
Tidak ada pilihan lain selain kembali ke apartemen. Zefan juga memutuskan untuk kembali bersama denganku. Tidak tahu kenapa, Aqil seakan-akan mencoba mengingatkan aku dengan caranya yang aneh. Beberapa kali aku melihat dia memakai baju yang tidak biasanya dia pakai.
"Kamu sudah siap?" tanya Zefan padaku.
"Sudah, bagaimana dengan pekerjaan kamymu di sini?" tanyaku pada Zefan.
"Tenang saja. Lagi pula tiga hari lagi kita akan menikah, aku tidak mau memikirkan hal yang lain dulu."
"Baiklah."
Kami berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh pihak hotel. Aku membawa barang yang bisa dijadikan satu tas namun berbeda dengan Zefan. Dia membawa satu koper dan satu tas. Entah apa yang ada didalamnya.
"Al," Aku dan Zefan menoleh keasal suara. Aqil, dia kembali menggunakan baju yang aneh menurutku.
"Ada apa?"
"Jangan pulang dulu, aku ingin memberikan ini padamu." Aqil menunjukan sebuah buku dengan sampul bergambar hati. Di sana tertulis diary Lili.
"Apa itu milikku?" tanyaku. Aku menoleh pada Zefan.
"Menurutmu? jika kau menginginkanya menginaplah satu malam lagi. Aku akan memberikanya besok pagi."
Kembali aku menoleh pada Zefan, dia membiarkan keputusan di tanganku.
"Tidak perlu, aku akan pulang dengan Zefan. Tiga hari lagi kami akan menikah, tidak lucu jika harus ditunda lagi," kataku dengan mantap.
"Kau benar-benar tidak menginginkan buku ini?" tanya Aqil lagi. Wajahnya terlihat kecewa.
"Aku memiliki Zefan. Untuk apa buku itu." Aku tersenyum kearah Zefan.
"Kalau begitu kami pergi dulu sebelum telat." Zefan menarik tanganku masuk ke dalam mobil.
Aku melihat Aqil yang masih menatap kearah mobil yang kami gunakan. Aku ingin sekali buku itu, tapi aku juga tidak mau membuat Zefan harus kembali menunggu. Dia sudah cukup lama menantikan hal ini.
"Apa kamu sangat ingin buku itu?" tanya Zefan padaku.
"Tidak. Sudah aku katakan, kamu lebih penting dari buku itu."
"Al, kamu tidak bisa bohong. Apa mau putar balik?"
Aku mencoba berkompromi denga hatiku. Aku memegang tangan Zefan, "Tidak perlu," kataku.
"Terimakasih." Zefan memberikan senyumanya.
Aku sangat ingin memulihkan ingatanku lagi tapi bagaimanapun aku juga ingin memiliki kebahagian untuk saat ini. Setidaknya Zefan tidak akan meninggalkanku saat aku terluka.
💝💝💝
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu olehku dan Zefan. Kami akan menikah hari ini, dengan balutan gaun warna putih aku duduk di samping Zefan. Kembali, aku harus di nikahkan oleh wali hakim, Vidi tidak bisa menjadi wali nikahku.
"Apa kau bahagia?" tanya Zefan saat kami duduk berdua.
"Menurutmu?"
"Menurutku kamu sangat bahagia, dari tadi kamu mengumbar senyum pada semua orang."
"Apa aku harus menangis sekarang?"
__ADS_1
Zefan mengerutkan dahinya dan menatap lucu padaku.
"Aku tidak memiliki alasan untuk menangis, aku hanya punya alasan untuk tersenyum."
Kami tidak memperhatikan sekeliling sampai sebuah suara membuat aku dan Zefan menoleh. Itu bukan suara orang tapi kaca pecah. Ya, kaca yang berada tidak jauh dariku pecah, aku melihat ada sebuah surat di sana.
"Aku akan mengambilnya." Dengan susah payah aku mengambil surat itu.
Banyak sorot mata yang tertuju padaku, aku tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus menjelaskan pada mereka, namun aku juga tidak tahu apa yang akan aku jelaskan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mama padaku.
"Tidak, Ma." Aku kembali ke tempat dudukku.
Beberapa orang langsung datang dan membersihkan kekacauan itu. Zefan melihat darah ditanganku dan langsung mengelapnya.
"Tidak apa-apa." Aku menarik tanganku dari pegangan Zefan.
"Surat apa itu?" tanya Zefan kemudian.
"Aku juga tidak tahu, aku akan membukanya." Perlahan aku membuka surat itu. Acara kami sudah kembali meriah, mungkin mereka tidak sadar jika aku mengambil surat tadi.
*Selamat.
Aku tidak datang bukan karena aku ingin. Aku hanya tidak mau membuat kamu terluka, Lili. Walaupun aku tidak datang, aku masih tetap memperhatikan kamu. Oh ya, kamu harus ingat jika dulu kita adalah teman baik*.
Walaupun surat itu tanpa nama, aku tahu siapa yang mengirimkanya. Aqil, dia tidak pernah senang jika aku bahagia.
"Kalian sedang apa?" tanya Vidi disaat kami sedang memperhatikan surat itu.
