Bertahan

Bertahan
Part 21


__ADS_3

Hari ini aku sudah berada dirumah sakit. Aku dikabari jika Aqil masuk rumah sakit karna kecelakaan.


"Ruangan atas nama Aqil mbak?". tanpa basa-basi aku bertanya pada seorang suster.


"Diruang nomor 54 VIP".


"Terimakasih sus". Aku kembali berlari mencari ruangan itu.


Setelah hampir lima menit mencari aku melihat Mama yang baru saja keluar dari ruangan.


"Mama. Gimana keadaan Aqil?".


Mama tersenyum dan memelukku. "Aqil sudah melewati masa kritis kok. Kamu yang tenang ya".


"Sekarang Aqil dimana Ma?".


"Dia di dalam".


Aku masuk keruangan itu. Aqil terbaring namun sudah sadar.


"Gimana keadaan kamu?". Aku duduk disamping Aqil.


"Udah lumayan kok". dengan suara lemah.


Mendengar suara Aqil membuat aku sakit dalam hati. Suara yang biasanya tegas kini terdengar sangat lemah.


"Kenapa bisa terjadi?". tanyaku pada Aqil. Canggung rasanya karna aku dan Aqil memang tidak biasa bicara berdua seperti ini.


Aqil mulai menceritakan semuanya. Aku hanya diam sampai akhirnya Aqil memegang tanganku.


"Kamu jangan marah sama Mei".


"Buat apa aku marah denganya. Aku hanya perduli padamu". Aku mengupas sebuah apel dan menyuapi Aqil.


"Aku tahu kamu sangat mencintai Mei. Tapi, kamu juga harus menjaga dirimu".


"Apa kau benar mencintaiku?". tanya Aqil lagi. Dia menahan tanganku untuk tidak menyuapinya lagi.


"Aku mencintaimu. Kamu tahu itu, tapi kamu masih tetap tidak percaya denganku". Apel dan pisau itu kembali aku letakan diatas meja dekat tempat tidur "Apa gunanya cinta jika tidak ada rasa percaya".


Aku beranjak dari dudukku dan akan mengambil minum untuk Aqil. Namun Aqil menahanku dan memelukku dari belakang.


"Kau marah denganku".


"Aku tidak marah. Hanya kecewa".


Aqil mengeratkan pelukanya padaku. Apa arti pelukan ini. Apa karna Mei tidak ada disini hingga dia memperlakukan aku seperti ini.


"Kau memang istriku. Selalu jujur denganku".


Aku melepaskan pelukan Aqil. Dia menatap tajam padaku. Aku juga menatapnya.


"Aku akan pulang jika kau sudah sembuh". kataku pelan dengan senyuman.


"Aku tahu itu". Kembali aku melihat senyuman Aqil yang menenangkan.


💝 💝 💝


Setelah berpamitan dengan Mama aku pergi untuk menemui Gama. Aku harus profesional untuk pekerjaanku. Gama mungkin akan tetap membalas dendam namun aku, aku akan tetap dengan pendirianku.


"Kamu hati-hati ya sayang" kata Mama.


"Iya Ma".

__ADS_1


Sampai dilantai bawah aku bertemu dengan Mei. Dia terlihat sangat tenang padahal tahu jika Aqil kecelakaan karnanya.


"Apa ini yang disebut istri idaman?" kataku pada Mei.


Mei menatap tajam dan langsung menghampiriku.


"Memangnya kenapa?. Aqil cinta mati padaku, pantas jika dia memberikan nyawanya". Senyuman Mei terlihat sangat mengerikan.


"Apa kau benar-benar mencintai Aqil?" aku kembali menatap Mei. "Atau hartanya?".


Mei mengangkat tanganya akan menamparku. Aku hanya tersenyum sampai seorang perawat datang menghampiri kami.


"Maaf jangan buat keributan. Ini rumah sakit". Perawat itu langsung pergi begitu saja setelah memperingati kami.


"Tampar saja jika kau mau. Tapi kamu harus ingat. Aku akan merebut cinta Aqil darimu". Aku melangkahkan kakiku untuk pergi dari sana.


Sebenarnya aku tidak ingin membuat masalah dengan Mei karna akan memicu masalah dengan Gama. Tapi, aku juga tidak ingin suamiku tergoda dengan wanita yang hanya memanfaatkan dirinya. Cepat atau lambat aku akan membuat Mei mengaku tentang dirinya.


💝 💝 💝


"Maaf saya terlambat." Aku melihat Gama dan bawahanya sudah menungguku.


"Dari mana saja?". tanya Gama.


"Hal pribadi. Mari kita mulai saj untuk membahas dekorasi yang diinginkan" Aku tidak ingin Gama membahas hal ini lagi.


Ternyata mereka sudah menentukan temanya. Aku hanya tinggal menjalankan semua yanga ada didalam amplop itu.


"Aku mau acara ini jangan sampai gagal. Kalian tahu konsekuensinya bukan".


"Baik Pak". jawab kami serentak.


"Kita tutup rapat hari ini".


"Aku sangat merindukanmu". Gama tiba-tiba saja memeluk diriku dari belakang.


Aku langsung melepaskanya dan mengambil barang-barangku. "Jangan lancang kamu".


"Jangan bohongi dirimu sendiri Al. Kamu butuh kehangatan kan?".


"Bukan urusanmu. Aku disini untuk bekerja bukan untuk dirimu". Aku keluar dari ruang pertemuan itu. Bagaimana aku harus menghadapi Gama. Dia tetap sama seperti dulu.


"Nia?. Dimana dia?". Aku baru ingat jika Nia tidak ada disamping Gama.


Bukanya dia mengatakan akan pergi kel luar negri bersama Gama. Lalu kenapa Gama sendiri. Aku harus bertanya padanya.


"Gama. Dimana Nia?". tanyaku pada Gama. Dia masih di ruang pertemuan.


"Bukan urusanmu dia dimana".


"Aku ingin bertemu denganya". Aku menghampiri Gama.


"Kamu tahu dia hanya boneka. Apa gunanya boneka kamu juga tahu pastinya".


"Jangan bilang kalau Nia kamu buang".


Gama mendekat padaku dan membelai wajahku. "Kamu sudah tahu jawabanya".


Aku mendorong Gama dengan keras. Dia menabrak kursi. Kali ini aku menganggap Gama bukan manusia.


"Al. Aku tidak ingin ada yang menghalangi cinta kita" Gama mencoba berdiri.


"Jangan pernah mengatakan cinta. Mulutmu tidak pantas mengatakanya". dengan sedikit berlari aku keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Nia. Aku hanya ingin menemukan dia dan membawanya kembali kesini. Aku akan mengatakanya pada Aqil. Mungkin dia bisa membantuku menemukan Nia.


💝 💝 💝


Giel terlihat buru-buru saat menghampiriku. Dia memberikan kotak kali ini wajahnya terlihat takut.


"Mbak. Ini paketan itu lagi".


"Giel. Kamu tidak terlihat sehat?." Aku mengambil kotak itu dari tangan Giel. Dia menatapku dengan cemas.


"Aku sehat mbak. Hanya..." Giel menggantung kata-katanya. "Hanya saja aku takut mbak kenapa-napa".


"Tenang saja Giel. Aku nggak apa-apa". Aaku tersenyum pada Giel. "Giel, kamu bisa pulang sekarang. Aku mau kerumah sakit lagi".


"Baik mbak".


Paket itu terasa berat kali ini. Aku langsung membawanya ke kamarku. Sebuah tas tangan dengan kartu nama. Disana juga ada sebuah surat.


*Temui aku. Alamatnya sudah ada di dalam tas tangan itu.


Nia*.


Kali ini aku sangat terkejut. Nia. Bagaimana mungkin dia mengirimi aku surat. Gama sudah membuangnya.


💝 💝 💝


"Kamu mau membantuku kan?". kataku perlahan pada Aqil.


Aqil mengusap kepalaku dan tersenyum. "Tentu saja aku harus membantumu. Nia juga orang yang paling aku percaya".


Aku memang sudah menceritakan semuanya pada Aqil. Rasanya tidak mungkin jika aku harus membohongi diriku sendiri. Aqil suamiku dan aku harus jujur padanya tentang apapun.


"Bagaimana kalau kamu menemui orang yang mengirimu paket dulu". kata Aqil.


"Aku takut jika orang itu hanya menjebakku".


"Kamu ingin tahu dimana Nia. Mungkin ini benar dia".


"Baiklah. Aku akan bersiap".


Aqil meminta sopirnya untuk mengantarku sampi tujuan. Jika boleh memilih aku hanya ingin disamping Aqil.


"Aku kira kau tidak akan mengatakan apapun pada Aqil. Namun kamu menceritakan segalanya". Mei berdiri didekat pintu keluar. Mungkin dia sengaja menungguku.


"Apa salahnya jika aku mengatakan pada suami sendiri".


"Aqil sampai saat ini hanya percaya jika aku Lili. Padahal kamu sudah jujur padanya". Mei mendekat padaku. "Apa kali ini dia percaya?".


"Semua terserah Aqil. Keburukan pasti akan terbongkar".


"Dan yang baik selalu ditindas". Mei tertawa cukup keras hingga beberapa orang melihat kearah kami.


"Apa kamu kira aku baik?".


Mei melebarkan matanya dan menatap tajam padaku. "Kamu sendiri tidak tahu apa musuhmu baik atau tidak" tambahku lagi.


"Kau. Apa kau mengancamku?".


"Aku tidak mengancam. Permisi, aku punya banyak urusan".


Mobil Aqil sudah menungguku aku juga tidak ingin membuang waktu dengan Mei. Bisa-bisa aku darah tinggi jika terus bersama dengan Mei.


💝 💝 💝

__ADS_1


to be continued


__ADS_2