
"Kau sudah siap?" teriak Zefan dari lantai bawah.
"Tunggu," sahutku.
Aku sedang bersiap untuk ke dokter. Aku memang harus rajin periksa, walau hanya satu bulan sekali. Zefan juga memberikan waktunya untuk hal ini.
"Kau sangat lama jika berdandan."
"Aku baru saja minum vitamin yang di berikan Mila."
Kembali Zefan tidak senang, "Kenapa kau meminumnya. Kita kan tidak tahu obat apa itu."
"Sudah aku bilang. Jangan berfikiran buruk, tadi malam aku juga minum. Tidak ada yang aneh."
"Tapi, kan..."
"Ayo. Nanti kita kesiangan." Aku langsung menggandengan tangan Zefan.
Dengan begini Zefan tidak akan merasakan ketakutanya. Zefan terlalu khawatir.
"Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan mengampuni Mila."
"Sudahlah. Dia tidak mungkin menyakitiku."
Di dalam mobil aku terus mencari pembicaraan lain. Kali ini, kekhawatiran Zefan padaku sangat berlebihan. Aku tidak ingin hal ini membuat hubungannya dengan Mila terganggu.
💝💝💝
Setelah mengambil antrian aku memilih duduk dengan majalah di tanganku. Zefan juga membelikan minuman.
"Apa ada lagi yang kau inginkan?" tanya Zefan padaku.
"Tidak."
Sebenarnya, aku merasakan sakit di perutku. Mungkin karena aku kelelahan, jika aku mengatakanya pada Zefan. Dia pasti akan mengira karena aku minum vitamin dari Mila. Lebih baik aku diam saja.
"Kenapa kau membaca majalah terbalik?" tanya Zefan.
Aku tersadar dari lamunanku dan tersenyum padanya.
"Wajah kamu pucat. Apa kau tidak apa?"
"Zefan. Kamu terlalu khawatir. Aku tidak apa-apa."
Sampai akhirnya aku di panggil juga ke ruang periksa. Aku dan Zefan masuk, dokter langsung tersenyum begitu melihatku masuk.
"Mari, saya akan periksa."
Aku berbaring. Dokter mulai mengoleskan krim untuk USG. Aku hanya diam, jujur saja aku takut terjadi apa-apa karena perutku sakit.
"Apa ibu meminum obat atau sesuatu?" tanya Dokter padaku.
Aku menggeleng.
"Ibu harus jaga benar-benar calon bayi ibu. Untung saja cepat di bawa ke sini, jika tidak. Mungkin kita akan kehilangan dia."
Aku terdiam. Kenapa bisa dokter mengatakan hal itu. Apa kekhawatiran Zefan benar. Aku harus tetap menyembunyikanya, Mila tidak akan mungkin menyakitiku. Aku yakin.
"Jujur saja. Apa ada sesuatu?" tanya dokter lagi.
Akupun menceritakanya. Aku juga memperlihatkan vitamin yang aku maksud.
"Jangan diminum lagi. Ini obat keras untuk rahim."
Aku mengangguk. "Dokter. Jangan katakan sesuatu pada suami saya. Saya mohon."
"Tapi, Bu..."
"Saya mohon."
Dokter hanya mengangguk. Kami keluar, aku memberikan senyuman yang bahagia untuk Zefan.
__ADS_1
"Bagaimana?”
"Tentu saja bayi kita sehat."
Dokter hanya tersenyum. Setelah selesai menulis resep obat. Aku dan Zefan langsung keluar dari sana.
"Apa kau dan dokter menyembunyikan sesuatu?"
Aku tertawa, "Kau sangat khawatir sampai seperti ini. Ayo kita pulang. Aku ingin makan es buah."
"Baiklah. Aku akan membelikanya." Zefan mengusap kepalaku.
Aku akan menemui Mila nanti sore. Aku harus menanyakan hal ini, kenapa dia melakukan ini. Jika dokter tidak menjelaskanya, mungkin aku akan benar-benar kehilangan calon bayiku.
💝💝💝
Aku sudah siap pergi. Zefan sedang tidak di rumah karena ada hal lain yang harus dikerjakan.
"Mau kemana, Non?" tanya Bi Iyah.
Bi Iyah memang sudah kembali. Niatnya di rumah satu minggu, tapi baru tiga hari Vi Iyah sudah kembali.
"Aku mau ke tempat teman. Jika Zefan bertanya katakan saja jangan khawatir."
"Baik, Non."
Aku keluar dengan taxsi online. Jika menggunakan mobil sendiri, akan membuat Zefan semakin khawatir dan marah.
"Ke alamat ini." Aku menunjukan kartu nama Mila.
Di sana tertera alamat kantor Mila. Jadi, aku tidak perlu repot mengatakanya. Aku memandang keluar kaca mobil. Jika memang Mila ingin melakukan ini, apa alasanya.
