
Zefan memandangku tidak putus-putus rasanya. Aku bahkan sampai menutup muka karna malu.
"Kenapa kau ke sini tanpa memberi aku tahu dulu," kataku, aku masih menutup muka ku.
"Sengaja aku datang. Apa aku tidak boleh masuk?" tanya Zefan padaku.
"Kau boleh masuk, tapi jangan memandangiku terus menerus," kataku perlahan.
"Baiklah. Aku akan mengatakan sesuatu yang penting padamu." Zefan menarikku masuk ke apartemenku.
"Hal penting apa?" aku membuka tanganku saat Zefan sudah duduk dengan tenang.
"Kamu yang membuat ruangan bunga itu berubah?" tanya Zefan kemudian, tapi wajahnya terlihat marah.
"Apa aku salah? Mama kamu tidak suka itu?" mendengar hal itu jantungku langsung berpacu dengan cepat.
"Apa kau tahu kesalahan apa yang kamu perbuat?" tanya Zefan. Pertanyaan Zefan membuat aku hampir menangis.
"Maaf, aku salah. Tanpa permisi aku merubah ruangan itu," aku mengatakanya dengan air mata yang hampir tumpah.
"Kamu kenapa malah nangis kaya gini?" Zefan mengangkat daguku. Aku memang sedari tadi tertunduk.
Saking bahagianya aku, aku merubah apa yang seharusnya tidak aku sentuh. Sekarang aku baru menyesal.
"Aku takut Mama kamu marah padaku," kataku jujur pada Zefan.
"Sekarang bersiap, kitakan mau makan malam sama keluargaku." Zefan menyuruhku berganti pakaian.
"Tidak perlu, aku tidak akan datang." Aku merubah posisi dudukku menjadi membelakangi Zefan.
"Kenapa? semuanya sedang menunggu kamu," kata Zefan padaku.
"Mereka menungguku karna ingin memarahiku kan?" tanyaku pada Zefan.
"Kenapa harus memarahimu Alisha, mereka ingin bertemu denganmu." Kembali Zefan menekan kata-katanya.
"Aku salah," kali ini aku benar-bebar menumpahkan air mataku.
"Dengarkan aku." Zefan kini duduk di depanku dan memegang tanganku, "Satu-satunya kesalahan kamu adalah kamu merebut hati mama dariku," kata Zefan dengan senyuman.
"Maksudmu apa?" aku benar-benar tidak paham.
"Mama menyukaimu dan menyukai perubahan yang ada di ruangan bunga," kata Zefan.
"Lalu kenapa kamu marah." Aku langsung berhenti menangis saat Zefan mengatakanya.
"Sudah aku katakan, aku marah karna kamu merebut hati mama." Zefan tertawa cukup keras.
"Kau sengaja melakukan ini padaku?" tanyaku pada Zefan.
Tidak ada jawaban. Hanya tawa Zefan yang semakin keras. Dia berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Bodohnya aku.
"Sekarang kamu bersiap ya, kita akan berangkat setelah kamu siap." Zefan mendorongku masuk ke kamarku.
"Tunggu aku." aku langsung menutup dan mengunci kamarku. Beberapa kali aku mencari baju dan akhirnya aku menemukan baju yang cocok. Aku tidak ingin mempermalukan Zefan nantinya.
💝 💝 💝
Sampai di rumah Zefan aku menahan tangan Zefan. Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku belum siap," kataku pada Zefan.
Zefan berbalik menghadapku. Dia memegang tanganku dengan erat, "Ada aku, Ayo."
__ADS_1
Aku mengikuti Zefan masuk ke rumah itu. Aku kira itu rumah milik orang tua Zefan, namun itu rumah Zefan sendiri. Rumah orang tua Zefan masih jauh dari sini.
"Selamat malam, mama," kata Zefan pada mama yang duduk sendiri.
"Akhirnya kalian datang, mama menunggu sangat lama lho." seorang wanita yang terlihat sudah berumur, namun tetap cantik.
"Ma, ini wanita yang ingin kau temui," kata Zefan. Dia langsung memeluk mamanya itu.
"Kau Alisha?" tanya Mama Zefan.
"Iya, tante."
"Kau ternyata sangat cantik." Mama Zefan langsung memelukku. Aku membalas pelukan itu.
"Terimakasih pujianya, tante," kataku perlahan.
"Jangan panggil tante. Panggil mama saja,biar lebih akrab." Mama Zefan mengajakku untuk berkumpul dengan yang lain.
"Alisha, kita ngobrol sambil duduk aja ya."
Aku dan mama Zefan duduk sementara Zefan pergi ke kamarnya. Mama Zefan terlihat sangat ramah, aku jadi segan.
"Kamu kenal sama Zefan udah berapa lama?" tanya Mama Zefan padaku.
"Hampir tiga tahun tante, eh mama." aku meralat kata-kataku sendiri.
"Kamu benar-benar sayang kan sama Zefan?" tanya mama Zefan.
Aku bingung harus menjawab apa. Kalau bohong, itu bukanlah hal yang terbaik. Jika jujur, mama Zefan akan terluka.
"Dia malu mau jawab, ma." Zefan datang merubah suasana canggung itu.
"Kamu udah punya anak?" tanya mama Zefan membuat aku langsung diam terpaku.