"Kau tahu, kami sedang merencanakan bulan madu," jawab Zefan asal-asalan.
"Kalian tenang saja, aku sudah membelikan tiket untuk kalian bulan madu." Mila memberikan tiket itu pada Zefan.
"Kalian harus segera memiliki anak. Mama sudah pengen punya cucu."
Aku diam seribu bahasa saat mendengar penuturan Mama. Cucu, apa harus secepat ini. Aku hanya menoleh pada Zefan, dia juga terlihat bingung menjawab perkataan Mamanya.
"Ma, apa tidak terlalu cepat membahas hal itu," kata Zefan.
"Kenapa kalian harus canggung, kalian kan sudah menikah." Kata Vidi masih dengan candaanya.
"Lalu kapan kau aka menikahiku?" peranyaan Mila langsung membuat Vidi terdiam.
"Aku harus pergi dulu, ada banyak urusan lain." Vidi bergegas dari ruangan itu diikuti Mila yang terus bertanya tentang pernikahan.
"Mama tidak melihat Yesi dan suaminya itu. Kalian tidak mengudang mereka?" tanya Mama pada kami.
"Kami sudah mengundangnya. Mungkin mereka sedang ada urusan lain, Ma."
Aku hanya tersenyum pada Mama. Mama memang dekat dengan keluarga Yesi, bahkan dulu Zefan hampir menikah dengan Yesi.
"Mama harus ke luar ada urusan. Kalian bisa istirahat dulu."
Kini kami kembali hanya berdua, tamu juga sudah sepi. Kami memang mengundang oran yang cukup dekat dengan kami.
💝💝💝
__ADS_1
Kami sudah pulang ke rumah. Banyak barang yang sudah aku bawa ke rumah Zefan. Kami akan tinggal di sini, bukan di apartemenku.
"Bi Iyah tolong bawakan tas Al ke kamar."
Dengan sigap Bi Iyah membawakan tasku ke kamar. Zefan masih biasa dengan semua candaanya. Aku merasa sangat lelah dan ingin istirahat.
"Zefan, aku ke kamar dulu. Hari ini sangat melelahkan."
"Baiklah."
Aku masuk ke kamar. "Wow, sangat indah." Banyak sekali bunga, entah siapa yang menghias tapi ini bukan kamar. Lebih tepatnya taman bunga, sangat indah.
"Ini Mama yang membuatnya."
Aku kaget karena Zefan langsung memeluk diriku dari belakang.
"Kenapa?" tanya Zefan karena melihat wajah kagetku. "Apa kau tidak suka aku memelukmu, tapi kamu kan sudah menjadi istriku."
"Jika aku melarangnyapun kamu akan tetap melakukanya," kataku.
"Kamu tahu itu."
Setelah mandi dan berganti pakaian aku menyiapkan makan malam dengan Bi Iyah. Aku tidak mau Zefan kelaparan karena punya istri yang tidak bisa memasak.
"Biar saya saja Non."
"Aku akan membantu Bi," Aku mulai menumis beberapa makanan. Bi Iyah juga banyak cerita tentang Zefan.
Sampai semua makan sudah selesai. Bi Iyah menyuruhku untuk mengajak Zefan makan, karena Zefan tidak suka jika ada yang mengganggunya saat di ruang kerja.
"Tuan Zefan kadang sampai tidak makan sampai pagi, Non." kata Bi Iyah padaku.
"Mulai saat ini, makan malam harus tetap di siapkan. Aku yang akan mengurus Zefan."
Aku berjalan menuju ruangan Zefan. Sangat sepi bahkan tidak ada suara apapun. Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai Zefan membukakan pintu.
"Ada apa!?" tanya Zefan dengan suara keras.
Aku kaget dengan apa yang dilakukan Zefan barusan. Kenapa dia berteriak padaku, apa aku melakukan kesalahan.
"Jika memang tidak mau makan, jangan berteriak." Aku meninggalkan Zefan yang masih di depan pintu.
Aku kembali masuk ke dapur, Bi Iyah masih di sana. Aku tersenyum menyembunyikan kekagetanku karena Zefan. Aku tidak dakit hati, hanya kaget saja melihat sisi Zefan yang lain.
"Kita makan berdua saja Bi, Zefan sepertinya tidak ingin diganggu."
Aku dan Bi Iyah duduk, Bi Iyah mengambilkan aku nasi dan lauknya.
"Terimakasih Bi," kataku.
Bi Iyah terlihat takut dan berdiri dari duduknya. Aku menoleh kebelakangku, Zefan di sana. Tidak tahu kenapa aku merasa sudah sangat kenyang.
"Bi, ini di makan Bi Iyah saja. Aku mengantuk."
Aku meninggalkan Zefan dan Bi Iyah. Ternyata, Zefan begitu berbeda saat dia sedang bekerja. Mungkin dia akan mengatakan alasanya padaku nanti.
Aku langsung tidur, aku mencoba melupakan perkataan Zefan yang tadi. Mungkin esok pagi akan lebih baik dari hari ini.
__ADS_1
💝💝💝
to be cintinued