Bertahan

Bertahan
Part 22


__ADS_3

Aku sudah sampai ditempat tujuanku. Rumah itu terlihat tidak terpakai. Bahkan banyak kaca yang sudah rusak. Mana mungkin ada orang didalam sini.


"Pak. Kamu bisa kembali ke Aqil" kataku pada sopir itu.


"Saya harus menemani Non sampai selesai".


"Dengarkan aku. Jika aku dua jam belum mengabari Aqil. Kamu bisa menjemputku kesini". Aku memberikan sebuah kertas. "Sampaikan ini pada Aqil".


Mau tidak mau sopir itu akhirnya pergi. Sedangkan aku, aku menguatkan hatiku untuk masuk kerumah itu.


"Permisi". Aku membuka pintu itu sangat pelan. "Ada orang nggak ya?". Aku tidak mungkin langsung masuk.


Brak. Suara barang jatuh membuat aku semakin takun. Tapi, jika aku tidak masuk. Aku tidak akan tahu Nia di dalam atau tidak.


Aku melangkah masuk terus kedalam. Terlihat jika rumah ini sudah ditelantarkan sangat lama. Perabotan dan segala barang sudah berantakan.


"Alihsa. Tolong aku Al". Aku mendengar suara Nia namun sangat pelan. Nyaris tidak terdengar sama sekali.


Aku mencoba mencari. Setiap pintu aku buka, rasa takutku juga semakin bertambah. Sampai disebuah pintu yang sudah pecah, aku melihat bayangan seseorang dikursi. Dia terikat.


"Al. tolong aku Al".


Semua rasa takutku aku hilangkan dan aku membuka pintu itu. Benar saja Nia terikat dengan beberapa luka lebam ditubunya. Bajunyapun terlihat compang camping.


"Nia". Aku menghampiri Nia dan langsung membuka tali itu. Sangat susah karna simpulan yang diulang-ulang.


"Kamu menemukan aku?".


"Aku tahu kamu disini karna kamu mengirim surat". kataku pelan pada Nia.


"Bukan aku Al. Kamu seharusnya jangan datang".


"Bagaimana mungkin aku mengabaikan kamu". Aku menangkup wajah Nia. "Kamu temanku yang aku percaya".


"Wow. Dua wanita bodoh ini. Aku kira kamu tidak akan datang untuk Nia namun kau datang dengan tangan kosong".


Aku menoleh kearah suara. Mei. Dia sudah ada disini.


"Lari Al. Kamu harus lari dari sini".


"Tidak Nia. Jika aku pergi kau juga harus pergi". kataku pada Nia. Dia terlihat sangat lemah bahkan lebih lemah dari saat aku datang.


"Bawa Nia pergi". Mei menyuruh dua orang lain untuk membawa Mei.


"Jangan. Jangan bawa Nia". Aku berdiri dan mendekat pada Mei. "Apa yang kamu inginkan sebenarnya Mei. Jika Aqil yang kamu minta, aku tidak akan pernah memberikanya".


"Siapa bilang aku ingin Aqil. Aku belum mengatakan alasanku dan kau sudah menebaknya sendiri".


"Apa maksudmu?".


"Nia adalah boneka Kakakku. Tapi, dia malah berhianat. Kamu tahu Gama tidak mengampuni penghianat". Mei mengambil sebuah pistol dari sakunya. "Aku ingin membunuhnya diruangan lain, tapi kau malah ingin menyaksikanya disini".

__ADS_1


"Tidak Mei. Kamu harus sadar, bagaimanapun kamu seorang wanita. Hatimu seharusnya lembut".


Mei tertawa cukup keras hingga menggema diruangan itu. "Tidak. Aku tidak akan membuat Kakakku kecewa. Karna dia milikku satu-satunya". Mei mengacungkan pistolnya pada Nia. "Dan dia, harus mati sekarang".


Dor. Sebuah suara tembakan membuat aku terjatuh dan menutup telingaku. Perlahan aku menoleh kearah Nia. Dia masih duduk dan bahkan tidak terkena tembakan. Namun seorang pria sudah bersimbah darah disamping Nia.


"Nia. Kamu tidak apa-apa kan?". aku membantu Nia berdiri dan memapahnya keluar. Sepertinya Mei dan bawahanya sudah kabur dari tempat itu.


Aku tidak tahu siapa yang menolongku dengan Nia. Sopir yang aku suruh datangpun belum kunjung datang. Apa Aqil menyuruh seseorang untuk melindungiku.


💝 💝 💝


Setelah menyuapi Nia aku membiarkan dia untuk istirahat. Aku belajar dari Nia jika cinta bukan hanya tentang hati.


"Aku akan keruangan Aqil. Didepan sudah ada orang yang menjagamu".


"Trimakasih untuk semuanya Al".


Aku hanya tersenyum. "Sama-sama. Aku pergi dulu".


Aqil sedang membaca buku saat aku masuk. Dia langsung tersenyum saat melihatku.


"Kamu sudah makan?". tanyaku pada Aqil.


"Belum. Masih sangat panas". kata Aqil.


"Boleh aku suapi?".


"Ahh. Panas". Aku langsung mencoba membersihkan bajuku dari sup panas itu.


"Bagaimana bisa kamu menuduh Mei akan menembak Nia?". tanya Aqil dengab wajah yang penuh amarah.


"Aku kira kamu sudah percaya dengan apa yang aku katakan. Namun kamu tetap sama saja, bahkan kamu sendiri tidak tahu apa yang aku alami disana". aku masih tetap mengelap bajuku. Sangat panas rasanya.


"Sini, aku bantu bersihkan bajumu". Kata Aqil. Dia mencoba meraihku.


"Tidak perlu". Aku keluar dengan hati yang begitu sakit. Tetap saja Mei adalah orang pertama yang ada dihati Aqil.


"Sudah aku katakan bukan. Dia hanya mencintaiku". kata Mei saat aku baru keluar dari kamar Aqil.


"Aku tahu itu. Selamat untuk kalian".


Air mataku sudah tidak terbendung. Aku berlari dengan menahan rasa sakit dihatiku. Bagaikan badai disiang hari, aku mengira Aqil sudah membuka hatinya untukku namun apa yang aku dapat. Harapanku kembali hancur.


💝 💝 💝


Malam ini aku hanya duduk dirumah dengan bekas luka kemerahan ditangan dan bagian perutku. Aku tidak akan kerumah sakit. Nia pasti sudah diurus oleh asistenya. Aqil juga pasti dengan rasa bahagia bersama Mei.


Aku mendekap boneka beruang. Yang aku tahu, aku hanya sendiri dan tidak ada yang menemani. Hatiku juga merasa sangat kesepian.


"Kenapa kamu tidak membuka pintu untukku".

__ADS_1


Aku bangun setelah mendengar suara lelaki. Setahuku orang yang membawa kunci cadangan hanya Giel. Tidak ada orang lain. Kamar juga sudah aku biarkan gelap.


"Kamu didalam kan Al?".


Aku menyalakan lampu dan melihat Aqil. Dia datang dengan kotak P3K.


"Kenapa bisa masuk kesini?". tanyaku pada Aqil.


"Kenapa bertanya hal macam itu. Aku memberikan kejutan untukmu". Aqil mendekat kearahku.


"Berhenti. Kamu bisa pulang sekarang".


"Kamu marah?. Alisha, aku mengatakan apa yang harus kamu tahu. Mei sepanjang hari hanya merawatku". Aqil meletakan kotak P3K. "Mana mungkin dia yang menculik Nia".


"Kamu sudah selesai mengatakanya bukan. Kamu bisa pergi sekarang". Aku mendorong Aqil untuk keluar.


Dari tadi kepalaku sangat pusing. Mungkin karna terlalu lama menangis. Aqil bukanya keluar malah menarikku kepelukanya.


"Jangan marah Al. Aku mengatakan yang sebenarnya terjadi".


"Lepaskan aku. Aku hanya ingin sendiri".


"Al. Kamu jangan keras kepala. Aku hanya ingin kamu tahu jika aku tidak ingin kamu bersedih".


Kepalaku semakin berat. Bahkan pandanganku juga kabur. Suara Aqil perlahan menghilang dan pandanganku semakin hilang. Gelap.


💝 💝 💝


Aku bangun masih dengan kepala yang pusing. Aku melihat Aqil berada disampingku. Mama dan Papa juga disana.


"Aku kenapa?".


Aqil langsung memelukku dan mencium keningku. Mereka terlihat sangat bahagia.


"Ma. Kenapa aku ada disini?". tanyaku pelan.


"Kata doktet kamu kelelahan. Mulai sekarang kamu tidak usah mengerjakan hal yang berat-berat ya".


"Aku nggak pernah kerja berat kok Ma".


"Ini demi anak kita." Aqil menggenggam tanganku erat.


Aku membelalakan mata tidak percaya. "Apa aku hamil?." tanyaku pada semua orang yang ada disana.


Mama mengangguk begitupun yang lainya. Aku merasa sangat bahagia. Aqil kembali memelukku.


"Kita jaga bersama anak ini." Bisik Aqil.


Aku mengangguk pelan. Tidak pernah aku sangka jika aku akan memiliki anak didalam rahimku. Bukti sebuah keindahan cinta.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2