
Aku mendengar suara dari alat yang berada di sampingku. Suara detak jantung, perlahan aku membuka mata. Melihat ruangan yang serba putih. Jelas sudah jika aku sedang berada di dalam rumah sakit.
"Kau sudah siuman?" tanya seorang suster dengan senyumannya yang ramah.
Sulit rasanya menggerakan tangan kananku. Aku mengangguk perlahan, ingin bertanya tapi masih sulit untuk berucap.
"Kau pasti ingin tahu ini di ruang apa?” Suster itu memegang tanganku, "Kita sekarang di ruang USG, lihat." Suster itu menunjuk kearah kananku.
Aku mengikuti arah kemana tangan itu menunjuk. Sebuah layar besar dengan gambar berwarna hitam putih.
"Itu adalah janin ibu," kata suster lagi.
Syukurlah. Aku bahagia mendengarnya, ternyata anakku masih ada. Aku tidak menyangka setelah apa yang dilakukan Aqil, anakku masih bertahan.
Setelah selesai periksa kandungan. Aku kembali di masukkan ke ruang rawatku. Di sana sudah ada Zefan yang duduk termenung.
"Sayang. Kau sudah bangun?" Zefan langsung menghampiriku. Dia memegang tanganku dengan erat. Matanya terlihat berkaca-kaca.
Aku tersenyum.
"Pak. Istri anda sudah baik-baik saja, janin yang dikandungnya juga baik. Untuk sekarang, kita akan memulihkanya saja." Suster itu memberikan hasil USG pada Zefan.
Zefan menatap gambar hitam putih itu, "Namun, Alisha pendarahan. Apa tidak ada efek lain?"
"Sampai saat ini. Masih baik-baik saja, untuk kelanjutanya. Dokter akan menjelaskan semuanya."
"Lalu. Bagaimana dengan jahitan di lenganya."
Suster itu kembali tersenyum, "Tidak ada yang bahaya. Hanya saja, untuk sementara waktu jangan sampai terkena air."
Zefan mengangguk. Kini suster itu sudah keluar, hanya tinggal aku dan suamiku. Aku ingin sekali memeluknya dan menceritakan segalanya. Namun, tetap saja tubuh ini belum bisa dikompromi.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Zefan.
"Kau pulang dari luar kota kapan?” tanyaku pelan. Aku tidak ingin Zefan terlalu khawatir dengan keadaanku.
"Kau ini. Setelah aku mendapatkan pesanmu. Aku langsung pulang."
Senyumanku mengembang di bibir. Aku menatap lekat wajah Zefan. Kekhawatiranya sudah berkurang.
"Aku ingin istirahat sebentar lagi. Apa boleh?"
Tangan Zefan mengusap kepalaku pelan, "Tentu. Istirahatlah, aku akan menjagamu di sini."
Aku kembali memejamkan mataku. Mungkin istirahat sebentar lagi akan membuat aku lebih bertenaga. Aku masih lelah saja.
💝💝💝
Zefan mengajakku berjalan-jalan dengan kursi roda. Di taman banyak juga orang yang sedang menemani pasien di rumah sakit ini. Sebenarnya aku tidak ingin berjalan-jalan, hanya saja aku melihat Zefan sering melamun saat aku bangun.
__ADS_1
"Fan. Aku ingin makan es krim rasa mangga."
Zefan memberikan senyuman padaku. Tanpa kata dia Zefan pergi ke arah penjual es krim.
"Apa hanya ini yang kamu minta?"
"Iya."
Sejak tadi aku melihat Zefan lebih banyak melamun. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi pastinya ada hal yang tidak baik.
"Fan. Ada apa? katakan saja padaku?"
Zefan memegang tanganku perlahan, "Aku merasa tidak enak saja. Seperti akan terjadi hal yang salah."
"Maksud kamu apa? bukankah kita bisa tenang sekarang."
Memang sudah seharusnya aku dan Zefan tenang. Aqil sudah diputuskan bersalah, dia akhirnya di penjara. Walau seperti mimpi, aku mendapatkan kabar itu langsung dari pengadilan.
"Iya. Kita harus tenang." Zefan mengatakanya dengan wajah yang masih tidak berubah.
