Bertahan

Bertahan
Part 29 S 2


__ADS_3

Pagi ini aku terbangun karna seseorang mengetuk pintu kamarku beberapa kali. Masih dengan wajah mengantuk aku membukakan pintu.


"Pagi". Teriak Zefan memekakan telingaku.


"Sepagi ini kau kerumahku?". tanyaku pada Zefan.


"Jika tidak sepagi ini, kau tidak akan membukakan pintu untukku". Zefan langsung masuk begitu saja.


"Hari ini aku akan pergi dan kau malah datang".


"Mau kemana?" Zefan meminum kopi. Mungkin dia membelinya di lantai dasar apartemen ini.


"Terserah aku mau kemana". Aku masuk ke kamar dan menguncinya.


Aku tahu Zefan tidak akan berbuat macam-macam padaku, hanya saja aku tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian aku keluar. Zefan tidak ada disana tapi ada suara di dapur. Aku mengintip, Zefan sedang masak kali ini. Aku baru tahu jika dia bisa masak. Mungkin baru pertama kali aku akan mencicipi masakan seorang laki-laki.


"Kau masak untukku?" aku mensejajarkan diriku dengan Zefan.


"Iya, baru kali aku masak untuk orang lain".


"Setidaknya jangan diberi racun". Aku tertawa kecil, Zefan juga ikut tertawa.


"Kamu duduk saja, masakanya sudah matang".


Aku duduk sementara Zefan menyiapkan makanan yang dia buat. Wangi dan tampilanya sangat enak.


Aku menyuapkan satu sendok nasi goreng itu. "Ini sangat enak". kataku pada Zefan.


Zefan mengusap kepalaku dan tersenyum.


"Kenapa kau tidak buka restoran saja". kataku pada Zefan.


"Aku tidak berminat". Zefan duduk disampingku. "Aku akan menjadi koki untukmu bukan orang lain".


"Ini masih pagi. Jangan bicara hal yang membuat aku malas makan".

__ADS_1


"Maaf". Zefan pergi ke ruang tamu. Dia membuka ponselnya dan kembali ke sampingku.


"Maaf, dikantor banyak urusan. Aku pergi dulu". Zefan mengatakan dengan nada cemas.


"Trimakasih makananya".


Padahal baru kali ini dia datang dan masuk ke apartemenku. Dari awal aku memang sengaja membuat alasan agar Zefa tidak pernah datang. Aku hanya belum bisa membuka hatiku. Rasa sakit dan hati yang masih terpaut padanya membuat aku menahan segala rasa yang lain.


💝 💝 💝


Beberapa kali aku menepuk pipiku. Aku bertemu Mama dan Papa di kota ini. Mereka bahkan mengajakku makan.


"Jangan melamun terus Al". kata Mama menyadarkan lamunanku.


"Oh ya, kalian ada acara apa di kota ini?". tanyaku pada Mama dan Papa.


"Untuk pernikahan bisnis". kata Papa dengan wajahnya yang datar. Bagiku Papa sangat jarang untuk tersenyum.


"Maksudnya?". aku menoleh pada Mama.


Mendengar itu aku merasakan diriku jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku tidak menyangka aku akan mendengar ini langsung dari Mama.


"Semoga acaranya lancar Ma". kataku pelan. Aku menunduk agar Mama tidak melihat wajahku kali ini.


"Bagi Mama apapun yang dilakukan Aqil tidak masalah, asal jangan dibodohi oleh cinta".


"Gimana kabar kamu, sekarang apa kamu sudah menikah?". tanya Papa.


"Aku belum memikirkan itu Pa. Masih senang sendiri". kataku dengan senyuman palsu.


"Ma, Pa maaf banget. Aku harus pergi, bos saya sudah menunggu".


"Kamu kerja dimana?". tanya Mama kemudian.


"Aku bekerja untuk tanteku Ma, di wedding organizer". kataku.


"Kalau begitu semangat ya, hati-hati di jalan". Aku memeluk Mama.

__ADS_1


"Duluan Ma". Aku mengambil tas dan ponselku lalu keluar dari restoran itu.


Mimpi apa aku semalam hingga bertemu dengan mereka. Bahkan aku harus mendengar pernihakan Aqil. Walaupun pernikahan bisnis tapi pasti ada cinta. Jika tidak mana mungkin Aqil setuju.


💝 💝 💝


Mila memandangku dan mengelilingi diriku beberapa kali. Setelah itu dia tertawa mendengar semua ceritaku.


"Alisha, mau kamu ngumpet dimanapun. Kalau memang jodoh pasti bertemu lah". kata Mila masih dengan tawanya.


"Niatku agar dapat solusi malah dapet sambel pedas dari mulutmu". kataku.


"Jalani dan hadapi. Nggak ada gunanya kamu menghindar". Mila menatapku dengan sungguh-sungguh.


"Ok, aku akan mencoba sebisaku. Jika aku sudah tidak kuat aku akan melambaikan tangan padamu". kini giliran aku yang tertawa.


"Kau dan Vidi sama saja". Mila langsung mengambik berkas dan menyodorkan padaku.


"Kamu yang menangani berkas ini sampai akhir. Bagaimanapun kamu sudah memulainya".


Aku menerima berkas itu dengan hati tidak senang. Aku kira aku hanya akan terus membuntutinya, tapi kini aku harus belajar dari nol lagi.


"Jangan cemberut gitu kali. Tambah jelek". Mila mencoba membuat aku kembali tertawa.


"Aku tidak akan tersenyum untukmu".


"Aku tahu. Aku tahu". Mila tertawa melihata aku semakin cemberut.


Aku akan melihat berkas ini dan mempelajarinya. "Aku pergi dulu tante, besok aku libur ya". aku menutup pintu ruangan Mila.


"Jangan panggil aku tante". teriak Mila.


Mila memang lebih senang aku panggil nama. Lebih akrab katanya.


💝 💝 💝


to be continued

__ADS_1


__ADS_2