
Jauh-jauh aku datang menemui Aqil yang sedang berlibur dengan Yesi. Awalnya aku berniat mengurungkan niatku namun aku tidak mau rasa penasaran ini membuat aku tidak tenang menjalani hidup. Apapun yang terjadi aku akan menghadapinya.
"Akhirnya kau datang juga," kata Aqil yang keluar dari kolam renang pribadinya.
Yesi juga ada di sana. Dia menggunakan bikini, sementara aku masih memakai pakaian biasa.
"Jika kamu mau berenang bersama denganku satu kali. Aku akan menjawab satu pertanyaanmu dengan jujur," kata Aqil padaku.
Aku menatapnya tajam, "Apa kau ingin mempermalukan aku?" di sana banyak orang karena Aqil sedang mengadakan pesta kecil dengan teman-temanya.
"Sudahlah sayang, dia tidak akan pernah membuka kerudungnya itu." Yesi mendekat pada Aqil dan memeluk lenganya.
Aku menutup mataku sebentar dan kembali membukanya. "Aku ke sini hanya untuk menanyakan tentang masa kecil kita. Kau ingat semuanya bukan?"
Aqil hanya tersenyum, dia mendekat padaku. Sebelumnya dia menyuruh Yesi untuk meninggalkan kami berdua.
"Ikut ke ruanganku. Kamu tidak mau bukan, jika semua orang yang ada di sini melihat tubuh kamu." bisik Aqil di telingaku.
"Kau gila," Aku mencoba mendorong Aqil. Namun sayangnya, aku kehilangan keseimbanganku dan terjatuh ke dalam kolam.
Aku tidak bisa berenang. Apa yang harus aku lakukan. Beberapa kali aku mencoba untuk memanggil Aqil namun yang aku dengar hanyalah suara tawa mereka. Aku sudah lemas karena mencoba untuk keluar. Aku pasrah jika memang ini yang akan terjadi.
💝💝💝
Aku bangun dengan kepala yang sangat pusing dan badan yang masih basah kuyup. Aku melihat Zefan berada di sampingku.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Zefan. Dia terlihat sangat cemas melihat keadaanku.
"Kenapa kau ada di sini?" tanyaku pada Zefan.
"Apa kau lupa jika aku sedang ada perjalanan bisnis. Ini bisnis yang aku bicarakan, aku dan Aqil ada kerjasama."
Aku lupa. Pernikahan kami ditunda satu minggu karena hal ini. Aku juga baru tahu jika Zefan memiliki kerjasama bisnis dengan Aqil.
"Ganti bajumu di kamarku, aku akan menunggu kamu selesai dan mengantar kamu pulang."
"Tunggu dulu." Aqil mendekat kearah kami.
Aku benar-benar tidak ingin melihat wajah yang ditunjukan Aqil saat ini.
"Apa maumu? jika memang kau tidak ingin mengatakanya aku akan cari tahu sendiri. Kamu memanglah anak pungut, kenapa saat kecil aku harus berteman dengan pria yang tidak memiliki hati sepertimu."
__ADS_1
"Kau mengingat semuanya, Lili." Wajah Aqil berubah menjadi bahagia. Dia mencoba menyentuh wajahku namun aku menepisnya.
"Dengar, aku bukan Lilimu yang bisa kamu manfaatkan. Aku Alisha, dan jangan pernah menyentuhku. Aku bukan milikmu lagi."
Aku menarik tangan Zefan pergi dari sana. Zefan mengikutiku tanpa banyak komentar, sampai pada akhirnya aku berhenti.
"Ada apa?" tanya Zefan padaku.
"Aku tidak tahu kamar kamu di mana,” kataku.
Zefan tertawa dan dia yang kini menarikku. Aku tidak tahu kenapa tapi aku merasakan Zefan selalu melindungiku.
Sampai di dalam kamar, aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak membawa baju ganti, karena semua bajuku aku tinggal di hotel lain.
"Kamu kenapa?" tanya Zefan yang melihatku kebingungan.
"Aku tidak membawa baju ganti," Aku merasa sangat malu pada Zefan.
"Aku akan membelikanya, sementara kamu memakai bajuku yang lain."
"Tapi,"
Akhirnya aku memakai baju Zefan. Mungkin Aqil akan membatalkan kerjasama ini dengan Zefan, tapi Zefan tidak memikirkan hal itu dan lebih khawatir tentang aku.
💝💝💝
Hampir satu jam akhirnya Zefan kembali. Dia terlihat sangat aneh. Aku tidak tahu kenapa, tanpa kata Zefan memberikan baju itu. Aku membuka bungkusan itu di kamar mandi. Betapa kagetnya aku saat aku tahu Zefan juga membelikan baju dalam untukku. Malunya aku.
"Bagaimana? apa kekecilan?" tanya Zefan begitu aku keluar dari kamar mandi.
Aku terpaku, apa yang ditanyakan Zefan. Apa jangan-jangan dia menanyakan tentang bra yang dia beli untukku. Memang pas untukku, tapi kenapa dia harus menanyakanya di saat seperti ini.
"Kebesaran ya?”
Aku membulatkan mataku kali ini, "Tidak, ukuranya pas. Maksudku kenapa kamu bisa berpikiran membelikan hal ini."
"Aku hanya berinisiatif saja. Kamu kan tercebur di kolam renang. Pasti basah semua."
Aku mengangguk-angguk pelan. Kami kini duduk dengan perasaan yang sangat canggung. Aku sangat malu, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ini pertama kalinya seorang pria membelikan hal semacam ini untukku.
"Kau lapar?" tanya kami bersamaan. Akhirnya kami tertawa.
__ADS_1
"Aku memang lapar," kata Zefan kemudian.
"Bagaimana kalau kita makan di lantai bawah. Aku lihat ada restoran di sana."
"Baiklah, ayo."
Kami turun menggunakan lift. Awalnya aku mengurungkan niatku karena ada Yesi dan Aqil di dalam lift, tapi Zefan menggenggam tanganku dengan erat.
"Zefan, apa kau bisa datang ke kamarku nanti," kata Aqil di tengah-tengah diam yang kami rasakan ini.
"Untuk apa?" tanya Zefan dengan wajah yang dibuat sangat serius.
"Untuk membahas kerjasama kita."
"Aku kira kamu sudah memutuskan kerja sama kita," kata Zefan. Dia semakin mengeratkan genggamanya di tanganku.
"Aku tidak memiliki alasan untuk memutuskanya. Lagi pula, urusan aku dan Lili sangatlah berbeda."
Aku tidak berkomentar apapun. Sampai akhirnya pintu lift terbuka. Aku langsung menarik Zefan dari lift, aku tidak mau membuat keributan di ruangan kecil itu.
"Kau mau makan apa?" tanya Zefan padaku.
"Aku ikut kamu saja asal bukan makanan laut. Oh ya, aku akan duduk di sana."
"Baiklah, tunggu aku di sana."
Restoran ini sangat ramai. Bahkan hampir penuh, aku memilih tempat yang lumayan memiliki pemandangan. Jadi, tidak terlalu merasakan keramaian ini.
"Silahkan di makan." Zefan membawa dua porsi nasi goreng dan dua minuman dengan satu nampan.
"Apa di sini tidak ada pelayan?" tanyaku pada Zefan. Kenapa dia membawanya sendiri ke meja.
"Aku yang akan melayanimu sayang."
"Sejak kapan kau menjadi seperti ini?"
Zefan hanya tertawa dengan tanggapanku. Kami mulai makan, hanya candaan ringan yang dibuat Zefan namun mampu membuat aku tertawa senang.
💝💝💝
to be continued
__ADS_1