Bertahan

Bertahan
Part 15


__ADS_3

Aku bangun dengan tubuh yang segar namun tidak ada Aqil disampingku. Hanya sebuah catatan kecil yang tergeletak dinakas.


Maaf. aku harus berangkat pagi.


Aku melangkahkan kakiku kearah jendela. Aku bahkan tidak memiliki waktu yang tepat untuk bertanya pada Aqil. Aku juga tidak mungkin bertanya pada orang tua Aqil.


"Aku akan bertanya pada Nia. Mungkin dia tahu sesuatu."


Aku mandi dan membuat sarapan untuk diriku. Sampai aku mendengar suara mobil menderu didepan rumah. Aku sedikit berlari untuk sampai kedepan dengan cepat.


Nia. Dia kesini dengan siapa. Sepertinya bukan Aqil.


"Nona. Aku datang." Nia langsung memberikan sebuah bingkisan.


"Buat apa kau bawa bingkisan."


"Siapa lagi yang mencintaimu." Nia memberikan bingkisan itu dan langsung masuk.


"Kau sudah makan? Padahal aku berniat mengajakmu sarapan."


Memang hubunganku dengan Nia cukup dekat. Sejak kejadianku dengan Gama waktu lalu. Aku tidak menyangka jika Nia mampu bertahan dengan pria gila itu. Nia juga tahu, jika Gama hanya ingin tubuhnya. Tanpa rasa cinta.


"Gimana kalau kita minum teh. Aku juga ingin menanyakan beberapa hal untuk kamu," kataku.


"Ok. Aku siapkan tehnya."


"Aku tunggu di kamar."


Kami mengobrol di temani pemandangan hutan yang indah. Aku menanyakan hal tentang kecelakaan orang tuaku.


"Apa kamu tahu tentang kecelakaan 20 tahun lalu?" tanyaku pada Nia.


"20 tahun lalu?. Aku belum bekerja disini. Tapi, Aqil pernah menyinggung hal itu." Nia kembali meminum tehnya.


Aku menatap kedepan. Aku baru ingat kalau Nia menjadi anak buah Aqil baru beberapa tahun ini. Itu juga karena dia kekasih Gama.


"Kalau ada sesuatu. Kamu tanya langsung saja pada sopir pribadi keluarga. Dia bekerja sudah cukup lama." Saran Nia padaku.


Aku mengangguk. Bagaimana aku bisa menemui sopir pribadi keluarga. Sementara sopir itu terus berada di samping papa Adrik.


"Memangnya ada masalah apa?"


"Tidak ada. Oh ya, apa kamu tidak ikut Aqil?" tanyaku pada Nia.


"Tidak. Dia menyuruhku untuk bersama denganmu."


"Mei?" tanyaku. Tidak mungkinkan Aqil menyuruh aku dengan Nia sedangkan dia bisa bebas dengan Mei.


"Maaf. Aku juga sudah tidak tahu akan hal itu. Yang jelas, Mei tidak akan menyerah begitu saja." Nia menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya."


"Kalau begitu aku akan pulang. Kau tahu Gama bagaimanakan?" kata Nia dengan senyumanya.


"Hati-hati." Aku mengantar Nia sampai di teras.


Bagaimana Nia bisa bertemu dengan pria seperti Gama dan Aqil. Pria yang tidak punya perasaan dan suka menyiksa.


💝 💝 💝


Aku sudah lama duduk dengan Mama. Walau dia Mama mertuaku namun dia sangat baik padaku. Entah alasan apa yang membuat Mama begitu baik.


"Ma?"


"Iya sayang. Kenapa?"


"Apa Papa pernah mengalami kecelakaan?" tanyaku pada Mama.


"Kok tanyanya kaya gitu. Memangnya kenapa?"


"Aku lihat Papa terus memakai sopir pribadi. Aku kira Papa ada trauma atau semacamnya." aku memang asal bicara agar Mama tidak curiga pada hal yang aku tanyakan.


