Bertahan

Bertahan
Bab 71 S 2


__ADS_3

Sinar mentari masuk ke dalam kamarku. Membuat aku terbangun dan beberapa kali mengerjapkan mata. Pagi yang cerah.


"Ternyata sudah pagi."


Aku bangun dan mengambil handuk. Mungkin aku akan merasakan lebih segar setelah mandi. Zefan masih terlelap dengan selimut yang melekat di tubuhnya.


Setelah selesai mandi. Aku melihat Zefan masih terlelap, hanya posisi tidurnya saja yang berubah. Aku mendekat pelan pada Zefan. Cup, sebuah kecupan membuat aku kaget.


"Kau sudah bangun?" tanyaku, "Aku bahkan tidak menyadarinya."


"Itu karena kamu terlalu senang menatapku."


Aku tersipu malu mendengar apa yang dikatakan Zefan. Pagi ini terasa berbeda, mungkin karena aku memiliki semangat baru dalam hidupku.


"Tunggu," Zefan memegang tanganku saat aku akan pergi dari hadapanya.


"Ada apa?" tanyaku.


"Berikan aku ciuman pagi," kata Zefan dengan nada menggoda.


"Bukankah tadi kau sudah menciumku."


"Itu aku yang menciummu. Bukan kamu."


Aku tidak mau. Aku memilih keluar dari kamar, Zefan selalu bisa membuat aku tersenyum dan semangat.


"Bi Iyah. Masak apa hari ini?" Tanyaku saat masuk ke dalam dapur.


Bi Iyah menoleh dan menunjukan sebuah cumi yang sudah di potong. Aku langsung merasa mual setelah melihat hal itu.


"Non tidak apa?" tanya Bi Iyah padaku.


Aku menggeleng sembari menutup mulutku. Mungkin bawaan bayi. Hanya karena melihat cumi aku merasa sangat tidak enak.


Setelah sedikit reda. Aku mengambil gelas untuk membuat susu. Bi Iyah terlihat segan dengan apa yang terjadi barusan.


"Bi, buatkan saja aku roti bakar dan bawakan ke kamar."


Bi Iyah meletakan pekerjaanya, "Maaf Non, saya tidak tahu jika Non tidak suka dengan cumi."


Aku memberikan senyuman agar Bi Iyah tidak terlalu takut.


"Bi, mungkin ini bawaan bayi. Saya memang nggak makan cumi, tapi saya nggak pernah seperti ini."


"Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi, Non."


Aku mengangguk, "Tidak apa, Bi."


Aku memilih untuk masuk ke ruang bunga. Banyak bunga yang sudah harus aku ganti. Aku mengambil kantung sampah dan mulai memilah. Karena pikiranku, aku sampai lupa membersihkan ruangan ini.


"Sayang, kamu di sini?" Zefan melongokkan kepalanya di pintu.


"Iya."


"Aku ada rapat penting dan harus berangkat sekarang."


Aku melihat jam dinding. Masih sangat pagi untuk pergi meeting. Namun aku hanya bisa menganggukan kepalaku saja.


"Nanti aku akan keluar menemui Mama Sarah. Apa boleh?"


"Tentu saja."


"Terima kasih."


Zefan mendekat padaku. Dia memberikan sebuah kecupan di keningku. Setelah itu, aku mengantarnya sampai depan rumah.


"Maaf," kataku saat Zefan akan naik ke mobil.

__ADS_1


Zefan menoleh dengan tatapan tanya, "Maaf untuk apa?"


"Semua yang telah aku lakukan sama kamu."


Zefan tidak jadi masuk ke dalam mobil. Dia berbalik arah padaku.


"Apa yang kamu lakukan padaku. Membuat aku bahagia, jadi jangan minta maaf."


"Baiklah."


"Sekarang hanya satu yang penting. Jaga kesehatan kamu dan calon bayi kita."


"Tentu."


Aku sangat merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan. Zefan begitu percaya padaku, tapi aku malah terus menerus membohonginya.


"Aku berangkat dulu. Lebih baik kamu masuk," kata Zefan.


"Hati-hati di jalan."


Aku masuk ke dalam rumah. Setelah aku fikir kembali, aku harus jujur pada Zefan. Dia suamiku, apapun yang aku lakukan Zefan harus tahu. Jika aku tidak jujur, mungkin aku akan terkena masalah nantinya.


"Baiklah, aku akan jujur." Aku mengatakanya dengan keras.


"Apa, Non?" tanya Bi Iyah padaku.


"Tidak, Bi."


Aku bahkan tidak sadar jika sudah berjalan sampai di dapur. Pikiranku terlalu kacau, aku harus menenangkan diriku sebentar.