"Alisha, kamu nggak apa-apa kan?" tanya mama Zefan lagi.
Aku mencona tersenyum, "Aku tidak apa-apa kok ma," kataku pelan.
"Maaf, mama kira kamu sudah punya anak dengan mantan suami kamu," kata Mama Zefan.
"Aku keguguran dan itu juga alasan kenapa aku bercerai." Aku memandang Mama Zefan dia terlihat menyesal menanyakan hal itu.
"Maafin Mama sudah menanyakan hal itu." Aku melihat kesungguhan dimata Mama Zefan.
"Tidak apa Ma, semuanya sudah menjadi masa lalu," kataku mencoba tetap menahan tangis.
"Jangan sedih-sedihan gitu, Bi Iyah sudah masak. Ayo makan," kata Zefan menyela obrolan kami.
"Ayo, Alisha," Mama mengajakku untuk keruang makan.
Aku mengangguk dan mengekori Mama Zefan. Aku tidak mengira Mama Zefan akan menerima aku yang sudah pernah menikah. Aku kira aku akan di bully atau dikucilkan.
Kami makan diselingi dengan obrolan-obrolan ringan. Aku merasa nyaman dengan keluarga ini. Aku juga baru tahu jika Papa Zefan sudah lama meninggal.
"Malam tante, maaf aku baru datang," Kami serempak menoleh keasal suara.
"Yesi, akhirnya kamu datang. Tante sudah menunggu kamu lho, kamu sendirian?," tanya Mama Zefan begitu melihat Yesi.
"Aku sama tunangan aku tante," kata Yesi dengan nada cerianya.
"Kalau begitu langsung makan aja ya, ada pacar Zefan juga lho."
Aku mengangguk pada Yesi. Bukan senyuman yang aku dapat melainkan tatapan tajam darinya. Sepertinya dia masih marah. Tidak lama, aku melihat Aqil masuk dan langsung merangkul Yesi.
__ADS_1
"Jangan mesra-mesraan di depan tante dong, tante cemburu," kata Mama Zefan.
Kenapa perasaan ini kembali saat melihat Aqil dengan Yesi. Aku menundukan kepalaku dan mengatur nafasku.
"Kamu tidak apa-apa kan?" bisik Zefan padaku.
Aku menoleh padanya dan mengangguk pelan.
"Kami sudah kenal dengan Alisha," kata Yesi yang langsung duduk berhadapan denganku.
"Kebetukan banget dong." Mama Zefan terlihat sangat bahagia mendengar hal itu.
"Dia juga mantan istri Aqil, tunanganku sekarang tante," kata Yesi lagi.
Kali ini wajah Mama Zefan berubah. Dia menatap padaku dan aku hanya menganggukan kepalaku pelan. Aku akan menerima jika mama Zefan menyuruhku pergi.
"Sekarang mereka nggak ada apa-apa kok ma," Zefan mencoba meyakinkan mamanya.
"Kata siapa, dia bahkan hampir memutuskan pertunanganku dengan Aqil," kata Yesi lagi.
"Ma," panggil Zefan pada mamanya.
Mam Zefan hanya diam dan tetap memandangiku. Aku tidak mampu untuk mengatakan sepatah katapun.
"Tenang tante, aku sudah tidak mencintainya lagi," kali ini Aqil membuka suara.
"Kenapa kalian seperti ini?" tanya mama kemudian.
Kami hanya diam. Hanya Yesi yang akan membuka suara namun dicegah oleh Aqil.
"Mama tidak memihak siapapun itu. Jika Aqil dan Alisha masih saling mencintai itu urusan mereka, hati tidak bisa dipaksakan," Mama Zefan manatapku lekat, "Tapi Mama yakin, kalian sudah punya jalan sendiri-sendiri."
"Tapi tante, apa tante nggaj takut nantinya Zefan diselingkuhi."
Aku sangat yakin jika Yesi benci padaku.
"Apa kamu yakin cinta Aqil hanya buat kamu?" tanya mama Zefan pada Yesi.
Yesi langsung terdiam karna perkataan Mama Zefan. Kini aku kembali menemukan tempat di mana aku merasa dilindungi dan dipercayai.
"Ini acara makan malam, bukan acara untuk saling tuduh karna cinta," kata mama Zefan.
Kami mulai makan kembali namun tidak ada kata yang terucap hingga kami selesai makan.
"Yesi, tante mendo'akan agar kamu dan Aqil bahagia," kata Mama Zefan saat kami berada diruang keluarga.
"Terimakasih tante," Yesi kembali tersenyum ceria.
"Ma, aku antar Alisha pulang dulu ya. Udah larut malam, kasihan kalau pulang sendiri," kata Zefan.
"Biar bareng sama aku aja," kata Aqil menanggapi perkataan Zefan.
"Tidak perlu, dia calon istriku. Aku akan mengantarkanya," kata Zefan.
"Ya sudah. Hati-hati ya, Alisha sering mampir ya." Mama Zefan memelukku dengan erat.
"Iya, Ma." aku melepaskan pelukan itu dan keluar bersama Zefan.
Kali ini aku akan memilihmu dengan hatiku, Zefan. kataku dalam hati.
💝 💝 💝
to be continued
__ADS_1