Bertahan

Bertahan
Bab 67 S 2


__ADS_3

"Fan, apa yang dikatakan Aqil sama kamu?" akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya hal ini.


Zefan yang sedang bermain dengan ponselnya langsung meletakan ponsel itu ke meja.


Aku menghela nafas, "Jika memang Aqil mengatakan sesuatu. Seharusnya kamu bilang padaku."


"Untuk apa aku bilang sama kamu?" Zefan terlihat marah.


"Di diamkan seorang suami tidaklah menyenangkan untuk istri. Jika aku ada salah aku minta maaf. Namun tidak seharusnya kamu mendengarkan Aqil."


Mata Zefan memerah, dia menggebrak meja yang ada di depanya.


"Kamu kira aku tidak memikirkanya. Aqil mengatakan apa yang terjadi sebenarnya padaku. Jika kamu memang mencintaiku, kenapa ada foto ini."


Zefan melemparkan beberapa lembar foto kepadaku. Aku mengambil dan melihatnya, fotoku dan Aqil.


Zefan tertawa, "Cepat jelaskan."


Aku tersenyum, "Apa kau tidak ingat jika aku dan Aqil pernah menikah? kau berubah hanya karena alasan ini?"


"Masih ada, kau tidak mau hamil anakku."


Aku membelalakan mataku. Aku tidak tahu jika alasan aku menunda hamil akan dikira seperti ini.


"Sudahlah, percuma aku menjelaskan pada pria yang mudah termakan omongan orang." Aku memilih untuk masuk ke dalam kamar.


Zefan waktu itu sudah setuju untuk menunda kehamilanku. Namun sekarang dia mengira aku tidak ingin hamil anaknya.


"Al."


Aku mengusap air mataku dan menoleh pada Mama.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mama.


"Aku baik-baik saja, Ma."


Mama duduk di sampingku, perlahan Mama meletakan tanganya di pundakku sembari berkata, "Mama yakin kamu dan Zefan bisa melaluinya."


Aku hanya menganggukan kepalaku. Mama mencoba memberikan nasihat yang baik untuk huabungan ini. Aku tahu konsekuensi dari hubungan yang sedang aku jalani. Aku janda dan Zefan adalah pria yang mapan.


💝💝💝


Tidak tahu kenapa, sejak kejadian pingsan di kantor Zefan. Aku merasa lebih sering pusing. Menstruasikupun belum datang juga.


Aku lebih suka duduk di taman belakang rumah. Karena lebih segar dari pada di dalam kamar.


"Al, minum ini." Mama memberikan gelas padaku.


"Ini apa Ma?"


"Itu minuman madu dan jeruk."


"Terima kasih." Aki meminum dengan semangat, "Jika rasa asamnya sedikit lagi pasti akan menyegarkan."


"Kau ini. Kamu sudah cek ke dokter?"


Aku meleyakan gelas itu ke meja, "Cek ke dokter. Aku kan sehat Ma."

__ADS_1


Mama tertawa kecil, "Mama hanya mengingatkan. Siapa tahu sudah ada bayi di dalam perut kamu."


"Mama bisa aja."


Benar juga. Jika aku hamil, Zefan tidak akan marah padaku lagi. Diam-diam aku tersenyum sembari mengelus perutku.


"Jangan suka melamun. Ini sudah sore, lebih baik kamu masuk."


"Baik, Ma."


Besok aku akan mengajak Zefan untuk cek ke dokter. Dia akan bahagia jika tahu aku hamil, namun jika aku masih belum hamil. Apa Zefan akan kembali seperti semula?


Bruk. Aku memegang kepalaku yang menabrak pintu kamar. Terlalu banyak fikiran membuat aku tidak fokus.


"Fan," panggilku saat aku masuk ke dalam kamar.


Lampu kamar tidak menyala, hanya sebuah lilin yang terletak di meja. Aku mencoba berjalan dengan tangan meraba dinding. Aku belum paham di mana letak sakelar lampu ini.


"Kau mau apa?"


Aku kaget sampai hampir terjatuh. Untung saja dengan cepat Zefan menangkapku. Lampu kamar tiba-tiba menyala.


"Zefan, kenapa kamu membuat kamar ini gelap?" tanyaku.


Zefan tidak menjawab dan hanya menunjuk ke.tempat tidur. Di sana ada boneka bayi dan beberapa pakaian bayi.


"Aku sudah dengar semuanya. Besok kita akan ke dokter." Zefan terlihat sangat senang.


