
Malam yang sangat panjang. Bahagia rasanya bisa bertemu dengan Mama Febri dan Papa Adrik. Meskipun aku sudah bukan istri dari Aqil, tapi mereka tetaplah orang tuaku.
"Kamu sekarang terlihat lebih bahagia," kata Mama Febri padaku.
"Mama bisa saja."
Aku menyuguhkan teh untuk Mama. Kami sedang duduk di ruang bunga. Sementara Papa Adrik dan Zefan sedang membahas beberapa hal lain. Tentunya tidak ingin diganggu oleh para perempuan.
"Sudah lama aku tidak mendengar kabar dari Mama. Apa Mama baik-baik saja?"
Mama Febri mengangguk, "Sebenarnya. Kami melarikan diri dari Aqil. Kami tahu jika Aqil adalah psikopat."
"Aku tahu, Aqil tidak akan menerimanya begitu saja."
"Ya," ucap Mama Febri sembari mengangguk.
"Jujur, Mama senang ketika mendengar kamu sudah berpisah dengan Aqil. Kamu anak yang baik, bahkan terlalu baik untuk Aqil."
Aku hanya mengulas senyum saja. Pembicaraan kami semakin dalam saja. Mama Febri juga berniat untuk pindah ke daerah sini.
"Mama sekarang merasa lebih tenang. Aqil tidak akan mengganggu kita lagi."
Ya, mungkin saat kini kami bisa lebih tenang. Namun, kami tidak akan pernah tahu hasil akhir sidang ini. Aku dan Zefan harus mengumpulkan data sebanyak mungkin.
"Feb. Ayo pulang, ini sudah malam."
Papa Adrik membuka pintu dan langsung mengajak Mama Febri pulang.
"Kenapa buru-buru, Pa?" tanyaku.
"Ini sudah malam. Lagi pula, kami besok harus mengurus pindahan."
Zefan datang dan langsung memeluk diriku, "Biarkan Mama dan Papa pulang. Nanti kita bisa mampir ke sana."
Aku setuju saja.
"Kalau begitu. Kita pulang dulu."
Zefan menarikku untuk mengantar Mama dan Papa pulang.
"Kami pergi dulu, selamat malam."
"Malam," ucapku dan Zefan bersamaan.
Setelah mobil Mama dan Papa pergi. Dengan keras Zefan menarikku masuk ke rumah.
"Ada apa?"
Bukanya menjawab pertanyaanku. Zefan malah mendekatkan dirinya, dia perlahan memelukku.
"Sudah lama kita tidak melakukanya," bisik Zefan membuat pipiku langsung memerah.
Aku sedikit mendorong Zefan, "Jangan di sini."
"Memangnya kenapa?" Zefan mengatakanya dengan mata jahil.
"Non," Bi Iyah keluar dan melihat kita, "eh, maaf."
Aku langsung mendorong Zefan menjauh dariku. Dengan langkah cepat aku mendekat pada Bi Iyah.
"Ada apa, Bi?"
Bi Iyah menyodorkan obat dan air putih. Wajahnya tertunduk, mungkin karena melihat aku dan Zefan tadi.
"Terima kasih, Bi."
__ADS_1
"Saya ke kamar dulu ya, Non."
"Iya, Bi."
Melihat Bi Iyah berjalan dengan cepat Zefan langsung tertawa. Aku menyenggolnya dengan keras.
"Kamu sih, aneh-aneh aja."
Zefan mengambil obat di tanganku. Dia membuka obat itu dan kembali meletakan di tanganku.
"Minum obatnya. Aku tunggu di kamar," kata Zefan dengan kerlingan mata.
Aku tersenyum, "Aku masih ingin menonton tv. Kamu bisa istirahat dulu."
Terlihat sekali jika Zefan kecewa dengan jawabanku. Bagaimanapun, aku masih takut. Baru saja aku kehilangan janinku.
Zefan mendekat, "Tidak apa. Kamu bisa nontin tv," cup. Sebuah kecupan mendarat di pipiku.
Zefan memang selalu mengerti. Aku menyalakan tv, tayangan berita tentang Aqil. Setelah hal ini, mungkin akan banyak yang melapor tentang kehilangan anggota keluarganya. Mereka akan menyangka jika orang yang hilang sudah di bunuh Aqil. Sebagai pelampiasan amarah.
💝💝💝
Bi Iyah terlihat sedang asik membuat makan siang. Aku yang sudah berjanji akan ke kantor Zefan sudah siap tentunya.
"Bi, aku bantuin ya."
Bi Iyah masih saja menundukan kepala karena kejadian tadi malam.
"Bi, jangan ingat hal yang sudah lewat. Bi Iyah, biasa saja. Maaf," kataku kemudian.
"Saya yang salah, Non. Maaf, ya."
"Kok jadi maaf-maafan kaya gini. Bantu aku siapin bekal aja ya, Bi. Aku mau ke kantor Zefan."
Bi Iyah membantuku menyiapkan rantang makan. Aku akan makan di kantor dengan Zefan. Dia pasti akan senang.