Aku memeluk tubuh Zefan yang hangat. Hal ini mungkin akan membuat beberapa orang menatap kami. Namun, hanya ini yang bisa aku lakukan.
"Aku tahu kamu masih takut. Kita harus percaya pada pengadilan."
"Apa kamu yakin? tidak mungkin Aqil dengan mudahnya masuk ke penjara. Dia orang penting dan terpandang. Dia juga punya kekuasaan."
Zefan melepaskan pelukanya dariku, "Aku takut jika ini hanya tipuan saja. Kamu orang pertama yang akan dicarinya."
"Ada kamu di sampingku. Dia tidak akan berani mendekat."
"Ya. Aku harus memperketat penjagaan. Aku tidak mau kehilangan kamu dan calon anak kita."
Akhirnya aku melihat semangat di mata Zefan. Aku juga akan putus asa jika di posisinya saat ini. Aqil bukan orang biasa dan orang lain tidak akan percaya dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini.
💝💝💝
Aku merasakan sentuhan di perutku. Perlahan aku membuka mataku.
"Zefan apa yang kau lakukan?" aku bertanya karena melihat Zefan memegang sebuah pisau di tanganya.
Aku tahu pisau itu adalah pisau lipat milikku. Mungkin Zefan akan mengupaskan buah untukku kali ini.
"Aku ingin makan jeruk saja," kataku padanya.
Tidak ada jawaban. Hanya saja, dia mendekatkan wajahnya padaku. Kini semuanya terlihat jelas. Aku mendorong dengan cukup kuat. Walau sebenarnya lenganku sangat sakit.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Aqil hanya memberikan senyuman iblisnya. Dia melemparkan pisau lipat itu padaku. Aku merasa sangat aneh, kenapa Aqil bisa di sini? bukankah dia sudah di penjara.
__ADS_1
"Sekarang ini aku tidak ingin melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin menatapmu lebih lama." Aqil melangkahkan kakinya lebih dekat denganku.
"Ja....jangan mendekat."
Aqil menarik tanganku dan langsung mencium bibirku dengan paksa. Sekuat tenaga aku mencoba berontak. Aqil masih tetap menciumku hingga satu tanganya mengeluarkan sebuah suntikan.
"Maaf, Al."
Perlahan mataku berkunang-kunang. Aku hanya samar menatap Aqil. Dia mencium keningku perlahan.
"Aku akan membawamu."
Gelap.
💝💝💝
Badanku terasa sakit semua. Aku bangun dengan badan terbaring di tempat tidur. Tangan dan kakiku terikat. Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padaku.
"Bagaimana keadaan kamu?"
Aku menoleh kearah suara. Aqil, dia membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Kau sedang hamil bukan? ini makanan untukmu."
Aqil memang gila. Dalam kondisi terikat begini bagaimana aku bisa makan. Tidak tahu lagi kenapa namun, Aqil menculikku.
"Kenapa kau membawaku ke sini? bukankah kau sudah di penjara?"
Aqil tidak menjawa. Dia mengambil sendok dan akan memulai menyuapiku. Aku tetap mengatupkan mulutku. Aku akan memilih sakit dari pada harus di kasihani oleh Aqil.
"Apa kau mau melukai calon anakmu?" Aqil menatap kearah perutku yang tertutub baju dan selimut.
Aku baru ingat jika aku hamil. Mungkin aku bisa menahan lapar dan haus, tapi apa anak dalam kandunganku bisa? kita baru saja memalui masa kritis bersama.
"Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan membawanya kembali." Aqil sudah bersiap untuk pergi.
"Tunggu. Aku akan memakanya."
Aqil memberikan senyumanya padaku, "Baguslah kamu sekarang menurut."
"Tapi aku mau makan sendiri."
Aqil menggeleng, "Aku akan menyuapimu. Jika tidak mau, akan lebih baik aku melihat kamu kelaparan dan kehilangan janin kamu."
Aku hanya pasrah. Kali ini, aku tidak boleh egois, aku harus bisa keluar dari tempat ini dengan selamat. Aku akan memikirkan caranya nanti. Untuk saat ini, aku akan menjaga perasaan Aqil agar tidak menyakiti bayiku.
💝💝💝
to be continued
__ADS_1