"Dulu pernah. Tapi, Papa nggak punya trauma," kata Mama. "Mungkin karna saking sibuknya."


"Benar juga Ma."


"Kamu nggak sama Aqil beneran?"


"Kamu baik banget sih. Aqil juga nggak pernah kaya gitu ke Mama." Mama mengatakan dengan senyuman.


Aku hanya tersenyum. Beberapa kali aku melihat jam namun waktu seperti sangat lamban hari ini.


"Kamu jangan berpisah dengan Aqil. Apapun yang terjadi," kata Mama kemudian.


Aku menoleh dan melihat kearah Mama. Mata Mama menerawang namun banyak sekali makna yang tersirat disana. Dia sangat berharap padaku.


Suara langkah kaki membuat aku dan Mama menoleh. Ternyata Papa dengan sopir yang senantiasa bersamanya. Aku harus punya kesempatan ini.


"Papa sudah pulang.” Mama langsung menyambut hangat kehadiran Papa.


"Maaf aku telat. Ada urusan mendadak tadi." Papa memberikan tasnya pada asistenya. "Kamu juga disini Alisha?"


"Iya Pa.”


"Kalau begitu kamu juga bisa makan malam disini dong," kata Papa padaku.


"Maaf Pa. Aku akan pulang karna ada urusan juga di toko. Apa aku boleh meminjam sopir Papa. Untuk mengantarku?"


"Boleh saja. Tumben mau diantar sopir?" tanya Papa.

__ADS_1


"Aku ingin naik mobil Papa."


Papa langsung mengatakan pada sopirnya itu. Sopir patuh baya itu menganggukan kepala.


"Ma. Pa. Aku pulang dulu. Kasihan Aqil jika aku masih disini."


Aku mencium pipi Mama dan keluar dari rumah. Tentunya diikuti oleh sopir Papa.


"Mau diantar kemana Non?" tanya sopir itu.


"Aku hanya ingin mengajak bapak makan sekarang."


Pria itu kebingungan dengan jawabanku. Aku hanya tersenyum dan masuk ke mobil. Aku menunjukan sebuah alamat tempat makan.


💝 💝 💝


"Maaf Pak. Saya lancang tapi saya harus tahu semuanya."


Pria itu hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tahu Bapak sangat setia dengan Papa Adrik. Tapi, aku juga ingin tahu tentang kecelakaan itu."


"Baik. Saya akan ceritakan tapi, Non jangan bilang pada siapapun."


Aku mengangguk dengan semangat, "Saya janji Pak."


Aku hanya mampu mendengarnya lagi dari ceripa Pak Sopir itu. Namun ceritanya sedikit berbeda. Di sana sopir itu mengatakan jika aku hilang di culik.


"Bagaimana dengan anak perempuan itu Pak?" tanyaku setelah Pak Sopir itu selesai menceritakan semuanya.


"Pak Adrik terus mencari anak perempuan itu dan sudah menemukanya. Walau Pak Adrik masih kurang yakin".


"Maksud Bapak?" tanyaku bingung. Aku anak perempuan itu tapi kenapa tidak ada namaku yang disebut oleh Pak Sopir ini.


"Anda tahu Nona Mei. Dia anak itu, dulu namanya Lili."


Mendengar itu jantungku rasanya berhenti. Aku tidak tahu harus apa. Ternyata Mei sudah merencanakanya sejak dulu. Dia juga takut semuanya terbongkar. Lalu, kenapa dia tahu tentang hal ini? apa Aqil yang merencanakannya?


"Ada apa Non?" Pak sopir itu terlihat bingung. "Muka Non langsung pucat.”


"Tidak apa Pak. Sekarang Bapak bisa kembali.”


"Lalu Non?"


"Aku akan meminta Nia menjemputku.”


Pak sopir itu langsung pergi. Aku juga menghubungi Nia secepat mungkin. Aku merasa hati dan badanku sangat lelah. Aku harus memikirkan cara agar niat Mei bisa diketahui semua orang. Tapi, jika ini sudah menyangkut Aqil. Pasti akan sangat sulit.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2