💝💝💝


Mama Sarah masih terlihat lemah. Matanya masih tertutup, banyak alat yang masih terpasang di badanya. Tidak tega rasanya melihat semua ini.


Ternyata sudah siang. Aku harus ke kantor polisi, aku tidak mau membuang waktuku.


"Kenapa sangat cepat. Padahal aku masih ingin berbincang dengan kamu," kata Vidi.


Aku memilih untuk duduk sebentar, "Mau membicarakan apa?" tanyaku.


Vidi yang sedang membersihkan tanaman ikut duduk di ruang tengah bersama denganku.


"Apa kau tahu, Mila mengajakku untuk menggelar acara pertunangan."


"Bagus bukan. Kalian kan bisa saling mengenal keluarga masing-masing."


Vidi terlihat gelisah.


"Jujur. Aku belum siap dengan semua ini."


"Kalau begitu katakan saja pada Mila. Dia pasti akan mengerti."


Kali ini Vidi berdecak kesal, "Kamu tahu Mila. Dia bahkan sudah membuat undangan tanpa sepengetahuanku."


"Apa?"


Aku tidak menyangka jika Mila melakukan hal semacam ini. Mila memang keras kepala, namun baru kali ini Mila melakukanya tanpa pertimbangan.


\=*\=


Aku berdiri di depan gedung kepolisian. Kenapa hatiku malah merasa takut. Aku seperti ingin mengurungkan niatku. Namun, jika aku mengurungkan niat ini. Aku tidak tahu Aqil akan berbuat apa lagi pada kehidupanku.


"Apa kau yakin?”


Aku seperti mengenal suara itu. Ternyata Zefan ada di sini. Dia bersama dengan seorang pria yang terlihat lebih tua darinya.


Aku memilih untuk bersembunyi di balik tembok. Beberapa kali aku mencuri dengar pembicaraan Zefan. Namun hanya beberapa kalimat yang aku dengar.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan pergi. Jika sudah ada hasil, langsung kabari aku," kata Zefan pada pria itu.


"Siap, Pak."


Zefan masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Aku keluar dari tempatku bersembunyi. Pagi tadi, Zefan mengatakan akan rapat dan sekarang aku melihatnya di sini.


"Apa benar dengan Bu Alisha?”


"Benar."


Aku berjabat tangan dengan orang yang sudah aku hubungi sebelumnya. Detektif yang dulu juga membantuku. Kali ini dia akan menyelidiki tentang Aqil.


"Saya juga sudah memberikan laporan yang anda buat," kata Esa.


"Terima kasih. Aku hanya minta, kasus ini segera selesai. Aku sudah lelah."


"Baik, Bu."


"Baiklah. Aku akan langsung pergi, jangan katakan pada siapapun jika aku kemari."


"Siap."


Aku keluar dengan hati-hati. Takut jika Zefan tiba-tiba datang kembali.


"Kau di sini?"


Aku kaget setengah mati saat mendengar pertanyaan itu.


"Maaf jika aku membuat kamu kaget."


"Mila, kau di sini? sedang apa?"


Aku merasa aneh melihat Mila ada di sini. Dia terlihat biasa dengan baju berwarna abu-abu.


"Aku baru saja bertemu teman di dekat sini. Kau sendiri sedang apa?" tanya Mila.


"Aku...aku hanya ingin jalan-jalan."


"Ke sini?" Mila menunjuk ke gedung kepolisian.


Aku hanya tersenyum. Alasan yang bodoh memang. Namun hanya itu yang aku pikirkan.


"Sekarang mau kemana?" tanya Mila lagi.


"Aku mau pulang. Sebentar lagi Zefan akan pulang, dia pasti akan mencariku."


"Aku antar. Ayo."


Aku mengangguk senang. Setidaknya aku punya alasan saat Zefan menanyaiku nanti. Di dalam mobil Mila aku merasa aneh. Tidak seperti biasanya, banyak sekali baju yang berada di belakang.


"Kenapa banyak sekali baju di belakang?"


"Itu baju teman yang akan di sewa."


Aku menganggguk.


"Ini." Mila menyodorkan undangan ke hadapanku.


"Apa ini?" Aku pura-pura tidak tahu.


Mila tersenyum, "Ini undangan pertunanganku dan Vidi. Kau tahu kan, Vidi sangat mencintaiku. Dia yang menginginkan acara ini."


"Kalian pasti sangat bahagia."


Tidak ada yang tahu siapa yang benar. Yang jelas, Mila melakukan semua ini karena punya alasan sendiri. Walau aku sudah mendengar hal lain dari Vidi.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2