Bertahan

Bertahan
Part 46 S 2


__ADS_3

"Sebenarnya Aqil menyembunyikan hal yang sangat mengerikan. Kau dan Aqil bertemu bukan karna kebetulan. Tapi, ..."


"Tapi apa Mei?" Mei menggantung kalimatnya.


"Tapi, ..."


"Tapi karna aku sangat mencintaimu."


Aku dan Mei langsung menoleh pada suara itu. Aqil?, kenapa dia bisa ada di sini. Aqil menghamiriku dan menarik tanganku dengan kasar.


"Aqil lepaskan aku, lepaskan Aqil." aku berteriak agar Aqil mau melepaskan tanganku.


"Kamu tidak pantas di sini, kamu ikut aku."


Mei menatapku dengan tatapan yang aku tidak mengerti. Aku terus berontak tapi percuma, Aqil memasukan aku ke sebuah ruangan. Aku tidak tahu itu ruangan apa, yang jelas banyak foto dan buku-buku.


Aku melihat fotoku dan foto orang tuaku. Ada banyak bahkan sangat banyak. Aku tidak tahu kenapa aku merasa jika aku kembali ke masalalu. Banyak juga koran yang mengedarkan berita tentang orang tuaku. Sampai aku menemukan sebuah koran. Di sana tertulis jika orang tuaku mati di bunuh, sementara aku hilang.


"Apa kau sudah selesai melihat-lihat?" tanya Aqil.


Aku mundur beberapa langkah, sampai aku menabrak tembok. Aqil tersenyum padaku.


"Kau tahu kenapa aku mencintaimu? aku mencintaimu karna kamu hampir merubah jalan hidupku. Tapi, aku sekarang benci dengan dirimu yang ingin tahu tentang masa lalumu. Lili."


"Apa yang kamu katakan. Aku ingin pergi dari sini."


Aqil mengelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin kamu pergi. Kamu tahu Paman Tejo? dia sudah meninggal karna ingin tahu tentang aku. Mei, juga akan mengalami hal yang sama."


Dengan hati-hati aku mengirimkan pesan pada Zefan. Aku tidak tahu dia akan datang atau tidak, setidaknya aku sudah mencoba menghubunginya.


"Kenapa kau tahu semua tentang aku dan orang tuaku?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Percuma saja aku memberi tahumu, kamu tidak akan pernah mengerti," kata Aqil.


"Lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini." Aku mencoba agar Aqil melepaskan aku.


"Tetaplah tinggal di sini." Aqil langsung pergi dari ruangan itu.


Aku ditinggalkan di dalam ruangan itu. Di sana aku memfoto beberapa foto dan koran. Aku langsung mengirimkanya pada detektif yang membantuku untuk menyelidikinya. Aku juga mengirimkan pesan pada Zefan jika aku di kurung di tempat Aqil.


Aku mencoba membuka pintu tapi tetap tidak terbuka. Sekarang aku hanya mampu memecahkan kaca jendela. Mungkin aku akan keluar dari sana.


💝💝💝


Dengan susah payah akhirnya aku bisa keluar dari ruangan itu. Aku meminta pelayan yang dulu melayaniku, aku memintanya untuk membuka pintu ruangan itu.


"Terimakasih. Apa kau bisa sampaikan surat ini pada Mei? dia wanita yang dikurung di bawah tanah," kataku pada pelayan itu.


"Tapi, aku takut jika Tuan Aqil tahu."


"Baiklah," jawab pelayan itu.


"Aku pergi dulu." Setelah memberikan surat untuk Mei aku langsung keluar dari rumah Aqil.


Ternyata benar, Zefan datang dia sedang menungguku tidak jauh dari rumah Aqil. Aku langsung memeluknya.


"Kau bisa keluar?" tanya Zefan padaku.


"Iya, maaf kau jadi ke sini karna aku." Aku melepaskan pelukan itu.


"Kamu tidak apa-apa kan? aku sudah di sini sejak kamu masuk ke rumah Aqil," jawab Zefan.


"Aku mengikutiku sampai di sini? Mama bagaimana?" kenapa Zefan begitu teledor meninggalkan Mama.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, sekarang kita kembali ke hotel."


Kami masuk ke dalam mobil dan kembali ke hotel. Aku tidak menyangka Zefan akan mengikutiku. Jika tidak ada dia di sini, aku pasti sudah kembali tertangkap oleh Aqil.


💝💝💝


Aku dan Zefan sedang menunggu detektif yang aku sewa. Dia sudah memberikan pesan jika dia menemukan sesuatu yang mengejutkan.


"Maaf menunggu lama," kata Detektif itu.


"Tidak apa," jawabku.


"Aku hanya ingin memberitahumu, Aqil selalu mengikutimu. Aku tidak tahu kenapa, mungkin dia ada dendam dengan kamu." Detektif itu mengatakan dengan tenang.


"Dendam? dendam apa?" aku merasa aneh dengan kata dendam.


"Kau dan Aqil adalah teman masa kecil. Walau umur kalian terpaut sangat jauh, aku tahu ini gila tapi ini yang terjadi. Coba ingat-ingat dulu waktu kamu kecil. Mungkin kamu akan tahu jawabanya."


Aku menggelengkan kepala, "Bagaimana aku bisa ingat semua itu."


"Kau ingat paket yang dikirim Mei tanpa nama. Mungkin kau bisa menggunakan barang-barang itu," kata detektif itu.


"Aku akan membantumu Al, yang penting kamu harus yakin," kata Zefan dia menggenggam tanganku dengan erat.


"Sudah saatnya aku pergi. Bayaranya berikan saja pada kasir cafe ini." Detektif itu langsung pergi.


"Bagaimana aku bisa ingat Zefan. Aku tidak ingat masa kecilku." Aku hampir menangis.


"Tenang, kita coba tanyakan pada Vidi nanti." Zefan terus menenangkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku juga harus mengeluarkan Mei dari sana.


💝💝💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2