Bertahan

Bertahan
Part 16


__ADS_3

Rasa gelisah masih saja menggangguku. Bahkan sampai hari ini Aqil tidak bisa aku hubungi. Aku sudah mencoba bantuan Nia, tapi Nia juga belum mengatakan apapun padaku.


"Kamu sudah bangun Al?" tanya Nia. Dia membawakan sarapan ke kamarku.


"Nia. Apa sudah ada kabar dari Aqil?"


"Belum ada. Namun data yang kamu minta sudah aku dapat." Nia mengambil sebuah berkas dari tasnya.


"Terima kasih. Aku tahu Aqil sekarang dengan Mei lagi. Entah muslihat apa hingga Aqil selalu jatuh cinta denganya."


Nia hanya tersenyum padaku. "Kamu bisa sarapan dulu. Aku akan ke kantor."


"Iya. Aku juga mau ke toko. Sudah lama aku tidak kesana. Sekali lagi terima kasih."


Nia tersenyum dan meninggalkan aku di kamar sendirian. Karena semalam Nia ada di sini, aku sedikit meminta bantuannya untuk mencari tahu beberapa hal.


💝 💝 💝


Seperti biasa Giel masih senang bercerita saat aku tidak datang ke sini. Dia juga terlihat lebih cerah dari biasanya.


"Jangan diam aja dong Mbak," kata Giel kemudian.


"Maaf Giel. Aku sedang banyak urusan."


Wajah Giel terlihat sangat kecewa. "Lain kali aku akan cerita sama kamu." Aku mencoba menghibur Giel.


"Harus dong Mbak."


Aku kembali masuk keruanganku dan membuka berkas yang diberikan Nia pagi tadi. Aku tahu semua ini memiliki alasan. Aku harus mencari alasan yang kuat agar Mei mau mengaku tentang dirinya yang sebenarnya.


Aku mengetik sebuah nama diponselku. Setidaknya aku harus memastikan apa yang ada di dalam berkas ini. Berburuk sangak tidaklah baik.


"*Hallo Vidi."


"Aku tahu kau akan menelfonku." Vidi masih sama saja.


"Maaf aku baru bisa menelfonmu. Apa kita bisa bertemu sekarang?"


"Baik. Di cafe Must."


"ok*."


Aku mengambil tas dan tentunya membawa berkas itu. Aku harus tahu siapa aku dan siapa Mei pada Vidi. Aku tahu dia menyimpan rahasia. Jika tidak, bagaimana bisa Vidi menyimpan identitasnya selama ini. Dia bahkan tahu Mama dan Papaku.


"Giel. Aku keluar."


Aku menghentikan sebuah taxsi untuk mengantarku ke cafe Must. Tidak ada pilihan lain selain ini. Aku harus tahu.


"Terima kasih Pak." Aku memberikan uang dan turun. Aku melihat Vidi sudah duduk disana. Dia terlihat seperti biasanya.


"Kamu benar-benar datang? Apa suamimu tidak marah?"

__ADS_1


"Dia sedang ada urusan. Tentunya kau tau urusan apa."


"Maksudmu apa Lil."


Aku mencoba tersenyum. "Bagaimana kabar Gama dan kamu?"


"Aku dan Gama sudah lama tidak bertemu. Kami juga berpisah sejak kecelakaan orang tua kamu." Vidi menyesap kopi yang sudah di depannya.


"Benarkah?" Aku mengambil berkas yang aku bawa. "Kamu bisa baca semuanya di sini." Aku hanya ingin melihat respon seperti apa yang akan Vidi berikan.


"Kamu."


"Ya. Aku tahu, kamu yang sengaja membuat kecelakaan itu. Aku juga tahu kamu dan Gama mempunyai niat yang sama." Aku mencoba menahan tangisku.


"Kamu dapat ini dari mana? aku bisa jelasin semuanya."


"Jelasin? Apa kamu tahu kesedihan aku? Kamu memang masih muda walau kamu Pamanku tapi bukan berarti kamu bisa memiliki aku."


"Al. Aku juga nggak mengira kalau Gama akan melakukan hal yang lebih buruk, untuk balas dendam dengan kamu."


Aku tersenyum pedih. "Jangan pernah menemui aku lagi. Dan ingat, anggap kita tidak saling kenal."


Aku mengambil tasku dan langsung keluar dari cafe itu. Tidak disangka jika Vidi akan langsung mengakui semuanya. Aku juga tidak menyangka jika Gama melakukan itu karna semua penolakanku. Apa Mei juga korban semua ini. Lalu sebenarnya apa yang di maksud Vidi berpisah dengan Gama. Apa mereka juga punya masalah lain.