"Terima kasih, Pak." Aku memberikan uang dan turun.
Suasana kantor terlihat sepi. Mungkin hanya ada beberapa orang di sana. Ini memang sudah waktunya pulang, namun biasanya Mila masih di sini.
"Apa Mila masih di kantor?" tanyaku pada resepsionis.
"Eh, Bu Alisha. Bu Mila nya sudah pergi sejak tadi. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Aku mengambil ponselku dan menelfonya. Akan memakan waktu lama jika aku harus mencarinya.
\="Hallo. Kamu di mana? aku sudah di kantormu."
"Aku di tempat Vidi."
"Baiklah. Tunggu saja aku di sana."\=
Tut. Aku mematikan ponsel dan langsung ke rumah Vidi. Apa Mama Sarah sudah siuman, tapi kenapa Vidi tidak mengabariku. Mungkin saja Mila hanya ingin membahas tentang pertunanganya.
💝💝💝
"Kau mencariku? ada apa?" tanya Mila. Dia membuatkan kopi untukku.
"Terima kasih kopinya. Jujur, aku hanya ingin bicara berdua dengan kamu."
"Mendadak sekali. Apa kau mau mengajakku belanja?" kata Mila dengan kedipan mata.
"Tidak. Ini hal lain."
"Maaf sekali. Aku harus ketemu dengan orang tuaku. Ini juga sudah mau pergi," kata Mila. Dia memperlihatkan jam di layar ponselnya.
Aku menghela nafas panjang. "Baiklah. Kita bisa bertemu besok."
"Ok." Mila beranjak dari duduknya. Dia menghampiri Vidi yang sedang fokus bekerja dengan laptopnya, "Aku pergi dulu. Love you."
"Love you too."
Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Vidi. Mila benar-benar berubah, dia sangat agresif bahkan di depanku. Jujur saja, aku merasa risih melihatnya.
"Apa kau punya urusan penting denganya?" tanya Vidi setelah Mila keluar dari apartemenya.
__ADS_1
"Tidak perlu dipikirkan. Sudah sampai mana persiapan pertunangan kalian?" tanyaku.
"Aku tidak tahu. Semuanya, Mila yang mengurus."
"Aku tahu. Aku akan menemui Mama Sarah dulu."
"Tunggu," Vidi menggenggam tanganku, "biarkan Kak Sarah istirahat dulu."
"Kenapa?"
"Tadi malam tiba-tiba saja kondisinya menurun. Aku juga belum menemuinya sejak pagi."
Bagaimanapun ini semua demi kesehatan Mama Sarah. Lebih baik aku pergi dari sini.
"Ya sudah. Aku harus pulang sebelum Zefan mencariku."
"Ya. Hati-hati di jalan."
Aku mengangguk. Aku keluar dan melihat bayangan Mila. Dia sudah keluar sejak tadi, kenapa dia masih di sini? apa dia memata-mataiku sekarang.
Mungkin aku sudah salah berprasangka. Mila benar-benar berubah. Apa karena ambisinya, dia melakukan hal ini. Apa ini ada hubungannya dengan Aqil.
"Kau di sini? aku sudah lelah mencarimu."
Aku mendekat dan langsung memeluk Zefan.
Kepala aku dongakkan, "Sudah aku bilang jangan khawatir."
"Kau tahu aku. Aku selalu takut terjadi apa-apa."
Aku mengangguk mengerti. Zefan hanya tidak ingin kehilangan aku dan calon anakku. Cintanya begitu tulus.
"Aku mencintaimu."
"Apa yang kau katakan?" tanya Zefan.
"Sudahlah. Ayo pulang," kataku kemudian.
"Kakatakan sekali lagi dan kita akan pulang."
"Aku. Mencintai. Kamu. Suamiku."
Zefan tertawa. Kemudian melepaskan pelukanku, dia membukakan pintu mobil dengan cintanya.
"Fan. Aku boleh tanya nggak?" tanyaku.
"Apa?"
"Kenapa kamu bisa memiliki bukti untuk menuntut Aqil?"
"Jangan pikirkan hal itu. Kamu hanya perlu melihat hasilnya saja."
"Tapi, ..."
"Sayang. Kamu percayakan sama aku?"
Aku mengangguk. Ya, aku harus percaya sepenuhnya pada suamiku. Dia pasti akan memberikan yang terbaik untuk cinta kita.
"Sayang. Besok aku harus kerja keluar kota."
Aku langsung menoleh, "Kenapa mendadak?"
"Maaf."
Entah kenapa. Aku merasakan kesal, aku tidak ingin Zefan jauh dariku.
"Hanya dua hari. Setelah itu, kita bisa bertemu lagi."
"Terserah saja."
Kami kembali diam. Zefan kini tidak memperdulikan aku. Dia pergi meninggalkan aku saat aku hamil seperti ini. Kesal sekali rasanya.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued