
Semua yang Aqil katakan hanya omong saja. Aku kembali mempercayainya dia. Kini dia tidak fokus dengan Mei dia lebih fokus pada Gama.
"Apa yang kamu lamunkan?". tanya Aqil.
"Perceraian kita".
"Apa yang kamu katakan?".
Setelah selesai mengemasi semua barangku. Aku menelfon Giel untuk cepat menjemputku. Kali ini aku akan benar-benar pergi dari Aqil. Aku melakukan semua ini karna aku tahu Aqil tidak akan pernah menepati janjinya padaku. Dia akan terus terjebak dengan cinta Mei.
"Kau mau kemana dengan semua barangmu". Aqil memelukku dari belakang. "Apa kau tidak bercanda dengan perkataanmu?".
"Pergi darimu dan semua janjimu". Aku melepaskan pelukan Aqil dan membawa koperku.
"Aku tahu kamu masih marah bahkan kecewa dengan aku". Aqil menarik tanganku.
"Jangan pernah membuat janji yang tidak akan pernah kau tepati".
"Aku sudah benar-benar jatuh hati padamu, sekarang kau pergi begitu saja". kata Aqil.
"Selama ini apa kau sadar dengan hancurnya harapanku". kataku dengan hati yang bergejolak. Aku tidak ingin kembali terlena karna cinta.
"Aku akan membiarkan kamu pergi kali ini tapi tidak untuk selamanya. Aku akan memberikan bukti bukan sebuah janji" Aqil mendekat dan memeluk pelan diriku. "Aku akan kembali padamu dan memulainya lagi dari awal".
"Aku akan menunggumu". Aku melepaskan pelukan itu dan turun.
Aku sudah mendengar suara mobil Giel. Aku akan menempati apartemen sederhana dan Aqil tidak akan menemuiku. Lembaran baru sudah menungguku. Aku akan memulainya dengan harapan yang baru.
💝 💝 💝
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini". kata Mama padaku.
"Maaf, tapi aku sudah tidak ingin dengan Aqil Ma. Kau tahu aku lelah seperti ini". aku mengatakan dengan sangat pelan.
"Kau bahkan tidak mengatakan pada kami dulu". Papa duduk disebelah Mama.
"Jika aku mengatakanya dulu, kalian akan mencegahku". Aku menggenggam tangan Mama. "Walaupun aku dan Aqil sudah tidak bersama. Aku tetap anak kalian".
"Maafkan kami karna tidak membantumu". Mama memelukku dengan air mata yang mengalir.
"Semuanya sudah terjadi". Papa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku pamit Ma". aku melepaskan pelukan Mama.
"Hati-hati sayang. Jangan lupa mampir jika kau lewat". kata Mama.
"Tentu Ma".
Aku keluar dengan air mata yang aku tahan. Berat melakukan hal ini karna aku sudah terlanjur mencintai Aqil dan keluarganya.
💝 💝 💝
Aku menoleh tepat saat Aqil akan memanggilku. Diwajahnya terlihat kekecewaan. Aku tidak tahu karna apa itu.
"Ada apa lagi?". tanyaku pada Aqil.
"Kamu melupakan ini". Aqil memberikan sebuah kalung. "Bolehkah aku memakaikanya padamu?".
"Tentu saja".
Aqil memakaikanya dia tersenyum kecil dan membisikan sesuatu padaku. "Ingat perpisahan ini bukan untuk selamanya".
Aku hanya diam. Aqil tidak akan tahu apa maksudku dari awal meminta bercerai darinya. Semoga setelah ini kita tidak akan bertemu lagi.
💝 💝 💝
"Untuk apa aku menyesal. Karnanya aku kehilangan segalanya". aku meminum kopi yang baru saja aku pesan.
"Aku minta maaf untuk kecelakaan orang tuamu. Kamu pasti sangat kecewa bukan"
Aku mengangguk pelan. "Gama juga sudah bangkrut. Kau sekarang merasa sangat bersalah". Aku menatap kejalanan. "Aku sudah melepaskan orang tuaku. Aku tahu mereka bahagia disana".
"Bagaimana rencanamu setelah ini?". tanya Vidi padaku.
"Carikan aku apartemen dikota lain. Aku sudah melihat kehancuran Mei dan Gama secara bersamaan".
"Apa kau benar tidak akan kembali?".
"Sudah aku katakan dan aku putuskan, aku akan memulainya kembali. Jika memang aku dan Aqil berjodoh, aku akan bertemu denganya lagi".
Aku bahagia ketika Aqil menepati semua janjinya. Dia menjatuhkan Gama dan membuat Mei tidak berkutik lagi. Tapi aku masih kecewa dengan sikapnya padaku. Aku akan mengujinya dengan pergi keluar kota.
"Kalau begitu aku pulang dulu". Kataku pada Vidi.
__ADS_1
"Apapun yang akan kau lakukan, jangan sampai menyesal".
Sebuah anggukan membuat Vidi tersenyum. "You can do it". itu kata yang dilontarkan Vidi saat aku sudah berjalan keluar cafe.
💝 💝 💝
Aku menatap kearah kota dari atap apartemen. Banyak kenangan yang sudah aku buat disini. Perceraianku dengan Aqil sudah berjalan mulus. Aqil benar-benar melepaskan aku. Walaupun begitu, aku tetap menganggap Papa dan Mama orang tuaku.
"Semuanya sudah siap". Vidi memberikan paspor dan beberapa surat lain.
"Trimakasih Paman".
"Kau harus tetap mengabariku". Vidi mengusap kepalaku. "Bagaimanapun aku adalah paman kandungmu".
"Aku tahu, aku akan berangkat sekarang". Aku memeluk pelan Vidi. "Bagaimana dengan pekerjaanku disana?".
"Kau akan bekerja di wedding organizer milik Mila, pacarku".
Aku melepaskan pelukan itu. "Sekali lagi trimakasih".
"Kau memang harus berterima kasih".
Aku berpisah dengan Vidi di atap apartemen. Semua koper dan barangku sudah dibawa Giel terlebih dahulu. Aku mengambil tas kecil untuk ponselku.
"Jangan katakan pada siapapun tentang keberadaanku". teriakku pada Vidi.
"Siap".
💝 💝 💝
Malam ini aku sampai diapartemenku yang sederhana. Aku kira Vidi akan memberikan aku sebuah kos atau sejenisnya tapi malah apartemen yang aku dapat. Disini, aku akan membuka lembaran baruku.
"Jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku". kata penjaga apartemen itu.
"Tentu saja. Trimakasih".
Penjaga itu kembali ke posnya. Aku sengaja tidak membongkar koperku karna lebih baik malam ini aku istirahat.
💝 💝 💝
Tamat season 1
__ADS_1