Bertahan

Bertahan
Part 39 S 2


__ADS_3

Hari ini aku dan Mila berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Dia akan berbelanja baju sedangkan aku hanya ingin menemaninya saja. Tidak banyak memang yang aku lakukan jika di hari minggu.


"Kau mau makan dulu?" tanya Mila padaku.


"Nanti saja kalau kamu sudah dapet baju yang kamu inginkan," kataku pada Mila.


"Kita kelantai atas yuk," Mila langsung menggandeng tanganku.


Mila memang dua tahun lebih tua dariku namun dia terlihat sangat cantik. Mungkin Vidi menyukai Mila karna wajahnya dan cara bicaranya.


"Kamu sama Zefan gimana?" tanya Mila saat kami berada di ekskalator.


"Trimakasih, dia lebih percaya sama kamu dari pada aku."


"Setidaknya kalian bisa bersama lagi. Trus lamaranya gagal apa nggak?" Mila terlihat sangat ingin tahu tentang aku dan Zefan.


"Ya tetep jalan, tapi aku masih bingung mau ketemu Mama Zefan. Dia pasti kecewa bangetkan karna aku," kataku pelan.


"Santai aja. Zefan kan anak kesayanganya."


Kami sampai ditoko baju yang terlihat sangat lengkap. Hampir semua merek ternama ada di toko itu.


"Aku pilih baju dulu, kamu bisa tunggu aku di sini," kata Mila menunjuk sebuah sofa.


"Ok."


Aku duduk di sofa itu sambil sesekali bermain dengan ponselku. Ditinggal belanja kok nggak enak kaya gini ya. Aku memilih untuk berjalan-jalan di sekitar toko itu.


"Alisha, kamu sama siapa? jangan-jangan sama calon suamiku lagi," teriak Yesi di tengah keramaian.


"Siapa calon suamimu? apa dia kaya?” aku memang berniat memancing emosi Yesi. Bukan karna apa hanya karna aku sudah terluka dengan perlakuan Yesi padaku.


"Kamu pura-pura nggak kenal sama Aqil." Yesi mendekat padaku dan membuat kerumunan semakin ramai.


Aku menatap pada Yesi, "Bukanya Aqil itu mantan suamiku." Kali ini aku membuat Yesi terdiam.


"Jangan mempermalukan dirimu sendiri," bisikku ditelinga Yesi.

__ADS_1


"Alisha, aku cari kamu dari tadi." Mila mendatangiku dengan tergesa.


"Maaf, aku lagi nyari udara segar eh malah ketemu sama polusi di sini," kataku pada Mila.


Mila tertawa karna tahu siapa yang aku maksud. Yesi terlihat marah, sedangkan kerumunan sudah mulai sepi.


"Jangan kira aku tidak berani melawanmu." Aku mengatakan itu agar Yesi tahu, tidak semua orang bisa dia tindas seenaknya hanya karna terlihat lemah.


"Awas kamu Al!" teriak Yesi di belakangku dan Mila.


"Dia membuat masalah lagi?" tanya Mila padaku.


"Dia cuma mempermalukan dirinya sendiri. Kamu nggak jadi beli baju?" Aku melihat Mila tidak membawa barang apapun.


"Tidak. Aku mau pulang saja," kata Mila dengan perlahan.


Kenapa dia terlihat aneh setelah keluar dari toko itu. Aku berhenti dan menarik Mila yang hampir menabrak seseorang.


"Apa ada masalah?" kali ini aku melihat Mila yang semakin menunduk.


"Aku tahu kamu punya masalah. Katakan saja padaku."


"Aku nggak boleh beli baju sama Vidi. Katanya bajuku masih banyak yang belum terpakai."


Aku tertawa mendengar jawaban Mila. Aku kira dia punya masalah apa, tapi hanya gara-gara tidak boleh beli baju. Wajahnya langsung ditekuk.


"Lagian juga kamu beli baju banyak-banyak buat apa." Aku kembali berjalan diikuti Mila.


"Kau dan Vidi sama saja." Mila terlihat sangat marah, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Udah jangan nangis. Mau makan apa? aku yang traktir." Aku mencoba menghibur Mila.


"Tiga porsi?" tanya Mila dengan wajah lucu.


"Iya, iya." Aku langsung menyetujui perkataan Mila.


💝💝💝

__ADS_1


Aku pulang setelah seharian menemani Mila. Mungkin jika tidak ada Mila, aku akan kesepian di hari minggu ini. Aku naik ke apartemenku. Mungkin aku akan istirahat dengan lelap malam ini.


"Akhirnya kau sampai di sini. Aku sudah lama menunggumu." Aku menoleh kearah suara. Ternyata Zefan.


"Kenapa tidak mengabariku jika ingin datang?" tanyaku pada Zefan.


Aku memasukan kode untuk membuka pintu apartemenku. Zefan mengikutiku masuk.


"Kau sudah lama menunggu di luar?" tanyaku.


"Ada kali setengah jam. Aku kira kamu di rumah jika hari minggu." Zefan duduk dan langsung menonton tv.


"Maaf, aku menemani Mila jalan tadi." Aku menyuguhkan teh hijau untuk Zefan.


"Tidak ada kopi?" tanya Zefan.


"Maaf. Aku tidak punya," kataku.


"Tidak apa. Kali ini aku akan minum teh denganmu." Zefan tersenyum dan langsung meminum teh itu.


"Ada apa kau ke sini?" tanyaku pada Zefan.


Dia menatapku, "Aku merindukan dirimu."


"Aku serius, Zefan," ujarku.


"Aku juga serius."


Setelah lama kami ngobrol Zefan akhirnya pamit untuk pulang. Dia akan ke rumah Mamanya dulu untuk mengurus kesalah pahaman kemarin.


"Hati-hati di jalan," aku mengantar sampai luar apartemen.


"Kamu jaga diri di sini. Besok aku akan datang ke sini lagi." Zefan tersenyum dan melambaikan tanganya.


💝💝💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2