semuanya." Mila mengusap pelan pundakku, "Bagaimanapun kamu harus tetap menghadapinya".
"Nggak bisa segampang itu".
"Buat dia percaya kalau kamu tidak ingin bersamanya lagi," kata Mila memberikan saran.
"Caranya?".
"Kamu tahu cara apa yang cocok untuk dia. Karena kamu yang lebih tahu." Mila tersenyum. "Lanjutkan pekerjaanmu, aku juga ada bertemu dengan client lain".
"Trimakasih saranya".
"Sama-sama. Ingat, jangan lukai hatimu sendiri," pesan Mila sebelum pergi.
Dari tadi pagi aku tidak fokus mengerjakan apapun di kantor. Banyak kerjaan yang akhirnya dilakukan teman lain. Aku sudah membayangkan, bagaimana jika setiap hari harus bertemu dengan Aqil dan pura-pura tidak mengenalnya.
💝 💝 💝
Aku kembali meminum tehku, dengan kesendirianku aku memikirkan cara agar Aqil menjauh. Padahal aku masih memendam rasa untuknya, apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Bahkan cerita dengan temanpun tidak akan punya jawaban pasti," kataku perlahan.
"Kau sedang apa disini?" tanya Zefan. Dia langsung duduk disampingku, "Aku tahu, kamu sedang memikirkanku".
"Betapa percaya dirinya kamu". Aku meletakan cangkir tehku.
"Kamu tidak berangkat kerja?" tanya Zefan.
"Aku akan menemui client. Kamu, kenapa tidak bekerja?" aku kembali bertanya pada Zefan.
"Aku mencarimu".
"Lupakanlah. Berbicara denganmu hanya membuat aku semakin gila," kataku pada Zefan.
__ADS_1
"Iya, tergila-gila karna aku kan?".
Mau tidak mau aku jadi tertawa karna tingkah Zefan. Dia benar-benar mampu untuk menghiburku.
"Aku akan menemui clientku dulu. Nanti kita bertemu" aku bersiap untuk pergi.
Zefan menarikku hingga wajah kami saling berhadapan. "Kamu sudah tidak sabar berduaan denganku ya?," kata Zefan dengan nada menggoda.
"Mungkin." Aku melepaskan tangan Zefan dan keluar.
Setidaknya Zefan mampu membuat aku bertemu dengan Aqil tanpa rasa bingung. Dia yang menjadi alasan aku tersenyum. Sahabatku.
Sampai ditempat yang aku tuju, aku beberapa kali mengatur nafas. Aku tidak ingin terlihat gugup di depan mereka.
"Maaf menunggu lama," kataku pada Aqil dan Yesi.
"Kamu ternyata tidak bisa diandalkan," kata Aqil padaku.
"Maaf Pak, saya memang salah." aku menundukan kepalaku.
"Nggak apa-apa kok Al. Maafin Aqil ya," kata Yesi.
"Nggak apa-apa kok".
"Kata siapa? wedding organizer ini yang terbaik di kota ini." Yesi memegang tangan Aqil. "Semuanya pasti beres kok".
"Aku percaya sama kamu". mereka bahkan hampir berciuman.
Ehem.. Aku mencoba mengalihkan kegiatan mereka, Ini kan ditempat umum. Mereka kembali melihat kearahku.
"Sebenarnya, saya meminta bertemu untuk urusan fitting baju," kataku pada Aqil dan Yesi.
"Apa baju yang aku pesan sudah jadi?" Tanya Yesi dengan nada ceria.
"Aku minta sekarang saja kita fitting." Aqil menatap Yesi. "Bagaimanapun fitting tidak memakan waktu yang lama kan?." kata Aqil lagi.
Yesi mengerucutkan bibirnya, dia mungkin tidak setuju dengan apa yang dikatakan Aqil.
"Sayang, aku perlu waktu. Kamu juga harus meeting setelah ini.".
"Kamu benar." Aqil mengusap kepala Yesi dengan lembut.
"Jadi, kalian akan melakukan fitting baju kapan? biar saya bisa mengaturnya," kataku perlahan.
__ADS_1
Mungkin Aqil mencoba untuk membuat aku cemburu dengan semua tingkahnya. Aku sendiri masih memikirkan cara agar Aqil tidak mendekat padaku.
"Dua hari setelah hari ini." Yesi mengatakanya dengan semangat dan disambut baik oleh Aqil.
"Baik, aku setuju dengan istriku."
Aku mengangguk mengerti. Setelah itu kami berbincang sebentar, sebelum akhirnya aku mengundurkan diri. Melihat mereka saling mengumbar kemesraan membuat dadaku panas. Aku tidak ingin kehilangan kendali di sini.
"Kalau begitu saya akan mengatur jadwalnya," kataku dengan menahan amarah.
"Baik, terimakasih Al," kata Yesi.
"Sama-sama, saya permisi dulu. Selamat siang." Aku berpamitan dengan mereka. Mereka hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.
Aku keluar dengan tergesa. Ya, aku cemburu bahkan sangat cemburu. Bagaimana mungkin aku melupakan Aqil hanya dengan ucapan, sedangkan hatiku terus meneriakkan namanya.
💝 💝 💝
Zefan menatapku dengan mata tajamnya. Senyumanya mampu melelehkan kaum hawa yang melihatnya. Tapi kenapa, aku masih saja belum bisa membukakan hatiku untuk Zefan.
"Kau benar-benar mengajakku keluar?" tanya Zefan.
"Iya. Aku tidak ingin mengingkari janji yang aku buat," kataku pelan. Walau aku pernah mengingkari janjiku pada Aqil waktu itu.
"Kau sedang punya masalah?" tanya Zefan lagi. Kali ini pertanyaanya terlihat sangat serius.
"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu makan." Aku tersenyum, aku tidak ingin menyembunyikan senyumku lagi pada Zefan.
"Silahkan dinikmati," kata pelayan yang baru saja membawakan makanan untuk kami.
Aku dan Zefan tersenyum.
"Kau benar-benar masih mengingat mantan suamimu?" tanya Zefan disela kami makan.
"Kamu sudah tahu semuanya, buat apa aku menutupinya lagi. Sampai sekarang aku masih sulit untuk melupakannya, namun aku sudah bertekad untuk melupakanya," kataku dengan pasti.
Setelah aku mengatakan hal itu. Aku yakin Zefan akan semakin mendekatiku dan aku akan mencoba membuka hatiku untuknya.
"Pasti sangat berat jadi kamu. Apa lagi setelah kamu kehilangan bayimu."
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Zefan. Benar, jika rasa sakit itu masih terbawa hingga kini.
💝 💝 💝
__ADS_1
to be continued