💝 💝 💝


"Kamu pulang?" Aku langsung menyambut Aqil seakan aku tidak tahu apapun.


Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Aqil. "Aku memang dirumah. Bukannya kamu yang tidak memberikanku kabar."


"Lihat ini dan jelaskan semuanya."


Aqil melemparkan ampelop yang cukup besar padaku. Aku membukanya perlahan. Aku dan Vidi.


"Kamu mengira aku berselingkuh?" tanyaku.


Wajah Aqil merah padam dan menatap diriku. "Menurutmu? Kamu kira aku tidak tahu semua itu."


"Dia Pamanku. Memang aku baru tahu, aku juga baru ingat semuanya. Apa kau cemburu?" tanyaku.


"Paman kok mesra gitu."


"Aku Lili yang Papa cari. Bukan Mei."


"Sekarang kamu malah mengaku yang tidak-tidak." Aqil melemparkan tasnya dan duduk disofa.


"Aku serius. Tolong percaya sama aku, aku ikhlas kamu selingkuh bahkan kamu menikahi Mei. Tapi, aku benar-benar Lili yang Papa cari."


"Sudah cukup. Aku lelah."


Aqil meninggalkan aku sendiri di ruang tamu. Aku tidak tahu harus menjelaskan semuanya dengan cara apa. Aku hanya bisa pasrah dengan semua ini. Aku kira jika aku mengatakannya, dia akan percaya. Namun, apa yang terjadi bukanlah hasil dugaanku.

__ADS_1


💝 💝 💝


Semalam Aqil tidak masuk ke kamar. Dia juga tidak mengatakan apapun setelah pertengkaran kemarin. Aku keluar kamar dan mencoba mencarinya namun tidak ada.


"Nia. Aqil kemana?" tanyaku pada Nia yang sedang menyiapkan berkas diruangan Aqil.


"Maaf. Aqil sudah berangkat pagi-pagi tadi."


Aku hanya diam dan menutup kembali pintu ruangan itu. Aku akan mencari Aqil dan mencoba menjelaskan lagi padanya. Mungkin dia tidak suka apa yang aku lakukan kemarin.


"Sebaiknya jangan menemui Aqil. Dia sangat marah padamu." Nia menepuk pundakku.


"Kamu tahu yang sebenarnya bukan? Kenapa tidak membelaku?"


"Belum saatnya. Aku pergi dulu, sarapan sudah di meja."


Nia langsung meninggalkan aku. Kini aku kembali sendiri. Bahkan, aku tidak punya pembela atau bukti yang kuat. Kini aku akan melakukanya perlahan.


💝 💝 💝


Aku masih menunggu Aqil. Walau sudah larut malam namun aku tidak ingin Aqil pulang tanpa ada yang menyambutnya.


"Aku pulang."


"Kau pu....". Aku melihat Aqil menggandeng Mei disebelahnya. Dia membawa koper yang cukup besar.


"Siapkan kamar untuk aku dan Mei." Aqil memberikan tasnya padaku.


"Kenapa harus aku?" tanyaku pada Aqil. Dia pantas marah padaku tapi kenapa dia harus membawa wanita penipu ini.


"Karna kamu istri pertamaku dan Mei istri keduaku."


"Apa?" Aku melepaskan tanganku dari pegangan pada tas Aqil.


"Tidak perlu kaget Kak. Kamu harus menerima aku menjadi adikmu sekarang." Mei mengambil tas Aqil yang berada didepanku.


Aku tersenyum walau hati ini ingin sekali berlari. "Aku akan siapkan kamarnya."


"Tidak perlu. Aku akan menyiapkan sendiri untuk suamiku."


Aqil langsung merangkul Mei dan membawanya ke kamar utama. Apa yang aku lakukan sekarang. Semuanya sudah terjadi, aku harus bertahan untuk mengungkap siapa yang bertanggung jawab untuk kecelakaan orangtuaku.


"Maafkan aku."


Nia tertunduk didekat pintu. Aku tahu dia merasa bersalah karna tidak mampu mengatakan apapun. Mungkin dia memiliki alasan lain untuk bungkam.


"Aku tidak apa-apa Nia. Aku akan kembali ke vila. Aku titip Aqil." Aku mengambil barang-barang yang ada di kamarku. Aku akan menyendiri untuk sementara waktu.


💝 💝 💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2