Padahal belum pasti apa aku hamil atau tidak. Jika tidak apa yang harus aku lakukan. Zefan akan semakin marah padaku.


Zefan terdiam dari tawanya, dia menoleh padaku. Aku menundukan kepalaku, entah apa yang akan dilakukan Zefan kali ini padaku. Aku hanya berdo'a semoga Zefan tidak marah lagi.


Sebuah pelukan membuat aku mendongakkan kepalaku.


"Jika memang belum hamil. Kita bisa mengusahakanya lagi."


"Kamu tidak marah, lalu sejak kemarin kamu ..."


"Maafkan aku," Zefan mengeratkan pelukanya padaku, "Aku terlalu memikirkan apa yang dikatakan Aqil sampai aku lupa tentang tujuan hubungan ini."


Aku menitikan air mata. Aku merasa senang Zefan sudah kembali seperti semula.


"Mulai hari ini, aku tidak akan mendengarkan orang lain bicara apa tentang kita."


"Terima kasih sudah mau menerimaku."


Zefan melepaskan pelukanya padaku, "Kenapa istriku menjadi sangat cengeng. Kau tahu, saat kau menangis. Kau menjadi sangat jelek."


"Kau tahu aku jelek," kataku dengan masih ada air mata yang menetes.


Zefan menuntunku untuk duduk di tepi tempat tidur.


"Sudahlah jangan menangis lagi. Malam ini kita mau makan apa?"


Sejak tadi pagi aku hanya ingin makan bakso dengan kuah yang sangat pedas. Namun Zefan tidak akan mengijinkan aku makan terlalu pedas.


"Apa?" tanya Zefan lagi.

__ADS_1


"Makan bakso di pinggir jalan yuk.”


Zefan kaget dengan apa yang aku katakan.


"Apa kau serius."


"Aku juga tidak tahu. Aku hanya menginginkanya."


"Jangan-jangan kau benar hamil."


"Aku hanya ingin. Memangnya harus hamil dulu baru boleh makan bakso."


Zefan menggeleng, "Baiklah. Kamu bersiap-siap saja. Aku akan meminta ijin pada Mama."


"Ok." dengan semangat empat lima aku langsung mencari baju dan bersiap untuk pergi mencari tukang bakso.


💝💝💝


Setelah hampir satu jam berkeliling akhirnya kami menemukan tukang bakso yang sedang berada di samping alun-alun kota.


"Aku yang pesen. Kamu duduk saja," kata Zefan padaku.


Aku mengangguk dan duduk di sebuah bangku kosong. Suasana malam yang indah karena baru saja turun hujan.


"Al, apa kamu benar mencintaiku?" tanya Zefan yang ternyata sudah duduk di sampingku.


Aku menatap kearah langit malam, "Jika aku tidak mencintaimu. Untuk apa aku bertahan di dalam hubungan pernikahan ini," kataku.


"Apa kamu sudah melupakan Aqil?"


"Untuk apa aku mengingat hal itu, yang ada sekarang hanya hubungan aku dan kamu."


Tukang bakso datang membawa dua mangkuk, "Ini Mas, Mbak."


"Terima kasih," kata Zefan. Tukang bakso itu kembali ke gerobaknya lagi.


Ternyata Zefan masih berfikiran aku akan menghianati dia hanya karena Aqil. Aku memang belum menceritakan tentang pertemuan terakhirku dengan Mama Sarah. Aku jadi ingat jika aku belum mendapat kabar dari Mama Sarah.


Setelah selesai makan bakso. Kami memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sini. Banyak muda mudi yang tengah asyik bercanda, ada juga yang sedang bermesraan.


"Jadi, kau bertemu dengan Mama kamu?" tanya Zefan


Aku mengangguk.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


Aku menghela nafas, "Aku hanya akan bertahan sampai Aqil memilih berhenti. Aku akan menggunakan waktu ini dengan menjalani hidup yang indah."


Perlahan Zefan menggandeng tanganku. Dia memberikan senyuman yang mampu membuat aku tenang. Aku kira, aku akan kehilangan Zefanku. Sekarang aku bahagia karena dia telah kembali padaku.


"Kamu ingat janjiku? aku akan terus bersamamu. Apapun yang akan terjadi," kata Zefan.


Aku langsung memeluknya. Pelukan hangat yang beberapa hari ini hilang entah kemana. Terima kasih Tuhan, kau sudah mengirimkan suami yang baik untukku.


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2