Bertahan

Bertahan
Part 18


__ADS_3

Nasi goreng. Aku membuatkan nasi goreng untuk sarapan Aqil kali ini. Walaupun aku masih terluka dengan pernikahan Aqil tapi dia tetaplah suamiku.


"Kau masak apa hari ini?". Aqil langsung duduk untuk makan.


"Nasi goreng kesukaanmu". Aku menyiapkan piring dan air putih. "Dimana Mei?" aku tidak melihat Mei dimanapun.


"Dia masih tidur. Ayo makan bersama".


Aku mengangguk dan ikut makan. Tidak tahu bagaimana tapi aku merasa senang saat Aqil mengajakku makan.


"Trimakasih Al".


Aku langsung menoleh pada Aqil. Dia tersenyum padaku.


"Trimakasih untuk apa?".


"Untuk semuanya". Baru kali ini Aqil tersenyum sangat lembut padaku.


"Makan aja dulu. Nanti kamu telat ke kantor".


"Hari ini mau kemana?".


"Aku akan ke toko".


"Tidak mau ikut ke kantor?".


"Nanti aku merepotkan kamu".


"Besok acara pembukaan untuk perusahaanku. Papa sudah percaya denganku".


"Bagus dong kalau kaya gitu".


"Besok kamu ikut datang. Semua ini juga berkat kamu kan". kata Aqil. Dia memegang tanganku.


"Besok aku akan datang". Aku melepaskan pegangan tangan Aqil. "Aku duluan ya".


Aku meninggalkan Aqil sendiri. Aku takut hatiku masuk terlalu dalam. Aku takut hatiku merasakan sakit yang lebih.


💝💝💝


Seulas senyum terukir dari bibir Nia. Hari ini dia khusus datang ke toko bungaku. Katanya ada hal penting yang akan dibicarakan denganku.


"Tokomu ramai juga".


"Lumayanlah. Ayo masuk keruanganku".


Ada rasa takjub tergambar diwajah Nia.


"Aku baru tahu ruanganmu seindah ini dengan banyak bunga yang menghiasi".


"Namanya juga toko bunga. Kalau isinya sepatu kan nggak mungkin". Aku menyajikan secangkir teh untuk Nia.


"Kamu tidak ikut Aqil ke kantor?".


"Dia sudah mengajakku tapi aku menolaknya".


"Kenapa?".


"Ada alasan lain tentunya. Oh ya, kamu mau ngomong apa denganku?".


"Aku akan ikut Gama. Dia ada urusan di kota lain. Kamu tahukan, aku sudah jatuh cinta denganya".


Mendengar itu aku merasa kasihan pada Nia. Sampai sekarang Gama belum benar-benar menganggapnya ada.


"Apa kamu sudah katakan pada Aqil?".


"Sudah hampir satu minggu aku tidak bekerja untuk Aqil. Dia sudah melepaskan aku".

__ADS_1


"Kamu akan berangkat kapan?. Dan kenapa baru memberi tahuku".


"Aku akan berangkat nanti sore. Aku akan sering mengabarimu".


Kami meminum teh masing-masing. Sesekali Nia tersenyum padaku.


"Kamu harus berjuang untuk Aqil. Aku tahu Gama masih dendam padamu. Bongkar kebohongan Mei".


Aku tersenyum pahit. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Aku harus pergi. Kamu jaga diri ya". Nia memelukku dan langsung pergi.


Dia terlihat bahagia tidak seperti kemarin-kemarin. Mungkin karna dia sudah memiliki cintanya. Walau masih harus berjuang.


💝💝💝


"Aku lelah Mei. Kita makan dirumah saja ya" aku melihat Aqil yang masih setia membujuk Mei.


"Dari kemarin kamu bilang lelah. Kamu tiap harimakan sama Alisha. Kenap sama aku ada aja alasanya".


Aku yang memang sedang menyiapkan makanan merasa aneh. Bagaimana tidak, Aqil makan dirumah denganku. Aku juga tidak menuntut untuk hal itu.


"Mei. Aku benar-benar lelah setelah kerja. Ayo makan bersama dengan Alisha".


"Kalau kalian merasa terganggu, aku bisa makan dikamar" kataku. Aku menyela pembicaraan mereka. Tidak enak mendengar mereka berdebat masalah makan.


"Bagus. Sekalian aja kamu keluar dari rumah ini". Mei langsung masuk keruang makan.


Aqil menatapku. Aku hanya tersenyum dan membawa kembali piring dan gelas. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Aqil.


Setelah selesai makan aku kembali kedapur. Tidak aku sangka, banyak juga piring dan gelas kotor. Bi Ai, dia tersenyum melihatku bingung dengan barang kotor itu.


