
"Kenapa kau datang selarut ini?" tanyaku pada Mila. Dia datang ke apartemenku jam sebelas malam. Di saat aku sudah tidur dengan lelap.
"Maafkan aku, aku juga lupa jika akan menginap di sini." Mila langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di kasurku.
"Kau ini. Sudahlah, aku mau tidur." aku menutup pintu apartemenku dan kembali ke kamar. Baru saja aku akan tidur Mila mencoba membangunkan aku.
"Menurutmu cocok yang mana untukku?" tanya Mila padaku.
"Aku mengantuk Mila." Matakupun masih sedikit terlelap.
"Aku mohon. Aku ingin terlihat cantik besok," kata Mila.
"Kita bahas besok. Aku sangat lelah dan ingin tidur. Kau juga tidak mau kan matamu terlihat jelek besok?" tanyaku pada Mila.
"Benar juga. Aku harus tidur." Mila langsung meletakan ponselnya dan menarik selimutku.
Tidak habis fikir rasanya, kenapa Vidi mencintai wanita yang sedikit aneh ini. Aku kembali tidur dengan lelap.
💝💝💝
Pagi ini tubuhku terasa sangat sakit. Bagaiman tidak, Mila tidur selerti orang yang sedang olahraga. Tinju sini, tendang sana. Bagimana aku bisa tidur dengan nyenyak.
"Kenapa mukamu kusut gitu Al?" tanya Mila saat Aku baru saja membuat sarapan.
"Menurutmu kenapa?" tanyaku pada Mila.
Mila terlihat berfikir dan tersenyum padaku, "Pasti kau baru saja mimpi buruk. Betul bukan."
Mendengar itu aku hanya tersenyum dan menyiapkan piring. Walau aku sedikit marah karna cara tidur Mila tapi aku tetap menyayanginya. Selama ini dia dan Vidi yang bersama denganku. Bukan orang lain.
"Kau hanya membuat nasi goreng?" Mila beberapa kali membuka lemari dan kulkas.
"Kau mau makan apa?, aku hanya punya beberapa bahan masakan saja," kataku pada Mila.
"Akhirnya ketemu juga!" teriak Mila dari sebelah lemari.
"Kamu menemukan apa?” aku penasaran dengan temuan Mila kali ini.
"Ini." Mila menunjukan sebuah mi isntan padaku. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Katanya lagi diet kok malah makan mi instan." Aku mengambil nasi goreng dan mulai makan, sedangkan Mila sedang asik dengan kompor. Masak mi instan tentunya.
__ADS_1
"Jangan bilang Vidi jika aku makan mi instan," kata Mila saat setelah mi instanya sudah matang.
"Memangnya kenapa?” aku mencoba menggodanya.
"Kau tahu, Vidi yang menyuruhku diet. Padahal aku tidak mau." Mulut Mila terus mengatakan tentang Vidi. Padahal beberapa saat lalu Vidi sudah datang ke apartemenku.
"Kau sudah selesai dengan ucapanmu." Aku sudah memberikan isyarat agar Mila berhenti bicara tapi apa daya. Mulut Mila tidak bisa di rem.
"Kamu jangan pernah pacaran dengan pria yang seperti Vidi. Kau akan di suruh makan salad setiap hari." Mila mengatakan itu diakhir kalimatnya.
"Apa aku sejahat itu?" tanya Vidi begitu Mila selesai bicara.
"Kau, kapan kau datang?” tanya Mila dengan wajah takut.
"Aku sudah datang sepuluh menit yang lalu. Namun aku menyuruh Alisha diam," kata Vidi.
Mila langsung melotot padaku. Aku hanya diam, bagaimana sekarang. Apa yang harus aku lakukan.
"Mau makan mi?" tanya Mila kemudian.
"Aku tidak mau makan mi," jawab Vidi dengan ketus.
"Lalu kau mau makan apa?" tanya Mila ketakutan melihat wajah Vidi.
"Jangan seperti itu," Mila menggelayut manja pada Vidi sekarang.
"Kalian melakukan apa di sini?” aku mencoba membuat mereka sadar kalau ini di apartemenku.
"Kau iri ya dengan kami?" sekarang malah Mila mengejekku.
"Terserah kalian saja. Aku akan pergi sekarang." aku meletakan piringku dan masuk ke kamar.
"Kau mau kemana!" teriak Vidi dari arah dapur.
"Aku mau ketemu sama Zefan," kataku pada Vidi.
Setelah menyiapkan diri aku keluar hanya membawa tas kecil. Vidi dan Mila bahkan pergi tanpa membersihkan meja makan. Akupun kembali meletakan tasku. Aku harus membersihkan rumah baru bisa keluar.
"Kau masih di rumah. Aku kira kau di bawah, aku sudah mencarimu." Mendengar suara Zefan aku langsung menoleh.
"Maaf, aku harus membersihkan apartemenku dulu," kataku menyesal.
__ADS_1
"Tidak apa. Mama sudah menunggu di mobil, kamu masih lama?" tanya Zefan padaku.
"Ssbentar lagi." Aku meletakan piring dj tempatnya dan langsung mengikuti Zefan.
"Kau habis ada tamu?" tanya Zefan padaku saat kita menuruni tangga.
"Tadi malam Mila menginap di tempatku," kataku pada Zefan, "Apa mama kamu masih marah denganku?" tanyaku pada Zefan.
Zefan menggelengkan kepalanya, namun tidak ada kata yang terucap. Akupun ikut diam sambil terus mengikutinya.
"Hallo Alisha," Mama memelukku erat begitu aku masuk ke mobil.
"Mama, apa kabar?" aku mencoba tetap tenang walau sebenarnya sangat deg-degan dan sangat canggung.
"Mama sehat. Maafin mama waktu itu, mama emosi jadi nggak mau denger penjelasan kamu," kata Mama Zefan padaku.
"Tidak apa kok Ma. Ini mau kemana ya Ma?" tanyaku pada Mama.
"Mama mau ajak kamu ke rumah Zefan. Mama mau memetik dan merangkai bunga di ruangan bunga." Mama tersenyum padaku.
Aku menganggukkan kepalaku tanda paham. Akhirnya aku bisa masuk ketaman itu. Aku akan melihat pemandangan yang selama ini aku ingin lihat.
💝💝💝
Sampai di rumah Zefan kami mulai melakukan aktifitas kami masing-masing. Aku kira Mama akan melakukan itu denganku tapi aku malah melakukanya sendiri. Sedangkan Mama Zefan bertemu dengan teman-temanya di vila lain.
"Terimakasih sudah membantuku." Zefan ikut memetik bunga denganku.
"Aku juga senang bisa datang ke sini," kataku pada Zefan.
"Kalau begitu menikahlah denganku." Zefan memegang tanganku erat.
Aku tidak menjawab perkataan Zefan. Aku hanya tersenyum dan kembali melakukan pekerjaanku.
"Kau masih mencintai Aqil?” tanya Zefan kemudian.
"Zefan. Aku sudah katakan padamu, aku sedang mencoba melupakanya. Seharusnya kau membantuku, bukan malah mengingatkan aku padanya." Aku meletakan gunting itu ke dalam keranjang bunga.
"Maafkan aku," Zefan mencoba menahanku agar tidak pergi. "Aku akan melamarmu dengan resmi nanti."
Aku mengangguk pelan. Aku akan membukakan pintu hatiku untukmu walau perlahan, Zefan.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued