
Aku mengambil sebuah baju yang akan aku gunakan ke toko. Beberapa kali aku mendengar suara gaduh dilantai bawah namun aku tetap mencoba acuh. Setelah memoleskan make-up tipis, aku langsung turun.
"Aku minta sekarang anda keluar".
Baru kali ini aku mendengar Nia sampai berteriak. Bergegas aku turun untuk melihat apa yang terjadi. Nia yang biasanya datar kini berbeda dari biasanya. Dia terduduk dengan air mata.
"Kamu kenapa?" Aku ikut duduk didepanya.
Nia langsung mengusap air matanya. Dia menatapku. Aku tahu dia sedang terluka.
"Maaf Non," dia mencoba berdiri.
"Tidak apa jika ingin menangis. Aku akan menemanimu."
Baru kali ini aku melihat senyuman dari Nia. Senyuman yang sangat manis. Setidaknya aku akan membantunya agar lebih tenang.
"Apa saya boleh pergi ke kamar Non?" tanyanya.
"Silahkan. Aku juga harus ke toko. Jika ada apa-apa telfon aku." Aku mengulas senyum agar Nia juga tenang.
Aku tidak tahu siapa yang datang tapi yang jelas membuat Nia sangat terpukul. Aku kembali ke kamarku untuk mengambil beberapa baju yang akan aku berikan pada Giel. Baju yang lama tidak aku gunakan dan masih bagus.
Sampai di toko. Aku lihat Giel yang sedang menatap tv. Matanya bahkan sangat fokus sampai tidak sadar aku datang.
"Giel." Aku menepuk pundaknya.
Giel terlonjak kaget. Dia menoleh dengan tatapan gelisah.
"Ada apa Giel?"
"I...itu Mbak, di tv ada berita pembunuhan." Giel menunjuk ke arah tv.
Berita tentang pembunuhan seorang wanita. Mayatnya bahkan tidak utuh lagi.
"Sangat mengerikan ya, Mbak."
Aku mengangguk, "Kita harus lebih hati-hati lagi. Aku keruangan dulu, kamu bisa mulai bekerja."
Giel memang lebih sering tidur di toko. Rumahnya cukup jauh dari sini.
__ADS_1
💝 💝 💝
Aku keluar dari kamar mandi. Tidak biasanya Aqil pulang dengan cepat. Aku mengambilkan handuk dan langsung menyiapkan air untuk mandi.
"Kok pulang cepet?" tanyaku pada Aqil.
"Tidak banyak kerjaan dikantor." Aqil memberikan tasnya padaku.
Aku meletakanya ditempat tas. Bajunyapun langsung aku letakan di tempat baju. Kembali aku melihat noda darah. Bukan hanya darah, ada juga noda tanah. Sebenarnya apa yang dilakukan Aqil. Jika aku bertanya, dia akan marah.
"Mau aku siapkan makanan?" tanyaku pada Aqil.
"Kita makan diluar," kata Aqil.
Aku merasa kurang yakin dengan apa yang dikatakan Aqil barusan. Apa dia sedang sadar hingga akan membawaku keluar untuk makan. Tidak biasanya dia mengajakku dengan tulus.
"Kamu mau tidak?" tanya Aqil lagi.
"Terserah kamu," kataku dengan hati yang bahagia. Tentunya dengan senang hati aku menerimanya.
Memang sejak awal menikah hanya beberapa kali Aqil benar-benar memperhatikan aku. Bahkan aku langsung jatuh cinta lagi hanya karna perhatianya yang sedikit. Bodohnya aku.
"Siap-siap. Kita akan berangkat setelah aku mandi." Aqil menunjuk kearah tempat tidur.
"Terima kasih." Aku tersenyum pada Aqil.
Aqil hanya membalas senyumanku dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku yang begitu bersemangat langsung merapikan diriku dan memakai gaun itu. Aku akan berdandan untuknya malam ini. Semoga malam ini menjadi lebih indah.
💝 💝 💝
"Kamu mengajakku keluar bukan karena ada alasan kan?" tanyaku pada Aqil.
Aqil hanya tersenyum dan menuangkan air putih untukku. Aku tidak berfikir buruk hanya saja aku merasa aneh dengan sikapnya hari ini.
"Malam ini aku akan tidur dikamar kita," kata Aqil kemudian.
Hampir saja aku tersedak minumanku. Sejak malam pernikahan aku dan Aqil tidur terpisah memang. Kenapa tiba-tiba dia meminta tidur bersama.
"Tidak perlu kaget. Aku akan buat kamu bahagia."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Aku akan membuat keluarga yang seutuhnya denganmu," kata Aqil lagi.
"Mei?" tanyaku lagi.
Tidak mungkin secepat itu Aqil melupakan Mei. Mei juga tidak akan melepaskan Aqil semudah itu. Apa hanya sebuah permainan trik. Aku akan mengikuti semua alurnya.
"Kamu mau menemani aku berubah kan?"
Aku tersenyum dan mengangguk. Tidak ada salahnya aku mencoba. Aku juga sudah berkali-kali jatuh kehati yang sama. Walau akhirnya aku hanya mendapat harapan kosong.
"Ayo makan. Setelah itu kita pulang," kata Aqil.
"Iya."
Benar saja. Aqil memberikan waktunya untukku, dia bahkan mematikan ponselnya. Padahal dia biasanya tidak lepas dari ponsel itu.
💝 💝 💝
Seperti biasanya pagi ini aku melakukan pekerjaanku. Mengurus diriku dan sekarang aku juga menyiapkan baju Aqil. Bukan Nia lagi.
"Kamu pintar juga menata jas dan dasiku," kata Aqil yang sedang memelukku.
"Apa aku terlihat lebih baik dari Nia?" tanyaku lagi.
"Nia hanya asistenku. Kamu istriku."
"Baru kali ini aku diakui menjadi istri. Bukan hanya sebuah setatus." Kami tertawa bersama pagi ini.
"Aku akan ke toko dulu. Kamu juga harus berangkat kerja." Aku melepaskan pelukanya dan mengambil tasku.
"Tunggu."
"Apa lagi? Setelah ini semuanya diurus Nia."
"Jangan pernah bersama lelaki lain."
Aku mengangguk dan keluar dari kamar. Hari ini aku merasa sangat semangat tidak seperti biasanya. Aku bisa menang dari Mei jika memang Aqil berubah. Aku akan senang dengan apa yang diusahakan Aqil untukku. Cinta memanglah penuh dengan lika-liku. Aku hanya perlu bersabar.
__ADS_1
💝 💝 💝
to be continued