"Sudah siap kan, Bi?"
"Ini , Non."
Aku menerima rantang makan itu dan keluar. Benar saja, taxsi yang aku pesan. Hari ini, aku sangat bersemangat untuk belajar menjadi istri yang sesungguhnya. Kemarin-kemarin, aku tidak fokus pada suamiku.
Setelah setengah jam, akhirnya sampai juga di tempat. Kantor Zefan terlihat banyak sekali perubahan. Tidak seperti aku pertama kali datang.
"Aku menunggu kamu," kata seseorang begitu aku turun dari dalam taxsi.
Aku menoleh. Yesi, dia berdiri di seberang jalan. Mata kami bertemu, dia terlihat kusut. Matanya juga dikelilingi lingkaran hitam.
"Kamu di sini? ada apa? apa sedang ada urusan dengan suamiku?" tanyaku beruntun.
"Kamu masih tetap bersemangat." Yesi tersenyum, namun senyumanya menyiratkan hal lain.
"Apa maumu?" akhirnya aku tetap saja benci pada Yesi.
Yesi memberikan sebuah alamat padaku, "Kita akan bertemu di cafe ini jam tiga."
Tanpa pikir panjang aku langsung menyobek kertas itu. Aku menatap tajam pada Yesi.
"Aku tidak ingin menemui siapapun. Aku sudah bahagia dengan suamiku. Kamu paham bukan?"
Aku berjalan melewati Yesi. Namun, tanganku di pegangnya dengan erat.
"Cabut laporan kalian untuk Aqil."
Aku mendengar suara isak tangis Yesi. Tanpa menoleh, aku melepaskan pegangan tanganya.
__ADS_1
"Kamu tahu bukan, Aqil melakukan hal di luar batas. Bukan hanya aku yang terluka, banyak orang lain juga yang terluka."
Masih dengan isak tangis, "Aku hamil anak Aqil. Jangan biarkan aku menderita."
Aku tersenyum kecut. Dengan sekuat hati, aku berbalik. Yesi menatapku dengan air mata yang terus menetes.
"Yesi. Aku minta maaf sebelumnya, aku tidak akan mencabut tuntutan ini." Aku menepuk pelan pundak Yesi, "Mungkin kamu masih memiliki anak itu. Lain dengan aku dan wanita lain, anak mereka diambil paksa oleh Aqil."
"Apa kau mau aku merasakan hal yang sama dengan kamu?" tanya Yesi.
Aku membuang muka. Yesi masih saja sama, keras kepala.
"Yesi. Sudah cukup, lebih baik kamu jaga anak itu. Untuk permintaan kamu, kita tidak akan melakukanya."
"Kenapa?"
"Karena ini yang terbaik."
"Dasar kau ******." Teriak Yesi padaku.
Plak. Tanpa sadar aku menampar Yesi. Banyak karyawan yang memandang kearahku. Mereka mungkin mengira jika aku sangat jahat. Bukanya aku jahat, aku hanya tidak suka di hina.
"Jangan menemuiku lagi." Setelah mengatakanya. Aku langsung masuk ke kantor Zefan.
Aku tahu, Yesi mengatakanya karena amarah. Dia terluka karena suaminya aku tuntut. Tapi, aku juga tidak punya pilihan lain selain ini.
💝💝💝
Ruangan Zefan terlihat sangat kosong. Dia juga sedang memandang keluar kantor dari jendela ruanganya. Perlahan aku meletakan rantang makanan di meja Zefan.
"Aku datang," kataku yang langsung memeluk Zefan dari belakang.
Tidak aku sangka jika dia sedang menerima telfon. Setelah mendengar suaraku, Zefan langsung mematikan telfon itu dan meletakannya di saku.
"Kenapa mendadak?" tanya Zefan.
Kami sudah berhadapan.
"Kan kamu sendiri yang meminta aku datang. Lagi pula, ini sudah waktunya makan siang."
Zefan memegangi perutnya, "Benar juga. Aku sudah sangat lapar."
Akupun menyiapkan makanan itu di meja. Zefan langsung duduk setelah mencuci tanganya.
"Siapa yang menelfon?"
Aku memberikan piring berisi nasi dan lauk.
"Pengacaraku."
"Bagaimana?"
Zefan menggeleng, "Kita harus mencari beberapa saksi. Seperti wanita yang diambil janinya waktu itu."
Teringat kejadian itu membuat bulu kudukku berdiri.
"Kita pasti akan menemukan wanita itu."
Zefan mengangguk.
"Al. Selama Aqil belum jelas setatusnya, kamu hati-hati ya. Biarkan anak buahku yang mengurus semuanya."
"Aku tahu," aku memberikan sayur pada piring Zefan, "makan. Katanya lapar."
Zefan terlihat lelah. Mengurus kantor, menjagaku ditambah lagi, karena adanya kasus ini. Aku tidak bisa melakukan apapun selain mendukunya dan memberikan selamat.
__ADS_1
💝💝💝
to be continued