"Biar saya saja Non". Bi Ai langsung bersiap untuk mencuci semunya.


"Trimakasih ya Bi".


Tidak ada alasan lain untuk aku tetap di dapur. Aku kembali ke kamarku. Kenapa kamarku berubah menjadi gelap seperti ini. Aku keluar tidak mematikan lampu.


"Aaaaaaa". Aku berteriak cukup keras saat sebuah tangan mendekap diriku.


"Ssshhh. Tenang, ini aku".


Aqil. Aku mengenali suara itu. Kamar langsung terang begitu lampu dinyalakan.


"Kenapa kamu disini?".


"Ini juga kamarku kan?" tanya Aqil padaku.


"Seharusnya kamu dengan Mei".


"Dia sedang mengantar Kakaknya ke bandara. Pulang besok".


Benar juga. Gama kan kakaknya Mei. Kenapa aku lupa dengan Nia. Seharusnya aku menelfonya sekarang. Aku langsung mengambil ponselku dan mengetikan sebuah nama.


"Mau menelfon siapa?". Aqil langsung merebut ponselku.


"Kembalikan".


"Mau menelfon siapa. Aku kan sudah didepanmu".


"Bukan urusanmu aku menelfon siapapun. Kamu juga sudah tidak memperdulikan aku".


"Hei, kamu itu istriku. Aku masih berhak untuk dirimu".


"Aku tahu itu. Cepat kembalikan".


"Katakan dulu siapa".

__ADS_1


"Nia. Aku akan menelfonya".


Aqil melemparkan ponselku ke sofa dan dia langsung mendorongku.


"Tidak perlu menelfonya. Temani aku malam ini".


💝💝💝


"Jadi ini yang kamu maksud?". kata Mei dengan keras.


"Dia juga istri aku. Aku harus bersikap adil".


"Lupakanlah. Kalau kamu benar mencintaiku, usir dia dari rumah ini".


Aku terbangun karna suara gaduh. Aku kira ada tamu tapi ternyata Aqil dan Mei. Mereka kembali bertengkar. Aku menghela nafas. Semua ini pasti karna Aqil yang tidur dikamarku.


"Tidak mungkin. Dia istri pertamaku".


"Aku siap kok keluar dari rumah ini". Aku keluar masih dengan piyama.


"Bagus kalau kamu sadar". Mei membuang muka begitu melihatku.


"Kamu hanya istri siri. Jadi, jangan merasa puas. Karna aku lebih berhak". Aku mendekat kearah Aqil dan memeluk lenganya.


"Kamu kira aku akan pergi begitu saja kan?. Aku keluardarirumah ini jika Aqil juga pindah".


"Kamu mempermainkan aku?". Mei menunjuk dirinya sendiri.


"Apa yang kalian lakukan?". Aqil ingin menengahi aku dan Mei. Namun aku akan tetap melanjutkan apa yang aku mau.


"Aku tidak mempermainkan kamu. Kamu sendiri yang sok berkuasa".


"Usir dia untukku Aqil". Kali ini Mei benar-benar berteriak.


"Aku akan pindah ke toko bunga. Aku tidak ingin kamu bertengkar terus dengan Mei". aku berbisik pada Aqil dan langsung kembali ke kamarku.


💝💝💝


"Apa yang mbak lakukan?". pertanyaan Giel langsung terucap begitu melihat aku masuk dengan berbagai macam barang. Tidak lupa juga dengan koperku.


"Aku akan pindah kesini".


"Kok bisa mbak?". masih dengan rasa penasaranya.


"Kamu bantu aku beresin semua barang ini. Ok".


"Iya deh mbak".


Hari ini aku sengaja menutup toko bunga ini. Untuk membersihkan dan menata kembali. Untung saja toko ini ada dua lantai, jadi aku bisa tinggal dilantai dua untuk sementara waktu.


"Mbak mau saya belikan makanan?" tanya Giel.


"Tidak usah, kita pesan makanan saja. Kamu juga lelahkan?".


"Iya sih mbak".


Kamipun memesan makanan. Setelah semuanya selesai kami baru bersiap untuk makan. Giel memang gadis yang tangguh menurutku.


"Kamu bisa pulang setelah ini Giel".


"Tapi ini belum selesai".


"Kamu tenang saja".


Aku kembali sendiri setelah Giel pergi. Aku harus mandiri sekarang. Aqil tidak ingin aku pindah kesini namun aku bersikeras. Walau Aqil masih marah karna aku mengaku sebagai gadis Lili namun dia masih perhatian padaku.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2